World Coconut Day 2026 Dibuka di Manado, Dorong Kesejahteraan Petani |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, MANADO — World Coconut Day (WCD) 2026 resmi dibuka di Hotel Courtyard by Marriott Manado, Sulawesi Utara, Kamis (8/10/2026). Forum internasional yang dihadiri sekitar 700 peserta dari 21 negara...
REPUBLIKA.CO.ID, MANADO — World Coconut Day (WCD) 2026 resmi dibuka di Hotel Courtyard by Marriott Manado, Sulawesi Utara, Kamis (8/10/2026). Forum internasional yang dihadiri sekitar 700 peserta dari 21 negara anggota International Coconut Community (ICC) itu membahas penguatan industri kelapa, hilirisasi, transfer teknologi, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Pembukaan acara ditandai dengan penabuhan kolintang oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, dan Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw.
Dalam sambutannya, Zulkifli menyoroti pengelolaan perkebunan kelapa di Indonesia yang dinilai masih minim perawatan, pemupukan, dan peremajaan tanaman.
“Selama ini kelapa itu tanaman yang dibiarkan tumbuh sendiri, lalu saat berbuah tinggal dipetik tanpa ada perawatan, pemupukan, atau peremajaan benih yang terencana,” kata Zulkifli.
Menurut dia, pengelolaan perkebunan kelapa perlu diperbaiki agar potensi ekonomi komoditas tersebut dapat memberikan manfaat lebih besar bagi petani. Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa di dalam negeri.
Kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari air kelapa, sabut, tempurung, hingga virgin coconut oil (VCO). Komoditas ini juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF).
Pemerintah mendorong penguatan sektor kelapa melalui peremajaan tanaman, pemanfaatan teknologi budidaya, peningkatan kapasitas pengolahan pascapanen, dan pengembangan kemitraan antara petani dengan pelaku industri.
Dalam rilis penyelenggara, upaya tersebut melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dan ICC.
Program yang direncanakan mencakup penggunaan benih unggul, pendampingan budidaya, penguatan koperasi petani, serta modernisasi peralatan pengolahan hasil perkebunan. Pengembangan teknologi pengolahan tanpa limbah (zero waste) juga menjadi salah satu agenda untuk meningkatkan nilai ekonomi seluruh bagian buah kelapa.
Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw mengatakan pengembangan industri kelapa perlu memperhatikan kesejahteraan petani kecil yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi komoditas tersebut.
“Kelapa bukan sekadar tanaman komoditas komersial, melainkan Tree of Life yang menopang ketahanan pangan, energi, dan penghidupan jutaan keluarga di negara-negara berkembang. Melalui WCD 2026, kami mempertemukan inovator industri dengan kelompok tani untuk membangun kemitraan yang adil dan inklusif,” ujar Jelfina.
Jelfina merupakan direktur jenderal ICC pertama asal Indonesia sejak organisasi tersebut didirikan pada 1969, sebagaimana disebutkan dalam rilis penyelenggara.
Indonesia merupakan salah satu negara pendiri ICC. Dalam industri kelapa dunia, Indonesia juga disebut sebagai negara penghasil kelapa terbesar kedua.
Pemilihan Sulawesi Utara sebagai tuan rumah WCD 2026 berkaitan dengan peran daerah tersebut sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa rakyat di Indonesia.
Selain forum diskusi internasional dan pameran produk olahan kelapa, kegiatan yang berlangsung hingga 10 Oktober 2026 itu mencakup lokakarya peningkatan kapasitas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengenalan teknologi kultur jaringan untuk perbanyakan bibit unggul, serta pelatihan pembuatan nata de coco dan es krim berbahan kelapa.
Penyelenggara juga mengagendakan pertemuan bisnis antara produsen daerah dan pembeli internasional, serta kunjungan teknis ke fasilitas pengolahan kelapa terpadu PT Kether Bio Coco di Minahasa Utara.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat hubungan antara petani, pelaku industri, serta pembeli internasional.
Melalui WCD 2026, penguatan industri kelapa diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing produk olahan Indonesia di pasar global, tetapi juga memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani di tingkat hulu.