pickleballvnz.com

Warga Buka Suara soal Pabrik PT Toba Pulp Lestari Usai Ditetapkan Jadi Tersangka Kejagung

Ayu Rachmaningtyas | 15 September 2026, 01:29 WIBWarga mengeluhkan keberadaan pabrik PT Toba Pulp Lestari di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. - Foto: Dok. WargaAKURAT.CO Warga yang bermukim di sekitar kawa...

Ayu Rachmaningtyas

| 15 September 2026, 01:29 WIB

Warga Buka Suara soal Pabrik PT Toba Pulp Lestari Usai Ditetapkan Jadi Tersangka Kejagung

Warga mengeluhkan keberadaan pabrik PT Toba Pulp Lestari di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. - Foto: Dok. Warga

AKURAT.CO Warga yang bermukim di sekitar kawasan konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL), Sumatera Utara, mengeluhkan dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Keluhan tersebut meliputi kekeringan, dugaan pencemaran, hingga konflik tanah adat.

Salah satu warga Kabupaten Simalungun, Veronika Siallagan (42), mengaku pernah dilarang berziarah ke makam leluhurnya di Ute Anggir. Menurutnya, larangan tersebut memicu bentrokan antara warga dan pihak keamanan.

"Waktu di simpang mau ke kuburan opung kami, kami dilarang mau berziarah ke Ute Anggir, yaitu makam leluhur kami. Jadi di situ terjadi bentrok. Mereka melibas, memukul masyarakat yang mau berziarah ke makam opung kami," ujarnya.

Menurut Veronika, kakeknya pernah dibawa ke rumah sakit setelah mengalami luka di kepala dan mendapat lima jahitan. Peristiwa tersebut menunjukkan sulitnya masyarakat mengakses makam leluhur mereka.

Baca Juga: Kejagung Didesak Bongkar Dugaan Persekongkolan Pajak di PT Toba Pulp Lestari

Keluhan mengenai kondisi lingkungan disampaikan Pendeta Jurito Sirait. Ia menyebut sejumlah mata air dan sungai di Pulau Samosir mengalami kekeringan.

Pendeta Jurito menduga perubahan hutan alam menjadi perkebunan eukaliptus turut mempengaruhi ketersediaan air di wilayah tersebut.

"Ratusan mata air dan sungai yang ada di Pulau Samosir airnya hilang mengering, dan banyak desa yang mengalami kekeringan," kata Pendeta Jurito, dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Petani di kawasan Porsea, Akim Manurung, juga mengaku mengalami dampak aktivitas pabrik Toba Pulp Lestari. Ia menyebut banyak ikan di kolamnya mati dan bau asap pabrik mengganggu pernapasan.

Menurut Akim, kondisi lingkungan mulai membaik setelah izin tertentu dicabut.