pickleballvnz.com

Wabah Ebola capai 2.400 kasus, CDC Afrika desak tindakan segera - ANTARA News Gorontalo

Kigali, Rwanda (ANTARA) - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Selasa (21/7), mendesak penanganan segera wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan memperingatkan wabah itu dapat me...

Kigali, Rwanda (ANTARA) - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Selasa (21/7), mendesak penanganan segera wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan memperingatkan wabah itu dapat menjadi yang terburuk di dunia jika tidak segera dikendalikan.

Enam puluh lima hari setelah wabah saat ini, jumlah kasus yang dikonfirmasi mencapai 2.423 pada Selasa, termasuk 967 kematian, sejak wabah dinyatakan pada 15 Mei, menurut pembaruan Kementerian Kesehatan RD Kongo.

Tingkat kematian kasus mencapai 39,9 persen, sementara tingkat pelacakan kontak adalah 81,1 persen.

"Wabah Ebola meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Kita harus bertindak sekarang. Jika kita tidak menghentikannya hari ini, ini akan menjadi wabah terburuk yang pernah tercatat di dunia," kata Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC, dalam sebuah unggahan di X.

"Ini bukan waktu untuk menunda. Kita harus memobilisasi setiap sumber daya yang tersedia, memperkuat respons di lapangan dan menghentikan wabah ini sebelum lebih banyak nyawa hilang," katanya lagi.

Virus tersebut telah memengaruhi lima provinsi, termasuk Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tshopo.

Ituri tetap menjadi pusat epidemi yang disebabkan oleh strain virus Bundibugyo, dengan penularan berkelanjutan.

Kaseya mengatakan perlu diingat bahwa di balik setiap statistik terdapat seseorang, sebuah keluarga, dan sebuah komunitas.

Jumlah zona kesehatan yang terdampak meningkat dari 36 menjadi 42 dalam seminggu terakhir, menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO.

Sumber: Anadolu

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wabah Ebola capai 2.400 kasus, CDC Afrika desak tindakan segera

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.