Viral Istri Murka Suami Dipanggil ‘Mas’ Rekan Kerja Wanita, Ini Kata Psikolog
Jakarta - Sebuah utas yang memicu perdebatan panas mengenai hubungan kerja dan interaksi dengan lawan jenis ramai dibicarakan setelah menyeret nama seorang atasan dan karyawan baru di sebuah perusahaan. D...
Jakarta -
Sebuah utas yang memicu perdebatan panas mengenai hubungan kerja dan interaksi dengan lawan jenis ramai dibicarakan setelah menyeret nama seorang atasan dan karyawan baru di sebuah perusahaan. Drama ini mencuat usai sebuah akun menceritakan ketidaknyamanannya terhadap interaksi pasangannya di tempat kerja.
Berawal dari akun Thread @kkhhwk yang menyinggung tentang batasan. Dia tampak emosi saat mengetahui ada rekan kerja suaminya yang memanggil pria tersebut dengan panggilan 'mas.'
"Intinya jaga batasan, dimanapun. Ditempat kerja atau dimanapun. Buat gw chat ini tetep ga pantes 1. Memanggil nama sendiri (yg mana itu misalnya panggilan rumah) ke atasan lu dikantor.
2. Memanggil atasan selain pak/bu di kantor itu gak dibenarkan mau kantor lu tipe secincai apapun kek balik ke manner aja sih, lu pikir aja, yg lu panggil mas, ko, itu suami orang lain loh. Dari sini cukup tau kalo ternyata netizen itu standar ganda atau emang aslinya dua orang ✌️," tulis akun Thread @kkhhwk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut memancing respons dari rekan kerja sejawat yang merasa prihatin atas tuduhan mendadak terhadap sosok yang bersangkutan. Melalui akun Threads @rldia.prb, salah satu rekan kerja mengungkapkan rasa ibanya terhadap sosok supervisor berinisial P beserta karyawan baru bernama Putri yang terseret dalam utas viral tersebut.
"Gue baca thread ini pake 1st acc gue terus gatel banget pgn komen tapi tar pada tau gue kerja di mana. Kasian soalnya sama si bang P (SPV yang dibicarakan), dia orangnya baik, seru, helpful. Bukan tipe atasan songong ya. Dan si Putri anak baru sejauh ini dia anaknya sopan, baik banget, santun, menghargai orang lain, enggak pernah aneh-aneh. Jahat banget ya ampun... kasian banget P punya istri kek lu... Meri, Meri, jahat sumpah. Putri udah tau utas ini, kasian loh dia yatim," tulis akun @rldia.prb dalam aksinya membela kedua rekannya.
Pemilik akun tersebut juga menegaskan bahwa meski tak berniat mengumbar identitas aslinya di media sosial, dampak dari kekecewaan publik kemungkinan besar tetap akan berujung pada sanksi sosial bagi pihak yang memulai kegaduhan.
"Dengan tulus saya mohon maaf karena sudah membuat gaduh. Saya akui mungkin ada persoalan di diri saya dan relasi saya dgn suami yg seharusnya sy selesaikan secara pribadi tanpa melibatkan atau mengaitkannya dgn pihak lain. Saya akan menjadikan kesalahan ini sebagai pelajaran yang sangat berharga agar saya dapat bersikap lebih dewasa dan lebih hati2 dalam bertindak maupun menyampaikan sesuatu di kemudian hari di sosial media. Tuhan memberkati kita semua 🙏," ujar akun @kkhhwk.
Dampak Psikologis: Akumulasi Masalah hingga Bijak Bermedia Sosial
Menanggapi fenomena ledakan emosi di media sosial akibat konflik rumah tangga dan budaya kerja, Psikolog Klinis Dewasa Alfath Hanifah Megawati, M.Psi., memberikan analisisnya. Menurut sosok yang akrab disapa Ega ini, setiap perusahaan memiliki budaya dan norma interaksi yang berbeda, begitu pula dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Budaya di dalam setiap perusahaan beda-beda. Budaya ini nantinya akan memengaruhi bagaimana interaksi pegawainya satu sama lain. Tapi, setiap pernikahan pun mempunyai budaya yang dibentuk dari kesepakatan satu sama lain pasangannya," tutur Ega kepada Wolipop.
Ega menekankan bahwa batasan seperti penggunaan kata panggil untuk lawan jenis harus dibicarakan secara terbuka antar-pasangan jika hal tersebut memicu ketidaknyamanan. Ia memprediksi, aksi mengumbar amarah di media sosial seperti pada utas Threads ini biasanya bukan disebabkan oleh satu kejadian tunggal, melainkan dampak akumulasi konflik terpendam.
"Reaksi di medsos biasanya tidak dipicu oleh satu kejadian tidak nyaman dalam pernikahan. Seringnya ini adalah reaksi akibat akumulasi beberapa masalah yang mungkin masalah-masalah kecil... Ketika tidak terselesaikan dengan baik dan menumpuk, ketika ada masalah lainnya, individu tidak bisa menahan lagi. Ledakan emosinya bisa lebih besar dari yang seharusnya," jelasnya.
Lebih lanjut, Ega mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan platform digital sebagai sarana pelampiasan masalah pribadi. Selain berisiko menimbulkan masalah baru dan merenggangkan relasi dengan pasangan, respons publik yang kontra justru berpotensi memperburuk kondisi mental seseorang.
"Kasus Threads ini mengingatkan bahwa medsos bukan wadah jurnaling atau diary kita. Apa yang kita upload bisa memunculkan pro dan kontra. Kita perlu bijak menggunakan medsos, apalagi di kasus-kasus privasi kita," pukas Ega.
(gaf/eny)