Veda Ega dan kurva musim pertama
Lima seri tersisa musim ini akan menjadi bahan paling jujur bagi Honda dan Veda untuk menentukan arah 2027. Jika ritme dari Austria, Motegi, dan Mandalika bertahan, keputusan apa pun akan diambil dari posisi ya...
Lima seri tersisa musim ini akan menjadi bahan paling jujur bagi Honda dan Veda untuk menentukan arah 2027. Jika ritme dari Austria, Motegi, dan Mandalika bertahan, keputusan apa pun akan diambil dari posisi yang kuat.
Jakarta (ANTARA) - Veda Ega Pratama membentangkan bendera Merah Putih di atas motornya setelah melewati garis finis Pertamina Mandalika International Circuit, Minggu (11/10). Ia tidak naik podium. Tapi rasanya sungguh berbeda melihat remaja Indonesia begitu kompetitif di ajang balap kelas dunia di rumah sendiri.
Veda, pembalap Honda Team Asia berusia 17 tahun itu start dari posisi ketujuh dan finis keenam pada Grand Prix Indonesia, seri ke-17 Moto3 2026. Sepuluh poin tambahan membawanya ke peringkat ketujuh klasemen sementara dengan 115 poin. Ia menjadi satu-satunya pembalap bermotor Honda di sepuluh besar.
Hasil di Lombok juga punya arti teknis. Finis keenam dari grid ketujuh adalah balapan yang rapi: tanpa kehilangan posisi besar, tanpa insiden, dan dengan poin yang dibawa pulang. Sebulan sebelumnya, balapan seperti itu justru sulit ia dapatkan.
Baca juga: Veda Pratama pecahkan rekor poin debut Moto3
Lampaui target
Musim debut Veda berjalan lebih cepat dari perkiraannya sendiri.
Di Buriram, 1 Maret, ia start kelima, sempat bertahan di posisi ketiga beberapa putaran, lalu finis kelima. Tiga pekan kemudian di Goiania, Brasil, ia finis ketiga dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix.
Setelah finis keempat di Le Mans pada Mei, Veda duduk di peringkat kelima klasemen. Saat itu ia satu-satunya pembalap Asia Tenggara di lima besar.
Target awalnya musim ini hanya mengumpulkan poin sebanyak mungkin. Lima seri pertama melampaui target itu, sekaligus membentuk ekspektasi publik Indonesia yang jauh lebih tinggi. Menonton Veda di Moto3 pun menjadi hari yang selalu dinanti pecinta balap di Indonesia, sebagaimana sejak dulu masyarakatnya keranjingan Valentino Rossi.
Paruh pertama musim juga memperlihatkan pola yang tetap dalam cara Veda membalap. Di Jerez ia memulai dari posisi ke-17 dan menyalip sebelas pembalap untuk finis keenam. Di Sachsenring ia naik lima tingkat dari grid ke-13. Kecepatan balapnya konsisten lebih baik daripada kecepatan satu putarannya di kualifikasi. Aksi-aksi Veda seperti itu yang selalu dinanti.
Namun, pada pola yang sama itu terdapat sisi lain. Saat berada di rombongan depan, Veda kerap kehilangan posisi. Di Austin ia terjatuh di tikungan 11 ketika mengejar grup terdepan. Di Assen ia sempat memimpin balapan sebelum melorot dan jatuh di tikungan empat.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.