Urban Farming di Bawah Naungan Becakayu: Beton di Atas, Hijau di Bawah
Jakarta, CNN Indonesia -- Beton Tol Becakayu di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, membentang di atas kepala Fahturozih, Senin (7/9) siang.Siang itu memang terik, apalagi sudah berbulan-bulan tidak hujan. Namu...
Jakarta, CNN Indonesia --
Beton Tol Becakayu di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, membentang di atas kepala Fahturozih, Senin (7/9) siang.
Siang itu memang terik, apalagi sudah berbulan-bulan tidak hujan. Namun, di bawah naungan bentangan beton jalan tol layang tersebut, Fahturozih mondar-mandir memeriksa berbagai tanaman yang tumbuh dan dirawatnya di sana.
Di antara tiang-tiang penyangga beton, bedengan tanah merah tersusun rapi, dipenuhi tanaman sayuran segar. Di sudut lain, pisang hingga tomat mulai berbuah matang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanaman-tanaman petani kota itu tumbuh di lahan sekitar 900 meter persegi di RW 7, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Terletak tepat di bawah tol, kebun tani kota alias urban farming ini diapit alur aliran sungai Kalimalang dan Jalan Raya Kalimalang yang menghubungkan Jakarta dan Kota Bekasi, Jawa Barat.
Pilihan Redaksi
- Jurus Pemprov Jakarta Hadapi Perubahan Iklim: RTH hingga Pilah Sampah
- Pramono Sebut Kolaborasi Jadi Kunci Atasi Persoalan Sampah di Jakarta
- Gerakan Pilah Sampah Kurangi Sampah di Bantargebang 500 Ton per Hari
Fahturozih adalah Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Jakarta atau kerap dikenal dengan sebutan pasukan oranye karena merujuk pada seragamnya.
Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di sela kegiatannya, Fathurozih mengaku telah mengelola kebun itu sejak 2023 lalu. Ia bercerita sebelum dijadikan kebun, lahan tersebut hanya tanah yang ditumbuhi rumput dan tanaman liar.
Awal mula urban farming Becakayu
Fathurozih bercerita, urban farming di lokasi itu dimulai setelah pihak kecamatan meminta lahan kosong di bawah tol tersebut dimanfaatkan sebagai area pertanian.
Menurutnya, lahan yang digunakan bukan milik kelurahan atau kecamatan. Lahan itu milik pihak yang berkaitan dengan jalan tol. Pihak kelurahan kemudian diizinkan untuk berkebun di bawah jalan tol itu.
"2023 awalnya lahan enggak jelas gitu. Dibantu teman-teman PPSU, garap, bersihin rumput, pohon liar, pas udah rapi, bersih saya yang ngolah dari pupuk, media tanam saya yang olah," kata Fahturozih.
"Cuma dikasih kelola, diolah aja buat pengelola urban farming. Daripada terbengkalai. Banyak rumput liar, pohon liar kita tanemin," sambungnya.
Ia mengatakan saat proses bercocok tanam akan dimulai, lahan yang digunakan itu didominasi tanah merah yang tidak subur. Ia harus mencampurnya dengan pupuk organik hingga kotoran kambing agar bisa ditanami.
Berbagai tanaman kemudian ditanam. Ada pakcoy, kangkung, melon, tomat, kubis atau kol, kembang kol hingga pisang. Bibit tanaman berasal dari kelurahan dan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP).
Menurutnya, salah satu kendala menanam di bawah jalan tol adalah minimnya sinar matahari. Oleh karena itu, tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari, sengaja ditanam di pinggir.
"Kalau buat menanam kangkung kita enggak ada kendala. Kecuali kayak cabe, kayak tomat. Makanya kita menanam tomatnya kan agak di pinggiran tuh biar kena sinar matahari," ujarnya.
PPSU yang mengolah kebun sayur di bawah Tol Becakayu, Jakarta Timur (CNNIndonesia/Yogi Anugrah)
Hasil panen
Ia bercerita salah satu tanaman yang rutin dipanen adalah kangkung. Masa tanam hingga panennya sekitar 27-30 hari. Pada panen terakhir, sekitar 15 kilogram kangkung berhasil dipetik.
Biasanya, hasil panen kebun tersebut sebagian dimanfaatkan untuk warga dan sebagian lainnya dijual. Kebun tersebut juga bekerja sama dengan PKK Kelurahan.
"Hasilnya dikasih ke PKK, dia yang pasarin ke warga-warga, kalau ada event seperti bayi stunting, kadang kita kasih," katanya.
Hasil tanaman terkadang juga dibawa ke Pasar Tumbuh yang digelar di lingkungan kantor wali kota. Pasar Tumbuh biasanya diadakan untuk membantu masyarakat memasarkan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan.
Hama kepala hitam
Menurut Fahturozih, hama menjadi salah satu persoalan yang paling sering dihadapi. Ia lantas menyebut ada satu jenis hama yang lebih sulit diatasi daripada serangga.
"Yang lebih berbahaya itu hama berkepala hitam," kata dia.
Sambil berkelakar, ia mengatakan hama berkepala hitam adalah orang yang mencuri hasil kebun.
Ia bercerita beberapa waktu lalu, dua bedeng kangkung pernah disiapkan untuk dipanen pihak kelurahan. Namun, keesokan paginya, kedua bedeng tersebut sudah habis dipanen orang. Kejadian serupa juga terjadi pada tanaman pisang. Buah di enam pohon pisang hilang sebelum dipanen.
"Kemarin kembang kol waktu itu 2 bulan lalu, 4 bedengan hilang semua," katanya.
Pihaknya mencurigai hasil kebun itu dicuri pada malam hari. Kebun tersebut memang tidak dijaga pada malam hari.
"Kita enggak pernah jagain. Kemungkinan ya semuanya sih hampir rata pada kehilangan semua kalau di sini. Kendalanya itu, pencurian," katanya.
Berkebun tanaman hias
Kebun horikultura itu bukan satu-satunya area yang dikelola PPSU di bawah Tol Becakayu. Di RW 13, Kelurahan Cipinang Muara, ruang di bawah jalan tol juga dimanfaatkan. Namun, berbeda dengan kebun di Pondok Bambu yang banyak ditanami tanaman pangan, area ini lebih banyak ditanami tanaman hias.
Revi, petugas PPSU yang bertanggung jawab di lokasi tersebut, setiap hari merawat berbagai tanaman hias yang tumbuh di lahan sekitar 500 meter persegi.
Di area itu, ada philodendron kuning, tanaman adam hawa hingga ekor bajing. Tanaman-tanaman itu ditata untuk mempercantik area yang berada di bawah jalan layang.
"Ini sudah lama, sejak 2021 kalau enggak salah, 2021," kata Revi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di sela kegiatan berkebunnya.
Sebelum ditanami, kawasan itu hanya berupa tanah merah kosong. Ia menyatakan gagasan penghijauan di lokasi tersebut datang dari wali kota. Lahan yang digunakan juga milik pihak yang berkaitan dengan jalan tol.
Minimnya sinar matahari tidak menjadi kendala dalam menanam dan merawat tanaman hias. Namun, saat mencoba menanam tanaman pangan, keterbatasan cahaya mulai terasa. Ia pernah mencoba menanam sejumlah tanaman pangan seperti kangkung, bayam hingga sawi. Namun, hasilnya tidak memuaskan karena kurang mendapat sinar matahari.
"Belum pernah nanam hasilnya bagus, biasa aja sih, tapi pernah kita kirim ke walikota untuk acara pasar tumbuh. Ngirim sayuran bayam, kangkung, sawi, pakcoy," katanya.
Dalam waktu dekat, ia mengaku akan mencoba kembali menanam tanaman pangan. "Soalnya kemarin sempat stop karena ya itu susah mataharinya, entar masuk sekitar bulan Desember kalau enggak Januari, itu bagus cahanya, bisa main kita 4 bulan bisa menanam," ujarnya.
(yoa/kid)