Unsoed-AMKI dorong pra-koperasi batik Purbalingga untuk memperkuat manajemen
Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bersama Asosiasi Manajer Koperasi Indonesia (AMKI) mendorong rintisan pra-koperasi batik di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, ANTARA News jateng peristiwa ...
Unsoed-AMKI dorong pra-koperasi batik Purbalingga untuk memperkuat manajemen
Sabtu, 5 September 2026 17:11 WIB
Ketua Badan Pembina AMKI Sularto Aras Hamka (dua dari kanan) dan Ketua PKM Berbasis Riset LPPM Unsoed Purwokerto Siti Zulaikha Wulandari (kanan) dalam kegiatan Penguatan Rintisan Pra-Koperasi Batik Purbalingga Melalui Pendampingan Manajemen dan Digital Readiness di Pusat Penjualan Batik Khas Purbalingga "Wastralingga", Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/Sumarwoto
Purbalingga (ANTARA) - Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bersama Asosiasi Manajer Koperasi Indonesia (AMKI) mendorong rintisan pra-koperasi batik di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, memperkuat manajemen sebagai persiapan membentuk koperasi yang resmi dan berbadan hukum.
Ketua Badan Pembina AMKI Sularto Aras Hamka ditemui setelah kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed Purwokerto di Pusat Penjualan Batik Khas Purbalingga "Wastralingga", Purbalingga, Sabtu, mengatakan penguatan manajemen penting untuk membangun kepercayaan diri pengurus dalam mengembangkan kelembagaan dan kegiatan usaha.
"Kita suka kelamaan di pra-koperasi. Jadi tidak ada kepercayaan diri untuk membentuk manajemen. Padahal, manajemen itu yang pertama memberikan kepercayaan diri bahwa itu bisa," katanya yang menjadi narasumber kegiatan Penguatan Rintisan Pra-Koperasi Batik Purbalingga Melalui Pendampingan Manajemen dan Digital Readiness yang diselenggarakan Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Riset LPPM Unsoed itu.
Ia mengatakan pembentukan manajemen perlu disesuaikan dengan situasi, kondisi, serta sumber daya yang dimiliki rintisan tersebut.
Menurut dia, pendampingan dari praktisi dapat membantu pengurus memahami praktik manajerial sekaligus membangun pola kerja yang memiliki semangat dan sistem.
Ia juga mendorong penguatan manajemen diikuti dengan upaya memperluas pasar produk batik Purbalingga.
Dengan demikian, kata dia, koperasi nantinya dapat menjadi wadah bagi para perajin untuk bersatu mencari solusi pemasaran.
"Yang paling penting kita ini bersatu, mencari jalan keluar untuk memasarkan produk," katanya.
Ia menilai batik Purbalingga dapat dikembangkan sebagai bagian dari warisan budaya daerah sehingga masyarakat memiliki kesadaran untuk mencintai dan menggunakan produk lokal.
Menurut dia, potensi pasar batik Purbalingga cukup luas, mulai dari institusi pemerintah, sekolah, komunitas hingga keluarga, tetapi belum sepenuhnya digarap.
Ia mendorong penggunaan batik Purbalingga dalam berbagai momentum, seperti acara keluarga, kondangan, Lebaran, dan kegiatan seremonial.
"Setiap keluarga itu harus punya batik Purbalingga. Momentum-momentumnya juga belum kita garap," kata Sularto.
Sementara itu, Ketua Tim PKM Berbasis Riset LPPM Unsoed Siti Zulaikha Wulandari mengatakan rintisan pra-koperasi tersebut merupakan wadah yang sedang dipersiapkan untuk menjadi koperasi batik Purbalingga.
Dia menegaskan rintisan tersebut belum berstatus sebagai koperasi resmi dan belum berbadan hukum, meskipun telah mulai menjalankan sejumlah aktivitas dan membangun kelembagaan yang mengarah pada koperasi.
"Sudah bergerak seperti koperasi, tetapi belum resmi. Harapannya dengan pendampingan ini ke depan bisa menjadi koperasi batik yang lebih formal dan berbadan hukum," katanya.
Menurut dia, rintisan tersebut berawal dari komunitas pembatik yang tergabung dalam Forum Pengrajin Batik Purbalingga yang saat ini terdapat sekitar 40 anggota, meskipun tidak seluruhnya aktif.
Dia mengatakan LPPM Unsoed telah mendampingi komunitas pembatik Purbalingga selama belasan tahun dan khusus tahun ini, pendampingan difokuskan pada penguatan manajemen serta kesiapan digital sebagai bagian dari persiapan menuju koperasi formal.
Menurut dia, pendampingan oleh Tim PKM yang beranggotakan Larisa Pradisti dan Ratno Purnomo juga mencakup keterampilan pemasaran digital agar pelaku usaha batik mampu memperluas pasar secara daring, termasuk melalui siaran langsung perdagangan elektronik (e-commerce) dari ruang pamer Wastralingga.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.