UNIDO harap pengembangan startup hijau pacu Indeks Inovasi Global RI
Hal ini membuka peluang bagi proyek percontohan mengenai bagaimana perusahaan rintisan dapat mencapai tahap di mana mereka bisa ditingkatkan skalanya dalam industri, baik di Indonesia maupun mungkin di luar neg...
Hal ini membuka peluang bagi proyek percontohan mengenai bagaimana perusahaan rintisan dapat mencapai tahap di mana mereka bisa ditingkatkan skalanya dalam industri, baik di Indonesia maupun mungkin di luar negeri
Jakarta (ANTARA) - Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) mengatakan pengembangan perusahaan rintisan (startup) di sektor industri hijau diharapkan mampu mendorong peningkatan peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global (Global Innovation Index).
“Menurut saya, ada peluang besar (dalam pengembangan perusahaan rintisan hijau) untuk melakukan perbaikan dalam hal ini (peningkatan peringkat Indonesia),” kata Chief Technical Advisor UNIDO Salil Dutt dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.
Adapun Indonesia tercatat menempati peringkat 55 dari 139 negara dalam Indeks Inovasi Global tahun 2025.
“Indonesia adalah negara anggota G20, jadi seharusnya kita berada di jajaran 20 besar, bukan? Namun, dalam Indeks Inovasi Global, Indonesia menempati peringkat ke-55 dari 139 negara,” kata Dutt.
“Jadi, menurut saya, ada peluang besar untuk melakukan perbaikan dalam hal ini. Saya ingat dalam beberapa tahun terakhir peringkat kita sempat naik dua tingkat, namun tampaknya masih berada di kisaran angka 50,” ujarnya menambahkan.
Perusahaan rintisan hijau, lanjut Dutt, sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini yang menuju ke arah keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Baca juga: Universitas Pertamina-GGINP gelar GreenLink, bawa inovasi kimia hijau
Salah satu langkah strategis yang tengah dilakukan melalui kerja sama antara para pemangku kepentingan di Indonesia adalah melalui inisiatif Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia.
“Hal ini membuka peluang bagi proyek percontohan mengenai bagaimana perusahaan rintisan dapat mencapai tahap di mana mereka bisa ditingkatkan skalanya dalam industri, baik di Indonesia maupun mungkin di luar negeri,” kata Ditt.
Ia mengatakan dukungan dan evaluasi yang cermat dari pemerintah, akademia, dan industri memegang peranan penting dalam pembangunan startup hijau.
“Saya yakin proyek ini akan berupaya menjembatani kesenjangan yang ada dan menyatukan berbagai pemangku kepentingan, tidak hanya demi pengembangan kimia hijau, tetapi juga demi kepentingan bersama bagi Indonesia, dengan harapan peringkat indeks inovasi kita akan meningkat di tahun-tahun mendatang,” imbuhnya.
Sementara itu, Universitas Pertamina melalui GGINP Indonesia menyelenggarakan “GreenLink: Greenovate Startup Accelerator 2026 Final & Demo Day”.
Adapun peraih juara pertama startup kimia hijau dalam ajang ini yaitu TARUNIRA (Palmyra Palm Sugar & Mocaf, Sustainable Food-Agriculture).
Sementara, SATUPLATFORM (Carbon & ESG Management Solutions) dan ORGANIC CULTURE (Transforming Fashion for Climate Action) masing-masing meraih gelar runner-up pertama dan kedua.
Baca juga: Kemenperin-UNIDO pacu pengembangan kawasan industri hijau lewat EIP
Baca juga: KLH-UNIDO bahas penguatan perlindungan lingkungan di kawasan industri
Baca juga: UNIDO: Kawasan industri IWIP strategis bagi industri nikel global
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.