pickleballvnz.com

Undisbursed Loan Bank Tembus Rp 2.548 Triliun, Banyak Debitur Belum Tarik Kredit

ILUSTRASI. Pertumbuhan Penyaluran Kredit BCA (KONTAN/Fransiskus Simbolon) Reporter: Aura Putri, Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fasilitas kredit yang telah disediakan perbanka...

ILUSTRASI. Pertumbuhan Penyaluran Kredit BCA (KONTAN/Fransiskus Simbolon)

Reporter: Aura Putri, Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fasilitas kredit yang telah disediakan perbankan belum seluruhnya ditarik debitur. Bank Indonesia mencatat fasilitas kredit yang belum ditarik debitur atau undisbursed loan (UL) mencapai Rp 2.548 triliun per Juli 2026, meningkat 7,80% secara tahunan  dibandingkan Juli 2025 yang sebesar Rp 2.364 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan kredit masih banyak ditopang aktivitas pemerintah.

"Kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak. Sudah mulai bergerak naik. Jadi artinya dari sisi demandnya, itu sudah mulai ada pilihan untuk melakukan kredit," kata Destry di Kantor BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Baca Juga: DBS: Pasar Masih Tangguh, Investor Perlu Selektif pada Kuartal IV 2026

Di sisi lain, Destry mengatakan sebagian bank masih memilih menempatkan dananya di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) daripada menyalurkannya sebagai kredit.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, besarnya kenaikan ini tidak mengindikasikan keterbatasan dari sisi bank dalam menyalurkan kredit, tetapi juga mencerminkan keputusan dan kebutuhan pembiayaan dari sisi debitur.

“Fasilitas yang belum ditarik oleh debitur disebabkan oleh beberapa pertimbangan antara lain siklus bisnis, progress penyelesaian proyek atau manajemen arus kas perusahaan debitur,” kata Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (28/9/2026).

Dian menjelaskan, industri pengolahan dan perdagangan menjadi sektor dengan nominal undisbursed loan yang relatif besar. Kedua sektor tersebut merupakan sektor dengan porsi kredit produktif yang besar, sehingga tingginya undisbursed loan sejalan dengan besarnya fasilitas pembiayaan yang telah disediakan perbankan untuk mendukung aktivitas usaha.

Sejumlah bank besar pun masih mencatat kenaikan undisbursed loan di tengah pertumbuhan kredit. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) misalnya, mencatat undisbursed loan mencapai Rp 21,65 triliun per Agustus 2026, naik 68,7% yoy dari Rp 12,83 triliun pada tahun lalu. Penyaluran kredit BTN secara bank only sebesar Rp 368,41 triliun per Agustus 2026, tumbuh 13,26% yoy.

Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat undisbursed loan mencapai Rp 64,03 triliun per Agustus 2026, naik 16,6% secara tahunan dari Rp 54,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, penyaluran kredit BNI secara bank only tercatat Rp 977,17 triliun, tumbuh 27,1% yoy.

PT Bank Mandiri Tbk juga mencatat undisbursed loan mencapai Rp 301,28 triliun per Agustus 2026, naik 9,8% secara tahunan dari Rp 274,33 triliun pada Agustus 2025. Adapun penyaluran kredit Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.592 triliun, tumbuh 17,6% yoy.

Baca Juga: Superbank Beri Pembiayaan untuk Pengadaan 200 Mobil Listrik GrabCar Plus Electric

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat penurunan undisbursed loan Rp 114,64 triliun per Agustus 2026, turun 22,95% secara tahunan dari Rp 148,80 triliun pada Agustus 2025. Sementara itu kredit yang disalurkan BRI secara bank only mencapai Rp 1.446,98 triliun hingga Agustus 2026, naik 13,66% yoy.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat undisbursed loan sebesar Rp 437,93 triliun per Agustus 2026, turun tipis 0,32% yoy dari Rp 439,32 triliun. Sementara itu, kredit yang disalurkan BCA secara bank only tembus Rp 1.017,7 triliun, tumbuh 10,52% yoy.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perseroan tetap mengelola undisbursed loan secara pruden di tengah pertumbuhan kredit yang masih terjaga.

“Pada saat yang bersamaan, BCA mengelola dengan baik pembiayaan yang belum ditarik (undisbursed loan) secara pruden,” ujar Hera kepada Kontan, Senin (28/9/2026)

Hera menambahkan, BCA memiliki likuiditas yang memadai untuk terus menyalurkan kredit ke berbagai segmen dan sektor dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatatkan undisbursed loan sebesar Rp 2,06 triliun atau turun 74,5% yoy per Juli 2026. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan posisi Juli 2025 yang mencapai Rp 8,08 triliun.

Direktur Wholesale Banking KB Bank Widodo Suryadi mengatakan, relatif rendahnya UL di KB Bank tidak terlepas dari penyaluran fasilitas kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.

Baca Juga: Inhealth Perkuat Edukasi Kesehatan Peserta

“Fasilitas-fasilitas kredit yang kami berikan itu memang kami cek sesuai dengan kebutuhan dari nasabah. Jadi kami tidak memberikan ruang yang terlalu banyak di luar kebutuhan mereka,” ujar Widodo saat Media Workshop di Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat tingkat pemanfaatan fasilitas kredit atau loan utilization KB Bank saat ini cukup tinggi.

“Sampai hari ini tingkat disbursement kami cukup tinggi, kalau mungkin buat rata-rata total utilization itu hampir 80% dari total booking capital yang kami berikan,” katanya.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, masih tingginya undisbursed loan salah satunya dipengaruhi oleh risiko di sektor industri pengolahan. Kenaikan harga bahan baku dan energi serta pelemahan konsumsi kelas menengah membuat debitur maupun perbankan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

“Jadi meskipun sudah committed, undisbursed loan masih tetap tinggi. Sudah committed tapi bank belum berani menyalurkan juga atau debiturnya belum berani mengambil keputusan,” kata Bhima kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Menurut Bhima, sektor yang berkaitan dengan sumber daya alam juga masih menghadapi risiko yang membuat pelaku usaha menahan ekspansi.

Bhima memperkirakan undisbursed loan masih akan tinggi ke depan, terutama jika permintaan kredit belum pulih. Menurut dia, kondisi tersebut juga menunjukkan perbankan belum membutuhkan tambahan likuiditas dalam jumlah besar karena ruang penyaluran kredit masih terbatas.

Baca Juga: OJK Ungkap Banyak Kredit Bank yang Belum Ditarik Debitur, Ini Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News