UKP Pariwisata dan Kemendes mendorong restorasi Desa Adat Sade
Utusan Khusus Presiden (UKP) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes-PDT) mendorong dilakukannya restorasi Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, ANTARA News mataram 38 ...
Mataram (ANTARA) - Utusan Khusus Presiden (UKP) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes-PDT) mendorong dilakukannya restorasi Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah terjadinya kebakaran pada Sabtu (22/8) malam.
Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) Zita Anjani mengatakan pemulihan Sade akan didorong melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. UKP Pariwisata bersama Kemendes-PDT akan menindaklanjuti kebutuhan pembangunan kembali dan restorasi kawasan Sade.
"Apa yang kami lihat dan dengar langsung dari masyarakat akan kami sampaikan kepada pemerintah pusat. Melalui Kemendes-PDT, kita akan mendorong program desa wisata dan desa budaya untuk mendukung pembangunan kembali dan restorasi Desa Adat Sade agar dapat kembali berkembang," ujar Zita melalui keterangannya diterima di Mataram, Senin.
Zita Anjani meninjau lokasi kebakaran Desa Adat Sade pada Minggu (24/8). Zita didampingi Bupati Lombok Tengah, Bupati Bima, Kepala Desa Sade, Ketua Pokdarwis Desa Adat Sade, Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (PDP), Kepala Biro Perencanaan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta perwakilan Bulog NTB.
Zita menyusuri kawasan terdampak dan berdialog dengan masyarakat untuk mendengarkan langsung kondisi serta aspirasi terkait pemulihan dan masa depan Desa Adat Sade.
Melalui kolaborasi dengan Bulog NTB, turut disalurkan bantuan berupa beras, minyak goreng, sarung, dan selimut bagi masyarakat terdampak kebakaran.
Zita menyatakan kolaborasi tersebut akan diarahkan tidak hanya untuk membangun kembali kawasan yang terdampak, tetapi juga memulihkan fungsi Desa Adat Sade sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus kawasan budaya dan pariwisata.
"Restorasi akan memperhatikan karakter desa adat, arsitektur tradisional, nilai budaya Sasak, aspek keselamatan, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat," ujar Zita.
Zita menegaskan proses restorasi membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, pembangunan kembali perlu dilakukan secara terencana agar Sade dapat kembali berkembang tanpa kehilangan identitas dan nilai budaya yang menjadi kekuatannya.
"Restorasi Sade membutuhkan waktu dan harus dilakukan dengan perencanaan yang baik. Kita ingin membangun kembali Sade sebagai desa adat yang tetap hidup, budayanya terjaga, masyarakatnya berdaya, dan pariwisatanya dapat berkembang secara berkelanjutan," katanya.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Masyarakat Sade merupakan penjaga utama adat dan budaya yang menjadi fondasi pengembangan kawasan sekaligus bagian penting dalam keberlanjutan pariwisata desa.
Ke depan, pembangunan kembali diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat Sade sebagai desa adat sekaligus destinasi pariwisata berkelanjutan, dengan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjaga warisan budaya Sasak untuk generasi mendatang.
Baca juga: Bulog, TNI dan pemerintah sediakan dapur umum untuk korban kebakaran Desa Adat Sade
Pemulihan ini juga menjadi bagian dari semangat Unlock Indonesia untuk membuka kembali potensi, cerita, dan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, Zita juga berharap masyarakat Sade diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini serta dapat segera kembali menjalankan kehidupan dan aktivitas ekonominya.
Baca juga: Kebakaran Desa Adat Sade menjadi refleksi bangun wisata tangguh bencana
"Semoga masyarakat Sade diberikan kekuatan dan ketabahan. Kita ingin Sade kembali menjadi rumah bagi masyarakatnya, budaya Sasak tetap hidup, dan Sade kembali menjadi destinasi pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat," tandas Zita.
Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8) menghanguskan sekitar 120 bangunan dan berdampak terhadap 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa. Selain tempat tinggal, sejumlah ruang yang mendukung aktivitas budaya dan ekonomi masyarakat juga ikut terdampak.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026