UEFA Ancam Boikot Piala Dunia karena Rencana Kontroversial Infantino
Bagikan: JAKARTA - Hubungan antara UEFA dan FIFA kembali memanas setelah badan sepak bola Eropa itu dikabark...
Bagikan:
JAKARTA - Hubungan antara UEFA dan FIFA kembali memanas setelah badan sepak bola Eropa itu dikabarkan akan menggelar pertemuan darurat untuk membahas kemungkinan memboikot Piala Dunia jika Presiden FIFA Gianni Infantino tetap melanjutkan rencana menjual sebagian kepemilikan bisnis komersial turnamen paling bergengsi di dunia tersebut.
Laporan media Inggris menyebutkan FIFA tengah menyiapkan pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise yang akan mengelola hak komersial Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Melalui skema itu, FIFA berencana melepas hingga 20 persen saham perusahaan kepada investor swasta.
Langkah tersebut diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari 3 miliar pound sterling bagi FIFA. Namun, rencana itu langsung menuai kritik keras dari UEFA yang menilai sepak bola tidak boleh diperlakukan sebagai aset investasi.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menyebut proposal tersebut telah melewati batas.
"Ini melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengatur sepak bola. UEFA menganggap persoalan ini sangat serius," demikian isi pernyataan organisasi tersebut.
UEFA juga menyerukan seluruh asosiasi sepak bola nasional, liga, klub, pemain, suporter hingga pemerintah untuk memperhatikan dampak dari rencana tersebut.
"Masa depan dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. FIFA juga bukan pemilik yang berhak menjualnya," lanjut pernyataan itu.
Menurut laporan Sky News yang dikutip media Inggris, asosiasi-asosiasi anggota UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan virtual darurat pekan ini. Salah satu agenda yang akan dibahas adalah kemungkinan melakukan boikot terhadap Piala Dunia apabila FIFA tetap menjalankan rencana tersebut.
Apabila boikot benar-benar terjadi, negara-negara besar Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Belanda hingga Portugal berpotensi tidak ambil bagian pada Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko.
Laporan tersebut juga menyebutkan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tidak mengetahui rencana FIFA sebelum kabar tersebut mencuat ke publik.
Perselisihan antara UEFA dan FIFA sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya juga mengkritik keputusan FIFA yang mencabut sanksi larangan bermain penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun saat Piala Dunia 2026 setelah adanya komunikasi antara Gianni Infantino dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ceferin bahkan tidak menghadiri partai final Piala Dunia 2026 meski sempat datang pada laga pembuka turnamen.
Di sisi lain, FIFA menegaskan restrukturisasi tersebut bertujuan memperkuat pendanaan bagi seluruh asosiasi anggotanya.
Infantino mengatakan struktur bisnis baru akan memungkinkan sisi komersial sepak bola dikelola secara lebih fokus sehingga nilai ekonominya dapat dibagikan lebih luas kepada seluruh anggota FIFA.
"Setiap asosiasi anggota FIFA harus memiliki kesempatan memperoleh bagian pendanaan yang adil untuk membangun masa depannya sendiri. Ini adalah tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia," ujar Infantino.
Laporan juga menyebut perusahaan investasi Thrive Capital menjadi kandidat utama investor dalam proyek tersebut. CEO Thrive Capital, Joshua Kushner, merupakan adik dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Rencana tersebut juga mendapat kritik dari Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, yang menegaskan Piala Dunia bukanlah produk yang dapat diperjualbelikan.
"Sepak bola bukan milik investor. Sepak bola milik orang-orang yang memenuhi stadion setiap pekan. Piala Dunia bukan produk yang bisa dijual," tulis Burnham melalui media sosial X.
Mantan pemain Liverpool, Stan Collymore, bahkan menyarankan UEFA mempertimbangkan untuk memisahkan diri dari FIFA, dengan alasan kekuatan sepak bola dunia saat ini berada di Eropa.
Meski demikian, secara struktur organisasi FIFA, rencana tersebut tetap dapat disahkan apabila memperoleh dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA di seluruh dunia. Artinya, penolakan seluruh anggota UEFA sekalipun belum tentu cukup untuk menggagalkan proposal tersebut.
Namun, apabila negara-negara Eropa benar-benar memboikot Piala Dunia, langkah itu diperkirakan akan memberikan tekanan besar terhadap FIFA mengingat dominasi Eropa dalam kompetisi sepak bola internasional, baik dari sisi prestasi, nilai komersial maupun basis penggemar global.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+