Trenggalek kembangkan konservasi berbasis sains di Pantai Kili-kili - ANTARA News Jawa Timur
Trenggalek, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Brawijaya mengembangkan konservasi berbasis sains di kawasan pesisir Kili-Kili, dengan memperluas ka...
Trenggalek, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Brawijaya mengembangkan konservasi berbasis sains di kawasan pesisir Kili-Kili, dengan memperluas kajian mulai dari penyu hingga keanekaragaman hayati pesisir.
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, Jumat, mengatakan, laboratorium tersebut menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung upaya masyarakat dan pemerintah daerah menjaga ekosistem pesisir.
“Alhamdulillah kami bersama tim dari Universitas Brawijaya diterima dengan baik oleh Pak Bupati Trenggalek dalam rangka untuk meresmikan aktivitas yang selama ini sudah berjalan, tetapi kita akan terus tingkatkan untuk membuat Living Laboratory, khususnya adalah keanekaragaman hayati pesisir,” kata Prof Widodo dalam siaran pers diterima ANTARA.
Menurut dia, kajian tidak hanya mencakup penyu, tetapi juga mikroorganisme serta berbagai tanaman dan potensi hayati yang terdapat di kawasan pesisir Trenggalek.
“Tujuan yang pertama tentu pengembangan ilmu pengetahuan. Kemudian yang kedua kita adalah bersama-sama mendukung, mensupport Pak Bupati dan juga warga Trenggalek yang sangat peduli melestarikan keanekaragaman hayatinya dan melestarikan alam,” ujarnya.
Universitas Brawijaya sebelumnya telah mendampingi upaya konservasi penyu bersama kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) setempat sejak 2020.
Kerja sama tersebut kemudian dikembangkan dengan pendekatan yang lebih luas melalui Living Laboratory di Pantai Konservasi Penyu Kili-Kili yang diresmikan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, Kamis (20/8).
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, dukungan berbasis data dan ilmu pengetahuan penting untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi yang juga melibatkan masyarakat.
“Jadi bayangkan kalau didukung dana dari perusahaan, kemudian teknik-teknik konservasinya didukung oleh data berbasis sains dan pemerintah daerah dari sisi regulasi. Kan kawasan ini juga sudah masuk kawasan ekosistem esensial,” katanya.
Menurut Arifin, pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan regulasi, termasuk dalam tata kelola kawasan dan pemanfaatan kawasan hutan oleh Pokmaswas.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada kegiatan peresmian, tetapi terus berjalan sebagai sistem pembelajaran dan konservasi yang berkelanjutan.
“Saya senang semoga kerjanya ini terus berlanjut, karena tadi komitmennya seperti yang disampaikan oleh Pak Rektor dan Pak Wakil Rektor ini menjadi Living Life. Jadi yang namanya Living Life berarti harus hidup terus menerus. Tidak hanya hari ini ketika diresmikan,” ujarnya.
Arifin mengatakan peresmian Living Laboratory tersebut lebih merupakan penguatan atas kerja sama konservasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara Universitas Brawijaya, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Untuk yang lain biasanya peresmian di awal baru berkegiatan. Tapi kalau ini kegiatannya puluhan tahun tapi baru mau diresmikan. Artinya ini hanya mengakui apa yang sudah kita lakukan,” katanya.
Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.