Tragis! 12 Bekantan mati terjebak karhutla di Hulu Sungai Selatan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa ANTARA News kalteng 1 ...
Tragis! 12 Bekantan mati terjebak karhutla di Hulu Sungai Selatan
Rabu, 16 September 2026 17:10 WIB
Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang tewas dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. ANTARA/HO-BKSDA Kalsel
Banjarmasin (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna kepada ANTARA dikonfirmasi di Banjarmasin, Senin.
Ia mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.
“Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar,” ujarnya.
Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.
Agus mengungkapkan kebakaran, terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar, sedangkan kawasan tanah desa aman dari kebakaran, sementara bekantan yang mati ditemukan berada di kawasan milik masyarakat tersebut.
Kedua kawasan itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan, karena satwa menggunakan area tersebut sebagai jalur pergerakan, meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem yang menyatu.
Pewarta : Tumpal Andani Aritonang
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.