Tokoh perdamaian: Hormati bendera GAM sebagai sejarah, bukan kepentingan lain - ANTARA News Aceh
Banda Aceh (ANTARA) - Tokoh sekaligus negosiator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen mengingatkan kepada masyarakat Aceh bahwa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harus dihormati sebagai sejarah, bu...
Banda Aceh (ANTARA) - Tokoh sekaligus negosiator perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen mengingatkan kepada masyarakat Aceh bahwa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harus dihormati sebagai sejarah, bukan untuk kepentingan tertentu.
"Pendapat kita dan diskusi di perundingan Helsinki tahun 2005. Kita harus hormati bendera GAM sebagai sejarah, itu paling penting. Menggunakan bendera GAM untuk kepentingan lain menurut saya tidak bagus," kata Juha Christensen, di Banda Aceh, Sabtu.
Pernyataan itu disampaikan Juha Christensen kepada awak media usai mengikuti peringatan Hari Damai Aceh ke 21 dengan tajuk “Pelaksanaan Penyelesaian Konflik Secara Damai, Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Bermartabat Dalam Kerangka NKRI" yang diselenggarakan Badan Reintegrasi Aceh (BRA), di Balai Meuseuraya Aceh, Kota Banda Aceh
Penegasan tersebut juga disampaikan Juha Christensen sebagai respon terkait aksi kibaran bendera GAM atau bendera bulan bintang di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh hari ini oleh masa, hingga menimbulkan kericuhan.
Dirinya menegaskan, aksi pengibaran bendera GAM tersebut tidak baik terhadap suasana perdamaian Aceh. Semua pihak harus mengingat bahwa amanah MoU Helsinki atau damai Aceh itu adalah bermartabat.
"Itu tidak bagus untuk suasana (kibarkan bendera GAM). Kita harus juga ingat itu di butir MoU adalah bermartabat untuk semua," ujarnya.
Dirinya juga mengingatkan, bahwa semua pihak untuk menjaga perdamaian Aceh, dengan tidak melakukan kegiatan yang sensitif.
"Artinya kita ada pihak pemerintah pusat, kita ada mantan GAM. Kita harus jaga supaya jangan ada hal-hal kita naikkan yang sensitif," tegasnya.
Di sisi lain, Juha juga menyampaikan bahwa perdamaian Aceh sudah menjadi contoh, fondasi yang sangat luar biasa untuk terus dijaga bersama-sama.
Ia menuturkan, melihat Aceh hari ini, jika dibandingkan dengan daerah lain masih jauh tertinggal. Maka, terdapat dua hal yang harus dilakukan sekarang. Pertama, harus saling percaya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kedua, konsolidasi dan persatuan politik di Aceh harus kuat, karena untuk mengundang investor tidak bisa tanpa kepercayaan atau keamanan berinvestasi di Aceh. Hal ini penting demi pertumbuhan perekonomian Aceh.
"Itu Aceh tertinggal sedikit kalau kita bandingkan dengan provinsi lain. Di mana-mana pernah ada konflik. Selalu untuk dapat ekonomi kembali normal memakan waktu," ujarnya.
Ia menambahkan, terkait pelaksanaan atau realisasi butir-butir MoU Helsinki yang belum terlaksana, maka harus segera dicapai sepenuhnya.
"Menurut saya tidak ada banyak (yang belum terealisasi). Mungkin ada 1, 2, 3 tetapi tentu bukan semua butir-butir 100 persen. Itu harus dicapai dan jaga sama-sama supaya kita bisa mencapai 100 persen," demikian Juha Christensen.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.