Terorisme Sayap Kiri ke Level Tertinggi, Rubio: Saatnya Menghancurkan Kejahatan Ini |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mendesak puluhan negara menjadikan terorisme politik sayap kiri ekstrem sebagai prioritas dalam agenda kontra-terorisme global. Menurut...
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mendesak puluhan negara menjadikan terorisme politik sayap kiri ekstrem sebagai prioritas dalam agenda kontra-terorisme global. Menurut Rubio, ancaman dari jaringan ekstremis sayap kiri lintas negara kini semakin meningkat dan tidak lagi bisa diabaikan.
Pernyataan itu disampaikan Rubio saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kontra-Terorisme yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri AS di Washington, Kamis (17/7/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 65 delegasi dari lebih dari 60 negara.
"Anda semua berada di sini karena ini nyata, semakin memburuk, tidak dapat lagi disangkal, dan tidak dapat lagi diabaikan. Sudah saatnya menghancurkan kejahatan ini selamanya," kata Rubio dalam pidatonya.
Rubio menyebut AS selama ini terlalu lama memusatkan perhatian pada ancaman terorisme jihadis, sementara kebangkitan jaringan ekstremis sayap kiri transnasional kurang mendapat perhatian. Ia menggambarkan ideologi kiri radikal sebagai "kebencian beracun yang diselubungi bahasa kesetaraan dan keadilan."
Menurut Rubio, proporsi serangan dan rencana aksi teror yang dilakukan kelompok sayap kiri di Amerika Serikat kini mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Karena itu, pemerintahan AS tengah membangun kembali strategi kontra-terorisme dengan menempatkan jaringan ekstremis sayap kiri sebagai salah satu ancaman utama.
Ia juga mengumumkan pemerintah akan segera menetapkan organisasi teroris asing tambahan, menyusul penetapan empat kelompok ekstremis sayap kiri sebagai Organisasi Teroris Asing (Foreign Terrorist Organization/FTO) pada November 2025.
Rubio menuding kelompok-kelompok tersebut berkoordinasi lintas negara melalui komunikasi terenkripsi, pertukaran materi pelatihan, pendanaan, hingga penyediaan rumah persembunyian. Menurut dia, jaringan tersebut juga menjalin hubungan dengan sejumlah negara yang dianggap bermusuhan dengan Amerika Serikat.
Untuk itu, Rubio meminta negara-negara mitra memperkuat pertukaran intelijen, kerja sama penegakan hukum, serta langkah bersama guna memutus aliran pendanaan kelompok-kelompok tersebut.
"Sudah saatnya negara-negara di dunia yang beradab membela diri," ujarnya.
Penetapan sebagai Organisasi Teroris Asing memungkinkan pemerintah AS membekukan aset kelompok yang berada di bawah yurisdiksi Amerika Serikat, mengkriminalisasi pemberian dukungan material kepada organisasi tersebut, serta melarang para anggotanya memasuki wilayah AS.