Terjadi lagi, Dokter di Belanda Gunakan Sperma Sendiri untuk Program IVF Pasiennya
Jakarta - Seorang dokter kandungan diketahui melakukan pelanggaran etik dalam program bayi tabung (IVF). Dokter di Belanda ini menggunakan spermanya sendiri untuk...
Jakarta -
Seorang dokter kandungan diketahui melakukan pelanggaran etik dalam program bayi tabung (IVF). Dokter di Belanda ini menggunakan spermanya sendiri untuk membuahi pasiennya tanpa sepengetahuan mereka saat perawatan kesuburan.
Haga Hospital mengonfirmasi bahwa dokter tersebut adalah Dr. Ed Goormans, yang pernah menangani pasien di Leyenburg Hospital, Den Haag pada awal 1970-an hingga 1986.
Kasus ini menambah daftar dokter fertilitas di Belanda yang diketahui menggunakan spermanya sendiri dalam program inseminasi atau IVF tanpa persetujuan pasien. Sebelumnya nama Jan Karbaat, Jan Wildschut, dan Jos Beek juga pernah mencuat dalam kasus serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal mula terungkapnya kasus ini
Melansir NL Times, Goormans sebenarnya pernah dicurigai melakukan kecurangan dalam prosedur inseminasi ketika masih bekerja di Leyenburg Hospital. Namun, penyelidikan pada saat itu tidak menemukan bukti bahwa ia menggunakan spermanya sendiri.
Sembilan tahun lalu, Goormans secara sukarela menyerahkan sampel DNA kepada Fiom, organisasi di Belanda yang membantu anak hasil donor mengetahui asal-usul biologis mereka. Berdasarkan kesepakatan, identitas Goormans akan tetap dirahasiakan.
"Saat itu, itu satu-satunya cara bagi kami untuk mengamankan DNA-nya. DNA harus diberikan secara sukarela, kami tidak dapat memaksa siapa pun," kata direktur Fiom, Ellen Giepmans, kepada Omroep West.
Fiom setuju dengan Goormans bahwa identitasnya akan tetap dirahasiakan jika terjadi kecocokan. Pada 2022 ditemukan dua kecocokan DNA yang menunjukkan bahwa Goormans merupakan ayah biologis dari dua anak. Namun, kedua anak tersebut belum diberi tahu karena adanya perjanjian kerahasiaan.
Setelah Goormans meninggal dunia, Haga Hospital berdiskusi dengan keluarga dokter tersebut. Pihak keluarga kemudian menyetujui agar identitas biologis kedua anak tersebut diungkapkan. Rumah sakit pun menghubungi mereka dan menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang dilakukan Goormans.
Direktur Haga Hospital, Peter van der Meek, mengakui proses tersebut memakan waktu terlalu lama. "Sejauh yang saya ketahui, ini benar-benar memakan waktu terlalu lama, dan saya sangat menyesalinya," katanya.
Rumah sakit membuka penyelidikan
Haga Hospital kini menunjuk profesor emeritus Didi Braat untuk memimpin penyelidikan independen mengenai praktik yang dilakukan Goormans selama menangani pasien program fertilitas.
Rumah sakit juga meminta siapa pun yang pernah menjalani perawatan kesuburan oleh Goormans atau menduga dirinya merupakan anak biologisnya agar menghubungi tim khusus yang telah dibentuk.
Rumah sakit memiliki tim telepon yang siap siaga untuk pihak-pihak yang berpotensi terlibat. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kami ingin telepon selalu dijawab ketika orang menelepon," kata Van der Meek.
Hingga kini belum diketahui berapa banyak pasien yang mungkin terdampak.
Mengapa kasus ini menjadi perhatian?
Pada program IVF, sel telur dibuahi oleh sperma di laboratorium. Sperma dapat berasal dari pasangan maupun donor sesuai indikasi medis dan hanya boleh digunakan berdasarkan persetujuan pasien.
Menggunakan sperma dokter sendiri tanpa sepengetahuan pasien merupakan pelanggaran etik yang serius karena melanggar hak pasien untuk memberikan persetujuan berdasarkan informasi yang lengkap (informed consent).
Tindakan tersebut selain berdampak pada orang tua, juga dapat memengaruhi hak anak untuk mengetahui asal-usul biologisnya.
Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Human Reproduction, keterbukaan mengenai identitas donor dinilai penting, baik untuk alasan psikologis maupun sebagai informasi medis di masa depan.
Belanda pernah menjadi sorotan terkait donor sperma
Kasus ini bukan pertama kalinya menjadi perhatian terkait layanan fertilitas di Belanda. Sebelumnya, pengadilan di Den Haag memerintahkan seorang donor sperma bernama Jonathan Meijer berhenti mendonorkan spermanya setelah diketahui menjadi ayah biologis lebih dari 500 anak.
Pengadilan menilai kondisi tersebut meningkatkan risiko terbentuknya jaringan kekerabatan yang sangat besar sehingga dikhawatirkan dapat memicu hubungan sedarah tanpa disadari.
"Intinya adalah bahwa jaringan kekerabatan dengan ratusan saudara tiri ini terlalu besar," kata juru bicara pengadilan, Gert-Mark Smelt.
Hakim pengadilan Den Haag, Thera Hesselink, mengatakan dalam pengadilan bahwa Jonathan menyumbangkan spermanya kepada calon orang tua baru setelah putusan ini dikeluarkan pada 2017 lalu. Dalam aksinya, ia berbohong terkait informasi penting, termasuk jumlah anak dari sperma yang ia donorkan.
"Semua orang tua ini sekarang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak-anak dalam keluarga mereka adalah bagian dari jaringan kekerabatan yang besar, dengan ratusan saudara tiri, yang tidak mereka pilih," katanya.
Kasus dokter yang menggunakan spermanya sendiri tanpa persetujuan pasien juga pernah menginspirasi film dokumenter Netflix, Our Father, yang mengangkat kisah nyata Donald Cline, dokter fertilitas di Amerika Serikat yang diam-diam menggunakan spermanya sendiri untuk menghamili puluhan pasien.
Kasus di Belanda ini kembali menjadi pengingat bahwa keberhasilan program bayi tabung tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kepercayaan antara dokter dan pasien. Transparansi, persetujuan tindakan medis (informed consent), serta perlindungan hak anak dan keluarga menjadi prinsip penting dalam layanan reproduksi berbantu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)