Terinspirasi Doraemon, Pria Ini Bangun Bisnis Robot Rp 54 Triliun
Jakarta - Terinspirasi ketertarikannya semasa kecil pada Doraemon, Alex Zhou membangun Linkerbot menjadi produsen tangan robotik luwes terbesar kedua di China, dengan tujuan mereplikasi gerakan tangan m...
Jakarta -
Terinspirasi ketertarikannya semasa kecil pada Doraemon, Alex Zhou membangun Linkerbot menjadi produsen tangan robotik luwes terbesar kedua di China, dengan tujuan mereplikasi gerakan tangan manusia.
Tindakan tangan sehari-hari membutuhkan gerakan jari rumit yang sangat sulit ditiru robot tercanggih sekalipun. "Tangan adalah tantangan hardware besar terakhir dalam robotika," sebutnya.
Pengusaha usia 40 tahun tersebut menjawab tantangan ini melalui Linkerbot, perusahaan yang ia dirikan tahun 2023 untuk mengembangkan tangan robotik yang mampu menyamai ketangkasan tangan manusia. Linkerbot memasok tangan robotik yang digunakan di pabrik-pabrik China untuk menggenggam benda dan merakit komponen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zhou ingin mengembangkan teknologinya agar robot dapat memasak, membersihkan rumah, dan menangani benda rapuh, berpotensi menjadikan robot humanoid asisten rumah tangga yang serbaguna.
Terinspirasi Doraemon
Ketertarikan Zhou pada robot dimulai pada masa kecilnya, saat ia terpikat Doraemon, kucing robot yang kantong ajaibnya bisa mengeluarkan bermacam alat. Ia kemudian meyakini sumber sesungguhnya dari kemampuan manusia untuk menemukan dan menciptakan bukan kantong ajaib, melainkan keserbagunaan tangan manusia.
Pada usia 14 tahun, ia masuk ke Universitas Sains dan Teknologi Huazhong, salah satu universitas teknik terkemuka di China, untuk menempuh studi interdisipliner, termasuk AI dan robotika. Setelah lulus, ia menghabiskan dua tahun di raksasa teknologi China Lenovo, mengembangkan software ponsel.
Ia kemudian ikut mendirikan dua startup sebelum menjual sahamnya di kedua perusahaan tersebut. Hasil penjualan tersebut membantunya mendanai Linkerbot pada tahun pertamanya.
Alih-alih obot humanoid utuh, ia fokus pada bagian tangannya. Keputusan itu menempatkannya di salah satu tantangan rekayasa tersulit di robotika. Robot makin mampu berjalan, berlari, dan melakukan gerakan terkoordinasi, namun memanipulasi benda sehari-hari jauh lebih sulit.
Manusia melakukan tindakan-tindakan ini hampir secara naluriah, mengandalkan indera peraba dan kontrol otot yang presisi. Robot harus mencapai hasil serupa dengan menggunakan motor mini, sendi mekanis, sensor, dan software.
Tangan manusia memiliki sekitar 27 derajat kebebasan, merujuk pada berbagai cara persendiannya dapat bergerak mandiri. Model-model canggih Linkerbot menawarkan lebih dari 20 derajat kebebasan, yang memungkinkan jari-jarinya memanipulasi sekrup kecil, menggunakan perkakas, dan memainkan alat musik.
Bisnis robotika USD 3 miliar
Teknologi Linkerbot menarik perhatian investor. Putaran pendanaan bulan April memberi valuasi perusahaan USD 3 miliar (Rp 54 triliun) menurut Forbes, yang juga memperkirakan kekayaan Zhou mencapai USD 920 juta berdasarkan 31% saham. Mereka mengejar putaran pendanaan lain yang menargetkan valuasi USD 6 miliar. Jika tercapai, Zhou akan jadi miliarder.
Linkerbot memproduksi beberapa tangan robotik seharga mulai dari 6.666 yuan hingga 99.999 yuan. Model entry level dapat menggenggam benda seperti ponsel. Versi lebih canggih dapat menggunakan perkakas seperti pinset untuk menangani komponen kecil. Sebagai perbandingan, beberapa tangan robotik canggih yang dibuat pesaing luar negeri harganya bisa mencapai lebih dari USD 100.000.
Zhou percaya rantai pasokan manufaktur China memberi perusahaannya keuntungan dalam memproduksi hardware canggih dengan harga lebih rendah. Linkerbot membuat hampir seluruh komponennya secara mandiri, membantu mereka mengendalikan biaya dan menyempurnakan produknya dengan lebih cepat.
"Linkerbot memiliki salah satu tangan robotik termurah dan terbaik yang dapat Anda beli saat ini," kata Dermot McGrath, pendiri konsultan robotika ZenGen Labs yang dikutip detikINET dari VN Express, Senin (19/10/2026).
Linkerbot mengirimkan lebih dari 10.000 tangan robotik pada tahun 2025, menjadikannya produsen terbesar kedua di China, di belakang Inspire Robots. Pelanggannya meliputi Universitas Stanford, Universitas Tsinghua, Samsung Electronics, dan raksasa industri Jerman Siemens.
Menyusul pembukaan lini produksi baru di Beijing, perusahaan kini mengoperasikan empat pabrik di China dan menargetkan peningkatan produksi tahunan hingga 100.000 tangan robotik.
(fyk/fay)
TAGS
LIHAT LAINNYA