Telkom Ambil Peluang dari AI, Lonjakan Konektivitas Naik hingga 20 Kali - Bursa Katadata.co.id
Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengerek peningkatan kebutuhan konektivitas, terutama untuk menghubungkan komputasi dengan komputasi (compute-to-compute). PT Telkom Indon...
Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengerek peningkatan kebutuhan konektivitas, terutama untuk menghubungkan komputasi dengan komputasi (compute-to-compute). PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pun mengambil peluang dari sana.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba mengatakan, TLKM akan mengembangkan bisnis konektivitas internasional, khususnya melalui infrastruktur kabel bawah laut atau submarine cable.
Dia menyebut, bisnis konektivitas yang ditopang kabel laut internasional saat ini tumbuh lebih dari 20% secara tahunan di anak usaha TLKM yaitu PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin).
“Dalam tiga tahun terakhir, kita melihat banyak pendorong besar yang berasal dari AI. Jadi, ketika kita berbicara tentang permintaan dari AI, kita tidak berbicara tentang pertumbuhan 50%, 70%. Namun kita berbicara tentang peningkatan permintaan 10 hingga 20 kali lipat yang dihasilkan oleh AI,” kata Budi dalam acara BATIC 2026, di Nusa Dua, Bali Rabu (26/8).
Seiring dengan potensi itu, dia mengatakan Telin akan terus berekspansi di sektor infrastruktur dengan membangun kabel laut di koridor global lainnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Telkom terus berinvestasi di infrastruktur kabel laut internasional. Budi mencontohkan salah satu kabel yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat melalui perairan Indonesia.
Menurutnya, pembangunan kabel tersebut membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Namun, kapasitasnya telah terserap dalam waktu kurang dari satu tahun setelah selesai dibangun.
“Kita tahun lalu itu kita menyelesaikan kabel laut, salah satu kabel laut dari Singapura sampai ke Amerika lewat perairan Indonesia. Untuk membangun kabel itu butuh waktu 5 tahun, tapi ini kurang dari 1 tahun, ini kapasitasnya sudah habis,” kata dia.
Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan permintaan konektivitas saat ini jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri dalam membangun infrastrukturnya.
Budi menjelaskan, ada tiga perubahan besar yang saat ini mendorong kebutuhan connectivity, yakni AI, cloud dan digital platform.
AI mengubah cara orang bekerja, cloud mengubah cara perusahaan mengembangkan bisnis, sedangkan digital platform mengubah perilaku pelanggan. Ketiga perubahan tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan terhadap konektivitas.
Namun, kebutuhan konektivitas di era AI berbeda dibandingkan sebelumnya. Trafik yang dihasilkan AI cenderung lebih besar, tersebar, dan dinamis sehingga tidak lagi dapat sepenuhnya dilayani oleh jaringan konvensional.
“Karena memang typical traffic yang dibentuk AI itu pasti akan semakin massif, terdistribusi dan dinamis. Itu gak bisa dilayani dengan typical network kita yang ada saat ini. Sehingga banyak yang harus kita evolusi di network kita.”
Menurut Budi, perubahan tersebut membuat fungsi jaringan ikut bergeser. Jaringan tidak lagi sekadar menghubungkan informasi, tetapi juga menghubungkan komputasi dan kecerdasan.
Karena itu, Telkom melihat peluang besar dari pertumbuhan kebutuhan konektivitas untuk AI dan berkomitmen melanjutkan investasi di kabel laut.