pickleballvnz.com

TB di Balik Batuk yang Tak Kunjung Reda - Telaah Katadata.co.id

Batuk yang menetap lebih dari dua minggu bisa menjadi tanda tuberkulosis (TB). Mengenali gejala dan memeriksakan diri lebih awal dapat mencegah kondisi memburuk sekaligus melindungi orang terdekat.

Ada batuk yang datang lalu pergi begitu saja setelah beberapa hari. Tapi ada juga batuk yang menetap berminggu-minggu, dan justru jenis inilah yang paling sering diabaikan, karena mungkin hanya dianggap sebagai efek dari kelelahan akibat kerja lembur, alergi debu, atau sekadar dampak dari asap rokok orang lain.

Sebagian orang baru memeriksakan diri setelah melihat bercak darah pada dahaknya. Sebelumnya, batuk yang tak kunjung reda itu dibiarkan sambil tetap melakukan aktivitas sehari-hari dan berkumpul dengan keluarga.

Jika batuk itu disebabkan tuberkulosis (TB), selama itulah orang-orang yang berinteraksi dekat dengannya berisiko terpapar tanpa menyadarinya.

Pola ini yang membuat TB bertahan sebagai salah satu beban kesehatan terbesar Indonesia hingga sekarang.

Data Global Tuberculosis Report 2025 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TB terbanyak, tepat di bawah India, dengan estimasi 1,1 juta kasus baru dan sekitar 118 ribu kematian sepanjang 2024.

Apabila diterjemahkan ke skala yang lebih mudah dibayangkan, maka lebih dari 13 orang Indonesia meninggal karena TB setiap jam — satu nyawa hilang kira-kira tiap 4-5 menit, sepanjang tahun, tanpa henti.

Laporan (Tahun Terbit)Data untuk TahunPeringkat IndonesiaEstimasi kasus
Global TB Report 20222021ke-2 setelah India~969.000
Global TB Report 20232022ke-2 setelah India (10% kasus global)~1,06 juta
Global TB Report 20242023ke-2 setelah India (10% kasus global)~1,09 juta, ~125 ribu kematian
Global TB Report 2025 (dirilis akhir 2025)2024ke-2 setelah India (10% kasus global)~1,1 juta kasus, ~118 ribu kematian

Sumber: Laporan tahunan resmi WHO, Global Tuberculosis Report

Di balik angka itu, besarnya beban TB berkaitan dengan sejumlah persoalan yang masih berulang.

Gejala awal sering dibiarkan hingga keluhan memburuk, sementara orang yang rentan terkena TB belum tentu menyadari risikonya. Bahkan setelah penyakitnya terdeteksi, sebagian pasien berhenti berobat sebelum pengobatan selesai.

Kementerian Kesehatan berupaya memutus pola tersebut lewat kampanye TOSS TB — “Temukan, Obati Sampai Sembuh”. Langkahnya bisa dimulai dengan memperhatikan sudah berapa lama batuk berlangsung dan keluhan lain yang menyertainya.

Bedanya Batuk Biasa atau Gejala TB

Mengenali perbedaan antara batuk biasa dan batuk TB sebenarnya tidak bergantung pada satu gejala tunggal, melainkan pada durasi batuk dan pola gejala yang menyertainya.

Batuk akibat flu atau iritasi biasa umumnya datang tiba-tiba, lalu mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga paling lama dua minggu. Dahaknya bening atau putih, dan tubuh tidak sampai kehilangan berat badan secara berarti.

Sedangkan, batuk TB bisa bertahan dua hingga tiga minggu atau lebih, bahkan tidak kunjung membaik meski sudah minum obat batuk biasa. Warna dahaknya pun berubah menjadi kuning-kehijauan, dan pada beberapa kasus bercampur darah.

Keluhan lain yang perlu diperhatikan meliputi demam yang hilang timbul, keringat malam, nafsu makan berkurang, serta berat badan menurun.

Jika batuk sudah berlangsung lebih dari dua minggu, apalagi disertai keluhan tersebut, sebaiknya segera periksakan diri ke puskesmas tanpa menunggu munculnya darah pada dahak.

Ilustrasi paru-paru pasien TB dengan bercak lesi dan rongga kerusakan jaringan.

Ilustrasi paru-paru pasien TB dengan bercak lesi dan rongga kerusakan jaringan. (AI generative/Chat GPT)

Pemeriksaan membantu memastikan penyebab batuk sekaligus mengurangi kemungkinan TB terus menular tanpa disadari.

Penyakit ini menyebar melalui udara, sehingga orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dekat dengan pasien TB aktif lebih berisiko terpapar, terutama jika mereka banyak menghabiskan waktu bersama di ruang tertutup.

Menurut WHO, satu pasien TB aktif dapat menularkan penyakit ini kepada 5 hingga 15 orang dalam setahun. Risiko penularan meningkat ketika pasien tinggal di rumah dengan ventilasi buruk, terutama di lingkungan padat huni yang membuat banyak orang berbagi udara dalam waktu lama.

Keluarga dan orang-orang yang sering berinteraksi dekat dengan pasien pun perlu ikut diperiksa.

Selain paparan, kondisi tubuh memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami TB aktif. Orang dengan HIV, diabetes, atau gizi buruk lebih rentan, begitu pula anak-anak dan lansia.

Perhatian juga perlu diberikan kepada perokok aktif maupun orang yang sering terpapar asap rokok, warga binaan pemasyarakatan, tunawisma, dan pengungsi.

Skrining TBC di Lapas Ciamis

Petugas memeriksa kesehatan warga binaan menggunakan alat Chest X-Ray (CXR) saat skrining tuberkulosis (TBC) di Lapas Kelas IIB Ciamis, Jawa Barat, pada 27 Oktober 2025. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.)

Itulah sebabnya tahap “Temukan” dalam TOSS TB tidak hanya menyasar orang yang sudah batuk atau menunjukkan gejala lain. Seseorang dapat terinfeksi bakteri TB tanpa merasa sakit, yang disebut infeksi TB laten. 

Pada tahap ini, ia umumnya tidak menularkan, tetapi pemeriksaan tetap diperlukan untuk mengetahui apakah ia membutuhkan terapi pencegahan.

Bahaya TB yang Dibiarkan dan Pengobatan yang Terputus

TB yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat memburuk dan menyebar ke organ tubuh selain paru-paru. Bakteri penyebab TB, yaitu Mycobacterium tuberculosis, bisa mencapai tulang belakang, ginjal, kelenjar getah bening, hingga selaput otak melalui darah atau getah bening. Dampaknya juga bisa fatal.

Menurut WHO, tanpa pengobatan yang tepat, rata-rata sekitar 45 persen pasien TB tanpa HIV dan hampir seluruh pasien TB dengan HIV dapat meninggal.

Memulai pengobatan pun baru sebagian dari proses penyembuhan. Pengobatan TB yang peka terhadap obat umumnya memerlukan waktu sekitar 6 hingga 9 bulan. 

Skirining TBC gratis untuk warga di Jakarta

Dokter menunjukan hasil rontgen thorax warga saat pelaksanaan skrining Tuberculosis (TB) gratis di RPTRA Gondangdia, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc.)

Ketika keluhan mulai mereda, pasien mungkin merasa sudah sembuh, padahal obat tetap harus diminum sesuai jadwal sampai pengobatan dinyatakan selesai. Jika obat diminum tidak teratur atau dihentikan sebelum waktunya, risiko TB resistan obat (TB RO) meningkat.

Bakteri yang kebal terhadap obat standar lebih sulit ditangani dan dapat menular kepada orang lain.

Pengobatan TB RO bergantung pada kondisi pasien dan jenis resistansi obatnya. Sebagian pasien masih memerlukan pengobatan selama 9 hingga 24 bulan, meski pilihan terapi enam bulan kini juga tersedia bagi pasien yang memenuhi syarat.

Lamanya pengobatan dan kemungkinan efek samping membuat pendampingan menjadi penting, termasuk ketika pasien merasa lebih sehat atau mengalami keluhan akibat konsumsi obat jangka panjang.

Karena itu, pesan "Obati Sampai Sembuh" dalam kampanye TOSS TB sama pentingnya dengan "Temukan". TB perlu diketahui lebih awal, lalu diobati hingga tuntas sesuai arahan tenaga kesehatan.

Perjalanan Sembuh Dimulai dari Pemeriksaan

Kekhawatiran tentang pemeriksaan TB kadang membuat orang terus menunda mencari tahu penyebab batuknya. Padahal langkah awalnya cukup sederhana.

Pasien dapat datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, lalu menjelaskan sejak kapan batuk berlangsung dan keluhan lain yang dirasakan. Dari sana, petugas akan menentukan pemeriksaan yang diperlukan.

Salah satu pemeriksaan yang digunakan adalah tes cepat molekuler (TCM) dari sampel dahak. Pasien diminta mengeluarkan dahak ke wadah steril; sampel tersebut kemudian diperiksa untuk mendeteksi bakteri TB dan kemungkinan resistansi terhadap obat tertentu.

Jika pasien sulit mengeluarkan dahak, terutama pada pasien anak, petugas dapat menentukan metode pemeriksaan lain yang sesuai. Hasil pemeriksaan biasanya akan tersedia dalam satu hingga dua hari, tergantung pada layanan di masing-masing fasilitas kesehatan.

Ilustrasi batu darah pada pasien TB.

Ilustrasi batu darah pada pasien TB. (AI generative/Chat GPT)

Pemerintah menyediakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat digunakan sebagai skrining awal kondisi tubuh kita melalui aplikasi SATUSEHAT mobile.

Jika batuk sudah lebih dari dua minggu, sebaiknya langsung periksa ke puskesmas tanpa menunggu hasil skrining di aplikasi. Pemeriksaan akan membantu memastikan penyebabnya sehingga, bila terbukti TB, pengobatan bisa segera dimulai.

Setelah pasien mulai menjalani tahap pengobatan, keluarga dapat membantu memastikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diminum teratur sampai pengobatan selesai. Dukungan ini penting walau kondisi pasien sudah membaik, sebab obat tetap perlu diminum sesuai jadwal.

Selama pengobatan, keluarga juga perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan untuk mencegah penularan di rumah. Pasien dapat memakai masker sesuai anjuran dan menerapkan etika batuk, sementara keluarga membantu menjaga ventilasi rumah serta menemani pasien kontrol bila diperlukan.

Jika muncul keluhan akibat obat, pasien sebaiknya membicarakannya dengan petugas kesehatan agar pengobatan dapat dilanjutkan dengan aman.

Dukungan keluarga juga membantu pasien menghadapi stigma. Orang yang takut dikucilkan bisa memilih menyembunyikan penyakitnya atau berhenti berobat, sehingga TB makin sulit ditangani dan risiko penularan tetap ada.

TB bisa disembuhkan jika ditemukan dan diobati sampai tuntas, seperti pesan TOSS TB. Jika batuk sudah berlangsung lebih dari dua minggu, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat, periksakan ke puskesmas terdekat sebelum terlambat.