TARR! Tuangkan Potongan Kehidupan di Purwokerto dalam Album BERANTAKAN - Pophariini
Band punk/alternative rock asal Purwokerto, TARR!, resmi merilis album penuh bertajuk BERANTAKAN pada 10 Agustus 2026. Album berisi delapan nomor ini menjadi kelanjutan perjalanan mereka setelah sebelumnya memperkenalkan diri lewat singel “02.50”. Beranggotakan Zaqi …
Band punk/alternative rock asal Purwokerto, TARR!, resmi merilis album penuh bertajuk BERANTAKAN pada 10 Agustus 2026. Album berisi delapan nomor ini menjadi kelanjutan perjalanan mereka setelah sebelumnya memperkenalkan diri lewat singel “02.50”. Beranggotakan Zaqi Fatahilah pada vokal, Setyo Adi Nugroho (gitar), Yoga ‘Bokor’ Azis (bas), dan Naufal Alif (drum), TARR! mencoba merekam keseharian yang dekat dengan kehidupan di Purwokerto.
Tidak menggunakan pendekatan dengan mencari cerita yang besar, BERANTAKAN justru dibangun dari pemandangan yang kerap dilewati begitu saja. Perjalanan pergi-pulang dari kampus, lampu merah yang dipenuhi slogan politik, orang-orang yang mencari penghasilan di jalan, hingga kehidupan di sekitar permukiman menjadi potongan kecil yang kemudian dikumpulkan menjadi cerita di dalam album.
Menurut Bokor, kontras tersebut menjadi salah satu gambaran yang paling sering mereka temui. Di satu sisi ada wajah dan janji politik yang terpampang besar, sementara pada saat yang sama ada orang yang harus memikirkan bagaimana membawa uang pulang untuk bertahan pada hari itu.
“Kami cukup akrab dengan kehidupan sekitar rumah, termasuk perjudian togel yang saat itu begitu dekat dengan keseharian,” kata Bokor saat diwawancara Pophariini (01/09).
Cerita kemudian bergerak ke situasi lain yang juga tidak jauh dari keseharian mereka, mulai dari harapan yang digantungkan pada uang receh hingga orang-orang yang tidur di emperan ruko karena tidak memiliki tempat untuk beristirahat. Bagi TARR!, detail-detail tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan bagian dari kehidupan yang terus mereka lihat dan lewati.
“Hal-hal semacam itulah yang kemudian banyak memengaruhi BERANTAKAN. Bukan pengalaman yang luar biasa atau cerita yang dibuat-buat, tetapi potongan-potongan kehidupan yang ada di sekitar kami,” jelas Bokor.
Pengalaman yang dekat tersebut kemudian membuat TARR! memilih pendekatan lirik yang lugas dan musik yang tidak bertele-tele. Mereka merasa tidak perlu menyamarkan cerita dengan bahasa rumit karena hal-hal yang mereka bawa sendiri sudah cukup kuat ketika disampaikan apa adanya.
“Sebuah cerita yang kami bawa di BERANTAKAN sebenarnya berasal dari hal-hal yang dekat dan mudah ditemui sehari-hari, jadi rasanya tidak perlu disampaikan dengan bahasa yang terlalu rumit atau musik yang terlalu banyak basa-basi,” ucap Bokor.
Dengan fondasi punk rock yang tetap dipertahankan, lagu-lagu di BERANTAKAN hadir lewat gitar dan bas yang kasar, ketukan drum catchy, serta cerita-cerita yang lahir dari ruang hidup mereka sendiri. Album tersebut tidak datang untuk memberi jawaban atas berbagai keresahan, tetapi menjadi cara TARR! berdamai dengan realitas yang mereka temui setiap hari.
Perjalanan TARR! juga tidak terpisahkan dari ruang kolektif di Purwokerto. Salah satunya adalah Rukun Warga Kolektif yang kerap mengadakan gigs dengan cara sederhana dan dibangun bersama. Bagi mereka, ruang seperti ini bukan hanya tempat bermain musik, melainkan tempat bertemu, bertukar cerita, gagasan, dan energi dalam lingkar kecil.
Bokor menutup perbincangan dengan memberi kabar bahwa TARR! akan membuka masa prapesan untuk merchandisemereka. Tunggu kabarnya di media sosial TARR!.