pickleballvnz.com

Tak Hanya Kelas Menengah Atas, AAJI Dorong Produk Asuransi Jiwa untuk Pengemudi Ojek hingga UMKM Melalui Pengembangan Teknologi

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo menilai pertumbuhan industri asuransi jiwa tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi kuantitas, seperti kenaikan premi atau jumlah pol...

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo menilai pertumbuhan industri asuransi jiwa tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi kuantitas, seperti kenaikan premi atau jumlah polis. Menurut dia, kualitas pertumbuhan juga harus tercermin dari semakin luasnya masyarakat yang mendapatkan perlindungan.

“Kualitas pertumbuhannya juga harus lebih baik,” ujar Albertus dalam konferensi pers paparan kinerja industri asuransi jiwa semester I-2026 di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Karena itu, AAJI mendorong industri agar tidak hanya menyasar masyarakat kelas menengah atas. Kelompok menengah, menengah bawah, pekerja informal, pengemudi ojek, hingga pelaku UMKM juga dinilai perlu memperoleh produk perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka.

Mengapa AAJI Ingin Asuransi Menjangkau Masyarakat Menengah Bawah?

Secara sederhana, AAJI melihat perluasan perlindungan asuransi penting karena risiko finansial tidak hanya dimiliki orang berpenghasilan tinggi.

Ada beberapa alasan mengapa akses asuransi perlu diperluas ke masyarakat menengah bawah:

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat membutuhkan asuransi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana industri membuat perlindungan tersebut terjangkau, relevan, mudah diakses, dan ekonomis untuk didistribusikan.

Albertus mengatakan AAJI ingin mendorong industri agar tidak melupakan kelompok masyarakat menengah dan menengah bawah.

“Kami ingin agar teman-teman di industri tidak melupakan segmen menengah bawah,” kata Albertus.

Baca Juga: Jumlah Tertanggung Asuransi Jiwa Melonjak 24,8 Persen, Tembus 153,58 Juta Orang

Baca Juga: Unit Link Asuransi Jiwa Bangkit, Premi Bisnis Baru Melonjak 34,5 Persen

Pertumbuhan Industri Belum Tentu Berarti Perlindungan Sudah Merata

Pertumbuhan premi dan jumlah polis memang penting bagi industri asuransi. Namun, angka pertumbuhan tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa perlindungan telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Inilah paradoks yang perlu diperhatikan.

Industri dapat tumbuh secara nominal, tetapi akses perlindungan belum tentu tumbuh secara merata.

Jika pertumbuhan terutama berasal dari masyarakat yang sudah memiliki kapasitas finansial lebih besar, industri memang berkembang. Namun, masih terdapat ruang besar untuk memperluas perlindungan kepada kelompok yang menghadapi risiko finansial tinggi tetapi memiliki kemampuan membayar premi yang lebih terbatas.

Karena itu, kualitas pertumbuhan menjadi penting.

Albertus menilai industri asuransi jiwa harus mampu memperluas jangkauan tanpa hanya berfokus pada masyarakat yang sudah relatif mudah dilayani.

“Kita tidak hanya memikirkan bagaimana masyarakat menengah ke atas melindungi kondisi keuangan mereka,” ujarnya.

Pandangan tersebut mengubah cara melihat inklusi asuransi. Persoalannya bukan semata-mata meningkatkan jumlah orang yang membeli polis, tetapi memastikan semakin banyak kelompok masyarakat memiliki perlindungan yang relevan dengan risiko kehidupan mereka.

Mengapa Pengemudi Ojek Membutuhkan Perlindungan Asuransi?

Pengemudi ojek menjadi salah satu contoh yang disebut langsung oleh Albertus.

Pekerjaan berbasis platform atau gig economy memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pekerjaan formal dengan gaji bulanan. Penghasilan pengemudi sangat bergantung pada kemampuan untuk terus bekerja.

Ketika kondisi fisik terganggu, persoalannya bukan hanya biaya pengobatan. Ada risiko kedua yang tidak kalah penting, yakni hilangnya pemasukan selama tidak dapat bekerja.

Albertus memberikan gambaran sederhana mengenai pentingnya perlindungan tersebut.

“Bagaimana misalnya pengemudi ojek juga dapat dilindungi oleh asuransi. Amit-amit, kalau mereka sakit dan tidak bisa bekerja sehingga tidak memiliki pendapatan, mereka tetap bisa menjalankan kehidupan mereka dengan baik karena memiliki perlindungan,” tutur dia.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan asuransi untuk pengemudi ojek tidak bisa hanya dilihat dari besarnya premi. Produk juga harus mempertimbangkan karakter pendapatan mereka.

Misalnya, seorang pengemudi berusia 30 tahun mengalami kecelakaan dan harus berhenti bekerja selama satu bulan. Ini merupakan ilustrasi, bukan data kasus tertentu.

Selama tidak bekerja, penghasilannya dapat terganggu. Namun, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Biaya makan, tempat tinggal, pendidikan anak, cicilan kendaraan, hingga kebutuhan sehari-hari tidak otomatis berhenti hanya karena penghasilan terhenti.

Dalam kondisi seperti itu, perlindungan yang sesuai dapat berfungsi sebagai penyangga terhadap tekanan finansial, sepanjang manfaat yang diberikan memang sesuai dengan risiko dan ketentuan polis.

Artinya, bagi pekerja informal, fungsi asuransi bukan hanya membayar biaya ketika risiko terjadi. Perlindungan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang dan keluarganya mempertahankan kondisi keuangan ketika sumber pendapatan terganggu.

Bagaimana Asuransi Dapat Membantu UMKM?

Pelaku UMKM juga menghadapi persoalan serupa, tetapi dalam konteks yang lebih luas.

Usaha kecil sering kali sangat bergantung pada pemilik. Pemilik bukan hanya mengambil keputusan, tetapi dapat sekaligus menjadi operator, pengelola keuangan, tenaga pemasaran, bahkan orang yang mengerjakan aktivitas operasional sehari-hari.

Ketika pemilik sakit atau mengalami kecelakaan, dampaknya dapat merembet ke bisnis.

“Begitu juga dengan UMKM yang usahanya masih kecil dan sangat bergantung pada pemiliknya,” ujar Albertus.

Ia melanjutkan, jika pemilik mengalami sakit atau kecelakaan, bisnis tersebut dapat terhenti. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan pemilik memenuhi berbagai kewajiban.

“Kalau mereka sakit atau mengalami kecelakaan, bisnis mereka bisa terhenti. Namun, dengan adanya perlindungan, mereka tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban, termasuk membayar cicilan usaha,” katanya.

Ilustrasi sederhananya, seorang pemilik warung kecil mengalami kecelakaan dan tidak dapat menjalankan usaha selama beberapa minggu. Penjualan turun karena aktivitas operasional ikut terganggu.

Pada saat yang sama, biaya rumah tangga dan kewajiban usaha tetap muncul.

Jika memiliki perlindungan yang tepat, risiko tersebut setidaknya dapat dikelola sehingga satu kejadian tidak langsung berubah menjadi tekanan finansial yang lebih besar.

Karena itu, asuransi untuk UMKM tidak hanya relevan bagi perusahaan besar. Justru semakin bergantung sebuah usaha pada satu orang, semakin besar dampak finansial ketika orang tersebut kehilangan kemampuan untuk bekerja.

Mengapa Teknologi Menjadi Kunci Perluasan Asuransi?

Salah satu hambatan terbesar dalam menyediakan asuransi untuk masyarakat menengah bawah adalah persoalan distribusi.

Produk dengan premi kecil tetap membutuhkan biaya untuk dipasarkan, dijelaskan, diterbitkan, dan dilayani. Jika seluruh proses dilakukan dengan model distribusi konvensional yang mengandalkan tenaga manusia secara intensif, biaya tersebut bisa menjadi tidak sebanding dengan nilai premi.

Albertus menilai teknologi dapat menjadi solusi untuk persoalan tersebut.

“Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Menurut Albertus, jika tenaga manusia digunakan untuk menjual produk ke seluruh Indonesia sementara nilai preminya kecil, model tersebut tidak mudah dilakukan secara ekonomis.

Teknologi kemudian dapat mengubah perhitungan tersebut.

Dengan ekosistem digital, proses pemasaran, pembelian, administrasi, hingga pelayanan dapat dilakukan dengan lebih efisien. Industri juga memiliki peluang menjangkau masyarakat dalam jumlah besar tanpa harus menggunakan pola distribusi yang sama seperti produk bernilai premi tinggi.

Albertus menyebut terdapat salah satu perusahaan anggota AAJI yang, dengan dukungan teknologi dan ekosistem yang baik, mampu menjual polis hingga jutaan polis per bulan.

Ia tidak menyebut nama perusahaan tersebut dalam paparannya.

Poin yang lebih penting dari contoh itu bukan sekadar besarnya jumlah polis, melainkan bukti bahwa digitalisasi asuransi dapat mengubah ekonomi distribusi produk berpremi kecil.

Tantangan Asuransi untuk Kelas Menengah Bawah Bukan Sekadar Menjual Polis

Ketersediaan aplikasi atau kanal digital belum otomatis menyelesaikan persoalan inklusi asuransi.

Ada setidaknya beberapa tantangan yang perlu dijawab industri:

  1. Produk harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
    Risiko pengemudi ojek tidak selalu sama dengan pekerja kantoran atau pemilik perusahaan.

  2. Premi harus sesuai kemampuan.
    Produk yang terlalu mahal akan sulit dijangkau kelompok dengan pendapatan terbatas.

  3. Manfaat harus mudah dipahami.
    Konsumen perlu mengetahui risiko apa yang ditanggung, bagaimana proses klaim, serta kondisi yang berlaku.

  4. Distribusi harus efisien.
    Premi yang rendah membutuhkan biaya akuisisi dan administrasi yang juga efisien.

  5. Perlindungan harus berkelanjutan.
    Membeli polis bukan tujuan akhir jika masyarakat kemudian kesulitan mempertahankan perlindungan.

Karena itu, penetrasi asuransi tidak akan otomatis meningkat hanya karena produk sudah tersedia secara digital.

Produk harus relevan dengan pola pendapatan dan risiko kehidupan calon nasabah.

Inilah salah satu tantangan terbesar industri ketika mencoba memperluas pasar dari kelompok menengah atas menuju masyarakat dengan kemampuan finansial yang lebih terbatas.

Klaim Asuransi Menunjukkan Fungsi Perlindungan Tetap Relevan

Perluasan akses tersebut juga perlu dilihat dari fungsi dasar asuransi sebagai perlindungan.

Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM AAJI Freddy Thamrin menyampaikan bahwa sepanjang semester I 2026, industri asuransi jiwa membayar total klaim dan manfaat sebesar Rp75,57 triliun, meningkat 4,3% dibandingkan semester I 2025.

Jumlah penerima manfaat juga naik dari sekitar 4,82 juta orang menjadi 5,01 juta orang.

“Artinya, manfaat perlindungan tidak hanya meningkat dari sisi nilai pembayaran, tetapi juga menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” kata Freddy.

Data tersebut penting dalam konteks perluasan akses karena menunjukkan bahwa produk asuransi pada akhirnya berkaitan dengan pembayaran manfaat ketika pemegang polis atau penerima manfaat menghadapi kondisi yang tercakup dalam polis.

Freddy juga mencatat pembayaran klaim meninggal dunia mencapai Rp6,50 triliun atau meningkat 25,5%. Sementara klaim kesehatan mencapai Rp13,58 triliun atau naik 11,3%.

Angka tersebut tidak berarti seluruh kenaikan klaim dapat langsung dikaitkan dengan masyarakat menengah bawah. Namun, data tersebut memperlihatkan bahwa fungsi proteksi tetap menjadi bagian penting dari industri.

Secara khusus, klaim kesehatan kumpulan meningkat 83,1% menjadi Rp4,84 triliun, sementara klaim kesehatan perorangan turun 8,6% menjadi sekitar Rp8,74 triliun.

Menurut Freddy, perkembangan tersebut perlu dibaca bersama dinamika biaya pelayanan kesehatan dan pola pemanfaatan layanan kesehatan.

Apa Artinya bagi Masa Depan Inklusi Asuransi Indonesia?

Dorongan AAJI untuk memperluas akses asuransi masyarakat menunjukkan bahwa fase berikutnya dari pertumbuhan industri tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan bisnis yang sudah ada.

Ada peluang untuk menjangkau kelompok yang selama ini menghadapi hambatan berbeda.

Pengemudi ojek membutuhkan perlindungan yang mempertimbangkan risiko kehilangan pendapatan ketika tidak dapat bekerja. Pekerja informal membutuhkan produk yang tidak bergantung pada struktur benefit perusahaan. UMKM membutuhkan perlindungan terhadap risiko yang dapat mengganggu keberlangsungan usaha.

Karakter tersebut membuat pendekatan “satu produk untuk semua” menjadi kurang relevan.

Di sisi lain, teknologi memberikan peluang untuk membuat distribusi menjadi lebih murah dan menjangkau masyarakat lebih luas. Namun, teknologi hanya menjadi alat. Kualitas produk, kesesuaian manfaat, kemampuan membayar premi, serta pemahaman konsumen tetap menjadi faktor penentu.

Albertus menegaskan bahwa AAJI ingin pertumbuhan industri tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memiliki kualitas dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Itulah yang sedang kami pikirkan, supaya pertumbuhan industri tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memiliki kualitas yang baik dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas,” kata Albertus.

Pada akhirnya, masa depan industri asuransi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar premi yang berhasil dikumpulkan. Ukuran lainnya adalah seberapa banyak masyarakat Indonesia yang sebelumnya rentan terhadap guncangan finansial kini memiliki perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

Jika teknologi dapat membuat distribusi lebih efisien, sementara industri mampu merancang produk yang benar-benar relevan bagi pekerja informal, pengemudi ojek, dan UMKM, maka perluasan perlindungan dapat menjadi sumber pertumbuhan sekaligus bagian dari penguatan inklusi asuransi di Indonesia.

Bagi masyarakat, pertanyaannya bukan sekadar apakah memiliki asuransi atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perlindungan yang dimiliki benar-benar sesuai dengan risiko kehidupan dan kemampuan finansial masing-masing.

Pantau terus perkembangan industri asuransi dan perlindungan finansial masyarakat Indonesia untuk memahami bagaimana perubahan ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bancassurance Masih Merajai Penjualan Asuransi, tetapi Broker Tumbuh Paling Cepat

Baca Juga: Total Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 11,2 Persen, Tapi Premi Justru Tumbuh 8,2 Persen

FAQ

Mengapa pengemudi ojek membutuhkan perlindungan asuransi?

Pengemudi ojek sangat bergantung pada kemampuan fisik untuk memperoleh pendapatan. Ketika sakit atau mengalami kecelakaan dan tidak dapat bekerja, pemasukan dapat terganggu sementara kebutuhan rumah tangga dan kewajiban lainnya tetap berjalan. Perlindungan yang sesuai dapat membantu mengurangi tekanan finansial akibat risiko tersebut sesuai manfaat dan ketentuan polis.

Apakah pelaku UMKM membutuhkan asuransi?

Pelaku UMKM dapat membutuhkan perlindungan karena usaha kecil sering sangat bergantung pada pemiliknya. Ketika pemilik mengalami sakit atau kecelakaan, operasional dan pendapatan usaha dapat terganggu. Perlindungan yang tepat dapat membantu mengelola dampak finansial dari risiko tersebut.

Bagaimana teknologi membantu memperluas akses asuransi?

Teknologi dapat membuat distribusi dan administrasi produk menjadi lebih efisien sehingga industri memiliki peluang menjangkau konsumen dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah. Menurut Albertus Wiroyo, teknologi dan ekosistem yang baik dapat membantu perusahaan menjual produk dalam jumlah sangat besar, termasuk produk dengan nilai premi yang relatif kecil.

Mengapa pekerja informal memiliki risiko kehilangan pendapatan yang lebih besar?

Pekerja informal umumnya memiliki hubungan kerja dan struktur penghasilan yang berbeda dari pekerja bergaji tetap. Bagi sebagian pekerja informal, kemampuan bekerja secara langsung berkaitan dengan pendapatan harian atau bulanan. Ketika kemampuan bekerja terganggu akibat risiko kesehatan atau kecelakaan, pendapatan juga dapat ikut terdampak.

Apa perbedaan kebutuhan perlindungan pekerja formal dan informal?

Kebutuhan perlindungan setiap orang berbeda. Pekerja formal mungkin telah memiliki sejumlah manfaat dari pemberi kerja, sedangkan pekerja informal dapat membutuhkan perlindungan yang lebih mandiri. Karena itu, produk asuransi perlu mempertimbangkan pola pendapatan, jenis risiko, kemampuan membayar premi, dan kebutuhan masing-masing kelompok.

Mengapa premi asuransi harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat?

Premi menjadi salah satu faktor penting dalam akses asuransi. Produk dengan manfaat yang tidak sesuai kemampuan finansial akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, perluasan asuransi untuk masyarakat menengah bawah membutuhkan keseimbangan antara manfaat perlindungan, risiko yang ditanggung, dan kemampuan membayar premi.

Mengapa inklusi asuransi penting bagi Indonesia?

Inklusi asuransi membantu memperluas perlindungan finansial kepada masyarakat yang menghadapi berbagai risiko kehidupan. Bagi kelompok dengan pendapatan terbatas, kejadian seperti sakit atau kecelakaan dapat memiliki dampak finansial yang lebih besar. Perluasan akses dapat membantu lebih banyak masyarakat memiliki mekanisme perlindungan sesuai kebutuhan mereka.