Potensi panas bumi: dari listrik, hidrogen, hingga pertanian
Pemanfaatan energi panas bumi atau geotermal di Indonesia berpeluang berkembang jauh melampaui pembangkitan listrik. Energi dari sumber panas bumi dapat dimanfaatkan secara langsung untuk berbagai kebutuhan, mu...
Pemanfaatan energi panas bumi atau geotermal di Indonesia berpeluang berkembang jauh melampaui pembangkitan listrik. Energi dari sumber panas bumi dapat dimanfaatkan secara langsung untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga mendukung pengembangan hidrogen hijau dan amonia.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan uap panas bumi yang selama ini dikenal sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik sebenarnya memiliki kegunaan yang lebih luas.
“Kalau selama ini kita kenal menjadi listrik, sebetulnya steam panas bumi ini bisa menjadi sumber air panas, ataupun bisa mengeringkan kopi,” kata Eniya di ajang The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026, Rabu (19/8).
Pemanfaatan langsung atau direct use tersebut membuka peluang penggunaan panas bumi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sumber daya di masing-masing wilayah.
Di sektor pertanian, misalnya, panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dalam proses pengeringan komoditas seperti kopi.
Dengan pendekatan tersebut, nilai ekonomi panas bumi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kapasitas listrik yang dapat dihasilkan. Sumber energi ini juga berpotensi mendukung aktivitas ekonomi lain yang membutuhkan energi panas secara langsung.
Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA) Julfi Hadi mengatakan pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi baseload tidak seharusnya berhenti pada sektor ketenagalistrikan.
“Utilisasi base load geothermal tentunya bukan saja untuk power. Kita telah memulai mendorong penciptaan new revenue-based streams melalui proyek utilisasi data center, green hydrogen dan amonia, serta aplikasi direct use di sektor agrikultur,” ujar Julfi.
Pengembangan tersebut menunjukkan terbukanya peluang untuk menciptakan sumber nilai ekonomi baru dari panas bumi. Selain sektor pertanian, pemanfaatannya dapat diarahkan untuk kebutuhan industri dan pengembangan energi baru seperti hidrogen hijau.
Hidrogen hijau menjadi salah satu area yang berpotensi dikembangkan karena proses produksinya membutuhkan pasokan energi bersih. Dalam konteks ini, panas bumi dapat menjadi salah satu sumber energi untuk mendukung pengembangannya.
Di sisi lain, konsep direct use memungkinkan energi panas dimanfaatkan tanpa harus terlebih dahulu dikonversi menjadi listrik. Pendekatan tersebut dapat membuka peluang penerapan yang lebih spesifik pada wilayah yang memiliki sumber daya panas bumi.
Diversifikasi pemanfaatan ini pada akhirnya dapat memperluas nilai tambah industri panas bumi. Tidak hanya menjadi sumber listrik, panas bumi berpeluang menjadi bagian dari rantai energi dan aktivitas ekonomi yang lebih luas, mulai dari pertanian, industri, pusat data, hingga pengembangan hidrogen hijau dan amonia