pickleballvnz.com

Tak Cuma Hormuz, 2 Selat Termasuk di RI Ini Jalur Vital & Rentan Dunia

Jakarta, CNN Indonesia -- Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah membawa dampak ekonomi yang amat luas bagi dunia.Itu karena Selat Hormuz, celah sempit milik laut Iran, menjadi jalur perdagangan ...

Jakarta, CNN Indonesia --

Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah membawa dampak ekonomi yang amat luas bagi dunia.

Itu karena Selat Hormuz, celah sempit milik laut Iran, menjadi jalur perdagangan dunia, khususnya minyak.

Sekitar 20-25 persen minyak dunia diangkut lewat selat ini setiap hari. Tidak heran banyak negara mengalami gangguan pasokan bahan bakar akibat konflik ini. Apalagi Iran melakukan langkah penutupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selat Hormuz bukan satu-satunya jalur perdagangan yang riskan bagi perekonomian dunia. Para peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) sudah memetakan Laut China Selatan sebagai jalur yang tidak kalah penting. Bahkan, gangguan dari jalur ini dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.

Laut China Selatan sangat penting bukan hanya untuk lalu lintas maritim regional tetapi juga untuk perdagangan global. Pada 2024, hampir US$6,4 triliun nilai barang secara kolektif melewati delapan selat utamanya.

Punya dua selat penting

Laut China punya dua selat penting, Selat Malaka dan Selat Taiwan. Kedua jalur perdagangan utama ini masing-masing mengangkut barang senilai lebih dari US$2,4 triliun pada 2024 atau 21 persen dari perdagangan maritim global, demikian penjelasan dalam laporan penelitian yang dilakukan antara lain oleh Brian Hart, Wakil Direktur dan Rekan Peneliti China Power Project dan Matthew P Funaiole, Wakil Presiden, iDeas Lab.

Maka jika terjadi konflik di Laut Cina Selatan, menyebabkan gangguan besar terhadap arus perdagangan melalui jalur tersebut. Upaya Iran untuk mengendalikan dan memungut bea lalu lintas melalui Selat Hormuz telah memperbarui kekhawatiran bahwa negara-negara dapat mencoba melakukan hal yang sama terhadap Selat Malaka.

Ancaman China untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan juga telah menempatkan Selat Taiwan di pusat salah satu titik panas geopolitik paling berisiko di dunia. Jika salah satu dari dua selat utama ini terganggu, opsi pengalihan rute memang ada, tetapi akan membutuhkan biaya sangat besar.

China menghadapi "dilema Selat Taiwan" yang lebih besar daripada "dilema Malaka." Para pejabat China telah lama memperingatkan tentang "dilema Malaka" mengingat sebagian besar perdagangan China-terutama impor energi-harus melewati Selat Malaka dan rentan terhadap blokade atau gangguan lainnya.

Namun, tindakan militer oleh China yang mengganggu Selat Taiwan dapat merugikan ekonomi China bahkan lebih parah daripada gangguan di Selat Malaka.

Pada 2024, sekitar 33 persen impor China dan 16 persen ekspornya melewati Selat Taiwan, sementara 21 persen impor China dan 14 persen ekspornya melewati Selat Malaka.

"Amerika Serikat memang tidak secara langsung bergantung pada Laut Cina Selatan untuk sebagian besar perdagangannya, tetapi sekutu dan mitra utama AS sangat bergantung pada jalur perairannya, terutama Selat Taiwan," demikian paparan dari makalah yang diterbitkan pada 1 Juli itu.

Hanya 3-4 persen dari seluruh perdagangan AS yang melewati Selat Malaka dan Selat Taiwan masing-masing pada tahun 2024. Tapi bagi sekutu AS, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, risikonya jauh lebih besar, terutama di Selat Taiwan.

Pada 2024, mereka secara kolektif mengirimkan barang senilai US$755 miliar melalui Selat Taiwan dan sekitar US$474 miliar melalui Selat Malaka. Bagi Taiwan, taruhan di Selat Taiwan sangat penting.

Banyak negara di Afrika dan Timur Tengah termasuk yang paling bergantung pada Laut Cina Selatan. Sebanyak enam negara Teluk Persia-Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA)-bergantung pada Selat Malaka untuk lebih dari 40 persen ekspor mereka pada 2024.

Di Afrika, negara pesisir kecil Eritrea bergantung pada Selat Malaka untuk mengirim 90 persen ekspornya ke Asia, dan tiga negara Afrika-Djibouti, Ethiopia, dan Kenya-menerima lebih dari 40 persen impor mereka melalui Selat Malaka.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add

as a preferred
source on Google


HALAMAN: