pickleballvnz.com

Tak Ada Momentum Lionel Messi Kali Ini, Albiceleste Antiklimaks dan Tercela

Air matanya tak tertahankan meski tak tersedu-sedu. Kapten Tim Nasional Argentina itu menangisi kekalahannya dalam final Piala Dunia ketiga sepanjang kariernya yang panjang itu.https://akurat.co/bola/874836/has...

Air matanya tak tertahankan meski tak tersedu-sedu. Kapten Tim Nasional Argentina itu menangisi kekalahannya dalam final Piala Dunia ketiga sepanjang kariernya yang panjang itu.

https://akurat.co/bola/874836/hasil-spanyol-vs-argentina-ferran-torres-bawa-la-roja-juara-piala-dunia-2026

Suasana emosional itu semakin menjadi ketika Messi mendengarkan suporter Argentina yang merupakan mayoritas di Stadion MetLife tetap meneriakkan namanya meski Albiceleste gagal menjadi juara.

Di negaranya sendiri, salah satu surat kabar olahraga terkemuka, Ole, menulis tajuk yang berusaha membesarkan hati: “Sub Campeones: Sean Eternos”. Judul itu bisa berarti “Runner-up, Semoga Mereka Abadi”.

Halaman depan suratkabar Argentina, Ole, edisi Senin (20/7/2026). X/Front Pages.

Tekanan dan perhatian akan selalu berada pada Messi apapun hasil pertandingan di New Jersey, semalam. Apa boleh buat? Pemain ini oleh sebagian pihak dianggap sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah keberadaan sepakbola di muka bumi.

Lebih dari itu, jika dilihat dari sudut pandang penonton netral, kekalahan Argentina tersebut tampaknya lebih dikarenakan permainan Albiceleste yang tak mencerminkan apa yang mereka lakukan sepanjang turnamen.

Argentina boleh dikatakan sebagai tim paling menghibur dan memberikan sensasi di Piala Dunia kali ini. Bukan karena gol-golnya, tulis kolumnis The Guardian Pablo Iglesias Maurer, tetapi karena “kapan” gol-gol tersebut diciptakan.

Terutama setelah kemenangan melawan Inggris di mana Argentina tertinggal 0-1 melalui aksi Anthony Gordon di menit ke-55 namun membalikkan keadaan dengan menang 2-1 berkat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez dengan dua assist Messi.

Sedangkan di final, Argentina bahkan tanpa percobaan mencetak gol dan tembakan tepat sasaran di waktu reguler. Total mereka didominasi Spanyol yang melakukan 20 tembakan dengan sebelas tepat sasaran plus 68 persen penguasaan bola.

“Argentina sama sekali tidak bisa protes dengan apa yang terjadi. Perilaku mereka tercela,” kata eks Kiper Timnas Inggris, Joe Hart.

Mengapa Permainan Argentina Antiklimaks?

Jika Anda melihat permainan Argentina di fase gugur, yang membuat tim ini mengesankan adalah mental pantang menyerah, sedikit “preman”, dipuncaki dengan kejeniusan Lionel Messi.

Pengamat sepakbola ESPN asal Skotlandia, Craig Burley, menyebutnya dengan “keantikan” Argentina. Sayangnya, kata Burley, keantikan yang dinanti itu tidak muncul dan bahkan Argentina justru menunjukkan penampilan yang “menjijikkan”.

“Saya suka apa yang mereka lakukan dalam hal, bukan cara mereka bermain, saya suka nyali dan bangkit dan bertarung, seperti melawan Inggris dan tim-tim lain,” kata Craig Burley dipetik dari ESPN.

https://akurat.co/bola/874946/lionel-scaloni-isyaratkan-tinggalkan-argentina-usai-gagal-pertahankan-gelar-piala-dunia

“Saya suka mereka punya semangat itu dan kualitas itu di 20 menit akhir pertandingan, itulah mengapa saya merasa kita akan melihat hal yang sama hari ini, tetapi apa yang kita lihat benar-benar kebalikannya.”

Setidaknya ada dua hal yang membuat Argentina yang antik tidak muncul di laga melawan Spanyol. Yang pertama adalah kualitas permainan kolektif Spanyol dan yang kedua adalah kebijakan Scaloni untuk menunggu momen bersama Messi.

Spanyol sudah menunjukkan kapabilitas mereka ketika membuat Prancis yang difavoritkan sebagai tim juara seakan-akan tampak “medioker” di semifinal.

Sebaliknya, Argentina berusaha mencari celah untuk mendapatkan momentum Messi  dari penguasaan bola Spanyol yang, sayangnya, gagal mereka dapatkan.

"Kita tahu ini bukan Argentina yang terbaik yang pernah kita lihat. Tetapi memberikan penampilan seperti itu di final Piala Dunia, itu negatif, penampilan tercela,” kata Burley.

Situasi menjadi semakin tak menentu bagi Albiceleste ketika Enzo Fernandez dikartumerah lewat kartu kuning kedua pada menit ke-90+3 karena menjegal Pau Cubarsi.

Tim Nasional Spanyol saat berada di podium juara Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). X/SEFutbol

Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, membela penampilan pasukannya seraya menyatakan bahwa Spanyol layak menang. Pelatih berusia 48 tahun ini juga merasa pasukannya tetap berpeluang andai Enzo Fernandez tak dikartumerah.

“Meskipun mereka menguasai kami sampai menit ke-85, saya ingin tahu apa yang terjadi jika kami masih punya sebelas pemain di lapangan,” kata Scaloni.

Well, momentum tak datang untuk Argentina melalui Messi di Piala Dunia kali ini. Lagi pula, tampaknya Spanyol menunjukkan bahwa mereka lebih kuat dalam hal hasrat untuk menang.

Sedih bagi Argentina, tentu saja. Tetapi bagi penikmat sepakbola secara umum, adalah cara mereka bermain yang sangat disesalkan.