Sungai Simpang Kapal Aceh Tamiang berubah hitam dan bau, diduga tercemar limbah - ANTARA News Aceh
Aceh Tamiang (ANTARA) - Air Sungai Simpang Kapal Desa Lhok Medang Ara, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang berubah warna menjadi hitam dan bau, diduga tercemar limbah pabrik. "Saya baru tahu kemarin air sungai...
Aceh Tamiang (ANTARA) - Air Sungai Simpang Kapal Desa Lhok Medang Ara, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang berubah warna menjadi hitam dan bau, diduga tercemar limbah pabrik.
"Saya baru tahu kemarin air sungai hitam. Kita tidak tahu limbah apa ini, tapi di atas ada pabrik sawit memang," kata salah seorang warga setempat, Muslim, di Aceh Tamiang, Sabtu.
Menurutnya, kejadian air Sungai Simpang Kapal berubah hitam bukan pertama kali terjadi. Menurut dia, sampel airnya sudah pernah diambil oleh orang perusahaan untuk pengujian laboratorium.
"Hari itu ada orang dari perusahaan datang ke sungai ini ambil sampel air hitam. Ini terjadi lagi, tengoklah airnya sampai hitamnya pekat," ujarnya.
Sementara itu warga lainnya mengatakan, kondisi air sungai Simpang Kapal berubah hitam sudah berlangsung sekitar tiga hari pascabanjir surut pada 12 Oktober lalu.
Warga juga memprotes sungai mereka telah tercemar limbah beracun sebab banyak ditemukan ikan mati. Ikan yang mengapung ke permukaan diambil oleh anak-anak sekitar dan yang mati ditinggal. Mereka tidak tahu pasti limbah berbau anyir tersebut berasal dari industri mana.
"Ikan aja mabok pada mati, pasti limbah berbahaya ini. Airnya gatal kalau kena di kulit," ucap warga.
Lebih jauh, warga pribumi ini menceritakan, aliran sungai Simpang Kapal meliputi delapan desa bermuara di Desa Raja Tuha, Kecamatan Manyak Payed menuju laut lepas Selat Malaka.
Sumber air sungai sejak dulu digunakan warga untuk mengairi areal persawahan dan kebun hortikultura (sayur-mayur). Setiap kali tercemar oleh limbah warga hanya bisa pasrah tidak tahu melapor kemana.
"Sungai ini alirannya terpisah dengan sungai besar Tamiang. Zaman dulu airnya jernih, sekarang ini sudah banyak tercemar limbah. Jangankan dikonsumsi, mandi di sungai pun tidak pernah lagi," pungkas warga itu.
Pewarta: Dede Harison
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.