Sultan HB: Kepercayaan modal penting dalam persaingan usaha di era AI
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut kepercayaan merupakan kunci dan modal penting dalam persaingan usaha di era kecanggihan artificial ANTARA News jogja 29 ...
Sultan HB: Kepercayaan modal penting dalam persaingan usaha di era AI
Kamis, 27 Agustus 2026 17:48 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat membuka Festival Pemasaran Jogja ke-14 Tahun 2026 di Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/HO-Humas Pemda DIY
Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut kepercayaan merupakan kunci dan modal penting dalam persaingan usaha di era kecanggihan artificial intelliegence (AI) atau kecerdasan buatan.
"Di tengah kemampuan AI membaca perilaku dan memprediksi kebutuhan konsumen, kepercayaan menjadi modal penting untuk menjaga hubungan jangka panjang antara pelaku usaha dan masyarakat," kata Sultan saat membuka Festival Pemasaran Jogja ke-14 di Yogyakarta, Kamis.
"Konsumen bukan hanya bagian dari aktivitas ekonomi, tetapi juga manusia yang memiliki hak atas privasi, informasi, pilihan, dan perlindungan dari manipulasi," katanya.
Dia mengatakan, etika tidak seharusnya ditempatkan sebagai penghambat inovasi, justru ketika AI semakin banyak digunakan dalam proses bisnis, kepercayaan dapat menjadi sumber keunggulan yang membedakan satu usaha dengan usaha lainnya.
"Kecerdasan artifisial dapat memenangkan perhatian. Algoritma dapat meningkatkan transaksi. Data dapat mempercepat keputusan. Namun, hanya kepercayaan yang dapat memenangkan masa depan," katanya.
Gubernur DIY berharap, Festival Pemasaran Jogja 2026 menjadi ruang untuk membangun strategi persaingan yang tidak hanya unggul secara bisnis, tetapi juga sehat, beradab, dan bertanggung jawab.
Menurut Gubernur DIY, perkembangan teknologi AI membuka peluang besar bagi pemasaran sekaligus menuntut penggunaan teknologi yang tetap berpegang pada nilai kemanusiaan.
"AI mampu membaca perilaku konsumen, memperkirakan kebutuhan, menyusun pesan, memberikan rekomendasi, dan mempersonalisasi pengalaman," katanya.
Namun, Sultan mengingatkan kemampuan teknologi yang semakin besar harus diikuti tanggung jawab yang makin besar, terdapat risiko ketika kemampuan AI dalam mengenali manusia justru membuat konsumen diperlakukan hanya sebagai kumpulan data.
Sri Sultan menekankan ada empat hal yang perlu menjadi perhatian, yakni personalisasi tanpa penyusupan, persuasi tanpa manipulasi, otomasi dengan tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab, serta keterbukaan yang mampu membangun kepercayaan.
Karena itu, Sri Sultan mengajak pelaku usaha melihat kembali nilai budaya Jawa Tuna Satak, Bathi Sanak, nilai yang mengajarkan kesediaan mengorbankan sebagian keuntungan untuk memperoleh sesuatu yang lebih bernilai, diantaranya adalah hubungan baik, kepercayaan, dan persaudaraan.
"Dalam hitungan sesaat, keputusan itu mungkin tampak sebagai tuna satak (rugi sedikit). Tetapi apabila yang diperoleh adalah kepercayaan masyarakat, loyalitas pelanggan, reputasi, dan keberlanjutan usaha, sesungguhnya itulah 'bathi sanak' dalam maknanya yang paling modern," katanya.
Sri Sultan juga mendorong agar orientasi pemasaran yang selama ini berpusat pada pelanggan dikembangkan menjadi pemasaran yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat perhatian.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sultan HB: Kepercayaan modal penting dalam persaingan usaha di era AI
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026