Suku Bunga Tinggi, Mampukah Kredit UMKM Melanjutkan Pertumbuhan?
ILUSTRASI. Perajin ulat sutera di Bogor (KONTAN/Baihaki) Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi tantanga...
ILUSTRASI. Perajin ulat sutera di Bogor (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi tantangan baru. Meski pelaku UMKM masih menunjukkan optimistisme bisnis, suku bunga yang bertahan di level tinggi berisiko menghambat permintaan kredit.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) merilis Indeks Bisnis UMKM kuartal II-2026. Hasilnya, aktivitas bisnis UMKM masih berada pada fase ekspansif dengan indeks di level 102,1. Pun, survei memproyeksi bisnis UMKM di semua sektor masih ada di koridor ekspansif pada kuartal III-2026, meski lebih moderat.
Hal itu nampak pada Indeks Ekspektasi sentimen bisnis pelaku UMKM untuk kuartal III-2026 yang tercatat sebesar 120,2. Hasil yang jauh di atas 100 ini mencerminkan optimisme yang masih kuat terhadap prospek ekonomi, sektor usaha, dan perkembangan usaha ke depan.
Baca Juga: MK Putuskan Syarat Klaim Wajib Ada di Polis Asuransi Sejak Awal, Ini Kata Prudential
Namun, keyakinan bisnis belum otomatis mendorong kredit UMKM. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menyebut, kombinasi daya beli yang stagnan dan kenaikan harga barang input mempersempit margin keuntungan pelaku UMKM. Pada gilirannya, itu membuat mereka cenderung menahan ekspansi yang didanai utang.
Di luar itu, kenaikan suku bunga global yang berpotensi bertransmisi ke suku bunga domestik juga berisiko menahan permintaan kredit UMKM.
“Permintaan kredit masih berpotensi melandai seiring beberapa faktor seperti tekanan biaya operasional dan daya beli konsumen yang stagnan,” kata David kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Namun begitu, di tengah sejumlah tantangan yang menekan kinerja pelaku UMKM, David bilang target pertumbuhan kredit UMKM di level 7%–9% yang dipatok regulator masih berpotensi tercapai. Apalagi, seiring terealisasinya siklus belanja akhir tahun dan percepatan penyerapan anggaran proyek pemerintah.
Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit UMKM tumbuh 1,6% secara tahunan menjadi Rp 1.520,9 triliun per Juli 2026, melaju dari pertumbuhan 1% pada bulan sebelumnya.
Dalam menggenjot kredit ke segmen UMKM, David bilang bank perlu melakukan pendekatan ekosistem dan rantai pasok guna melihat kepastian pasar (captive market) bagi produk UMKM. Dengan begitu, risiko gagal bayar bisa terminimalisir.
Pasalnya, memperhitungkan kondisi ekonomi saat ini, David bilang ruang kenaikan kredit bermasalah di segmen UMKM masih terbuka. Meski, bisa diminimalisir dengan penyaluran yang lebih selektif.
Menurut Direktur Utama BRI Hery Gunardi, optimisme bisnis UMKM perlu ditopang dengan menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Bunga Kredit Belum Banyak Bergerak, Bank Menanti Arah Kebijakan BI
“BRI akan terus mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung UMKM agar mampu menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” ujar Hery.
Hingga kuartal II-2026, portofolio kredit UMKM BRI mencapai Rp 1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% secara tahunan.
Di tengah berbagai tantangan yang ada, BRI berupaya memperkuat UMKM melalui pendekatan pemberdayaan secara end-to-end, termasuk dengan mengembangkan akses keuangan inklusif. Dalam periode yang sama, platform digital BRI LinkUMKM menjangkau 17,3 juta pelaku UMKM.
Berbagai pendekatan yang diusung diarahkan untuk membangun siklus pemberdayaan yang berkelanjutan. Dengan begitu, UMKM dapat terus berkembang dan meningkatkan kapasitas usaha, serta kian terintegrasi ke dalam ekosistem keuangan yang lebih luas.
Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat penyaluran pembiayaan UMKM sebanyak Rp 55,17 triliun per kuartal II-2026. Angka ini mencerminkan rasio pembiayaan UMKM sebesar 33,65%, melebihi target 30% yang ditetapkan.
Tak berbeda jauh, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo bilang pihaknya bakal memperkuat segmen UMKM melalui tiap-tiap hubungan bisnis baru dan pendampingan formal, mulai dari pemetaan kategori usaha, optimalisasi pembiayaan, hingga monitoring pembiayaan yang ketat.
Anggoro bilang pihaknya optimistis kinerja pembiayaan, terkhusus di segmen UMKM, masih bakal tumbuh solid. Salah satunya ditopang oleh stimulus insentif dan kebijakan pemerintah. “Itu dapat mendorong pertumbuhan industri,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag