pickleballvnz.com

Studi Bilang Anak ‘Asuhan’ Daycare Lebih Berprestasi, tapi…

CNN Indonesia Jumat, 07 Agu 2026 14:00 WIB Ilustrasi. Menurut studi terbaru di Singapura, anak yang diasu...

CNN Indonesia

Jumat, 07 Agu 2026 14:00 WIB

Menurut studi terbaru di Singapura, anak yang diasuh non-orang tua bisa lebih berprestasi, tetapi memiliki masalah emosional dan perilaku.
Ilustrasi. Menurut studi terbaru di Singapura, anak yang diasuh non-orang tua bisa lebih berprestasi, tetapi memiliki masalah emosional dan perilaku. (iStockphoto/globalmoments)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi di Singapura mengemukakan, anak yang diasuh oleh orang lain, misalnya dititipkan di daycare, cenderung menunjukkan prestasi akademik lebih baik saat masuk usia prasekolah. Namun ada masalah yang harus dihadapi pula oleh orang tua.

Pada temuan yang sama, anak yang sering dititipkan pada 18 bulan pertama kehidupannya, memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terhadap masalah perilaku dan emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip The Independent Singapore News, studi ini merupakan kolaborasi Institute for Human Development and Potential (IDP) di bawah Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) serta Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore. Adapun hasil riset ini sudah dipublikasikan pada jurnal akademik internasional, Child Development (Juni 2026).

Lingkup penelitian studi ini, yakni pengasuhan non-orang tua di lingkungan penitipan anak seperti daycare, termasuk pengasuhan di rumah oleh kerabat atau asisten rumah tangga.

Analisis data dilakukan terhadap 2.580 anak dan keluarga mereka. Data ini sendiri dikumpulkan melalui dua gelombang survei pada 2018-2019 dan 2021.

Pilihan Redaksi

Para peneliti menemukan, anak-anak yang diasuh oleh orang lain selain orang tua selama 18 bulan pertama masa hidupnya, memiliki kemampuan membaca dan matematika yang baik ketika masuk usia prasekolah. Kemampuan ini lebih baik ketimbang anak yang diasuh sepenuhnya oleh orang tua.

Namun prestasi akademik ini dibarengi dengan tantangan baru bagi orang tua terkait perilaku dan kematangan emosional anak. Anak-anak hasil asuhan non-orang tua ini menunjukkan perilaku eksternalisasi, seperti hiperaktif dan perilaku tidak pantas, dibarengi perilaku internalisasi, seperti kecemasan dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Studi ini juga menyoroti pengalaman para orang tua. Orang tua yang anaknya diasuh oleh pihak lain saat masih bayi, cenderung melaporkan tingkat stres parenting yang lebih tinggi ketika anak memasuki usia prasekolah.

Para orang tua juga lebih sering menggunakan pola disiplin yang bersifat menghukum, seperti memarahi, hukuman fisik, dan pencabutan hak atau privilese anak.

Menurut para peneliti, temuan ini mengindikasikan sebagian orang tua mungkin kesulitan menghadapi tuntutan parenting. Hal ini kemungkinan memicu stres yang kemudian memengaruhi cara mereka merespons perilaku anak dalam keseharian.

Tingginya stres orang tua dan kerasnya pola disiplin juga berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan munculnya masalah perilaku pada anak.

Penelitian tersebut turut menemukan pola lain terkait waktu dan durasi pengasuhan non-orang tua. Anak yang baru diasuh orang lain setelah 18 bulan, lebih cenderung mengalami masalah perilaku internalisasi.

Adapun anak yang diasuh non-orang tua dalam jangka waktu lebih lama, lebih mungkin menunjukkan masalah perilaku eksternalisasi.

(rti)

[Gambas:Video CNN]