pickleballvnz.com

Skema air bersih kolektif hemat pengeluaran warga MBR di Surakarta

Surakarta (ANTARA) - Penerapan skema saluran air bersih berbasis pompanisasi di Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, dinilai berhasil memangkas biaya untuk konsumsi air rumah tangga bagi ...

Surakarta (ANTARA) - Penerapan skema saluran air bersih berbasis pompanisasi di Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, dinilai berhasil memangkas biaya untuk konsumsi air rumah tangga bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) hingga mencapai 70 persen.

Ketua RT 1 RW 10 Margorejo, Suwarno (77) di Surakarta, Kamis, mengatakan bahwa manfaat penghematan tersebut dirasakan cukup signifikan bagi keluarganya sejak saluran air rumahnya tersambung dengan sistem pompanisasi PDAM Surakarta setahun terakhir.

"Sebelumnya saya harus mengeluarkan biaya Rp80 ribu per bulan, untuk membeli empat air minum galon karena air sumur keruh dan berkapur. Sekarang setelah ada Master Meter biaya air minum dan masak jauh lebih hemat, hanya Rp25 ribu per bulan," kata dia.

Sebagai seorang pensiunan PNS, dia mengaku sekarang sudah bisa menyisikan lebih banyak uang untuk menopang kebutuhan lima anak dan para cucunya yang masih tinggal dalam satu rumah 6x12 meter persegi itu.

Menurutnya, selain memangkas pengeluaran, kualitas air dari Master Meter jauh lebih higienis dan bebas endapan kapur dibandingkan air sumur bor yang sebelumnya sering mengalami penurunan kualitas serta kekeringan saat musim kemarau.

Selain suwarno masih ada 50 kepala keluarga di Margorejo lainnya yang merasakan manfaat dari program kolaborasi antara Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), PDAM Surakarta, dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) ini.

Mereka semua merupakan warga dalam ketegori miskin dan miskin ekstrem atau berada pada desil 1-4 dalam sistem Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Badan Pusat Statistik.

Petugas memeriksa mesin pompa Master Meter di Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (8/10/2026). (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Manajer Air Limbah PDAM Toyo Wening Surakarta, Bayu Tunggul bahkan menegaskan bahwa efisiensi biaya warga terjadi berkat penerapan subsidi tarif khusus bagi pengguna Master Meter sebesar Rp2.850 per meter kubik, dari tarif dasar reguler senilai Rp5.200 per meter kubik.

Pemberian tarif khusus dan fasilitas sambungan kolektif tersebut menjadi bentuk keberpihakan pemerintah daerah beserta mitra swasta terhadap kelompok masyarakat prasejahtera di Margorejo, yang merupakan kawasan permukiman paling padat penduduk di Surakarta.

Baca juga: Skema air minum di Surakarta tekan risiko E. coli dan stunting

"Ada kemungkinan program ini berlanjut kami sangat terbuka kepada mitra-mitra untuk membuat master meter baru. Tidak dapat hanya mengandalkan anggaran Pemda tidak mungkin, karena memang biayanya agak tinggi lagi," cetusnya.

Sementara itu, pendamping program dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Gilingan, Dani menambahkan bahwa penyediaan akses air minum aman secara berkesinambungan terbukti menjadi intervensi efektif dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat di kawasan padat penduduk tersebut.

"Margorejo RW 10 mulai bulan Agustus kemarin sudah zero stunting, anak-anak warga yang kemarin sempat terdampak stunting sekarang tumbuh jauh lebih sehat," kata dia.

Dani menjelaskan bahwa sebelum hadirnya program Master Meter, kawasan Margorejo merupakan salah satu penyumbang kasus stunting tertinggi di Kelurahan Gilingan akibat tingginya konsumsi air dari sumur dangkal yang rawan tercemar kotoran dan bakteri.

Baca juga: Perang ember demi air di Sibolga telah berakhir

Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan fasilitas sanitasi warga, di mana ketersediaan tangki septik (septic tank) mandiri di wilayah RW 10 tidak mencapai 10 persen dari total rumah tangga yang ada.

Manfaat sarana pemipaan kolektif tersebut kian dirasakan masyarakat saat menghadapi fenomena kemarau, di mana debit air sumur dangkal milik warga non-program mulai mengalami kekeringan dan penurunan kualitas.

"Kami apresiasi atas sinergi CCFI, PDAM, dan pemda yang telah merealisasikan komitmen bantuan fisik serta pendampingan sosial secara konkret ini," kata dia.

Baca juga: Air bersih di Jakarta

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.