pickleballvnz.com

Siswa SMA Cahaya Rancamaya Harumkan Indonesia pada Ajang Genius Olympiad 2026 |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Indonesia di tingkat internasional. Empat siswa SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS), Bogor, berhasil meraih pengharg...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Indonesia di tingkat internasional. Empat siswa SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS), Bogor, berhasil meraih penghargaan dalam ajang Genius Olympiad 2026 yang berlangsung di Houston, Amerika Serikat, pada 8–12 Juni 2026.

Dalam kompetisi riset ilmiah tingkat dunia tersebut, satu tim dari SMA Cahaya Rancamaya berhasil meraih Silver Medal atau medali perak, sedangkan satu tim lainnya menembus jajaran finalis.

Genius Olympiad merupakan kompetisi proyek penelitian internasional yang berfokus pada isu lingkungan hidup, keberlanjutan, inovasi, serta solusi terhadap berbagai tantangan global. Ajang tersebut mempertemukan pelajar sekolah menengah atas terbaik dari berbagai negara dalam delapan bidang kompetisi.

Pada penyelenggaraan tahun ini, SMA Cahaya Rancamaya mengirimkan dua tim yang membawa penelitian inovatif di bidang energi terbarukan dan pengolahan limbah.

Direktur Pendidikan Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Ari Rosandi, menyampaikan apresiasi kepada para siswa, guru pembimbing, serta orang tua yang telah mendukung proses penelitian hingga kompetisi.

Menurut Ari, pencapaian tersebut membuktikan bahwa pelajar Indonesia mempunyai kemampuan untuk bersaing di panggung internasional melalui penelitian yang berkualitas dan relevan dengan tantangan dunia.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di panggung dunia melalui riset yang berkualitas dan relevan dengan tantangan global,” kata Ari, Jumat (17/7/2026).

Tim pertama terdiri atas Nadhim Muhammad Sulthan Shabir dan Valkean Ikram Permana. Keduanya mempresentasikan penelitian berjudul 'Eco-friendly Solar Cell Fabrication Based on Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) from Black Coconut Shell and Anthocyanin Pigment from Apple Peel.'

Penelitian tersebut menawarkan inovasi pembuatan sel surya ramah lingkungan berbasis teknologi Dye-Sensitized Solar Cell atau DSSC. Nadhim dan Valkean memanfaatkan limbah tempurung kelapa hitam serta pigmen antosianin dari kulit apel sebagai material alternatif untuk menghasilkan teknologi energi yang lebih berkelanjutan.

Inovasi tersebut berhasil mengantarkan keduanya meraih Silver Medal pada kategori Resources and Energy.

Tim kedua beranggotakan Emir Maulana Musthofa dan Arvin Rayyan Ihsani. Mereka mempresentasikan penelitian berjudul 'Integration of Chlorella sp. – Bacillus subtilis as a Bioremediation Technology for Chicken Slaughterhouse Liquid Waste.'

Penelitian Emir dan Arvin menawarkan solusi bioteknologi untuk mengolah limbah cair rumah potong ayam dengan mengintegrasikan mikroalga Chlorella sp. dan bakteri Bacillus subtilis.

Integrasi kedua mikroorganisme tersebut dikembangkan sebagai teknologi bioremediasi yang lebih ramah lingkungan. Berkat kualitas riset dan presentasi yang ditampilkan, Emir dan Arvin berhasil masuk dalam jajaran Finalist kategori Ecology and Biodiversity.

Keberhasilan keempat siswa tersebut diraih melalui proses penilaian yang ketat. Setiap proyek pada babak final dinilai secara langsung oleh empat hingga sepuluh juri internasional.

Sebelum memasuki tahap final, kualitas ilmiah dan ketelitian penelitian peserta terlebih dahulu dinilai oleh tiga hingga enam reviewer. Sistem penilaian GENIUS Olympiad menggunakan proses normalisasi skor untuk memberikan penilaian yang adil kepada seluruh peserta, terlepas dari perbedaan karakteristik setiap juri.

Para peserta tidak hanya dinilai berdasarkan kualitas penelitian. Mereka juga harus menjalani presentasi ilmiah dan wawancara mendalam mengenai metodologi, hasil penelitian, serta pemahaman terhadap topik yang diangkat.

Nadhim dan Valkean mengatakan latihan presentasi menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menghadapi penjurian.

“Kami berlatih berkali-kali sebelum sesi penjurian. Kami membagi setiap bagian presentasi, memprediksi berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan juri, kemudian berlatih menjawabnya,” ujar keduanya.

Kompetisi di Houston juga memberikan pengalaman berharga bagi para siswa karena menjadi ajang internasional pertama yang mereka ikuti secara langsung di luar negeri. Nadhim dan Valkean mengaku sempat merasa gugup menjelang sesi penjurian. Namun, sikap komunikatif para juri membuat mereka semakin percaya diri dalam menjelaskan hasil penelitian.

“Sebelum berangkat ke Amerika, kami sangat bersemangat karena ini merupakan pengalaman pertama mengikuti kompetisi di luar negeri. Ketika hari penjurian tiba, kami sempat merasa gugup, tetapi para juri sangat komunikatif sehingga kami dapat menjelaskan penelitian dengan lebih tenang dan percaya diri,” ungkap mereka.

Pengalaman serupa dirasakan Emir dan Arvin. Rasa gugup yang muncul pada awal presentasi perlahan berubah menjadi kepercayaan diri ketika keduanya mulai menjawab pertanyaan dengan argumentasi ilmiah.

“Pada awalnya kami merasa sangat bersemangat sekaligus sedikit gugup. Namun, setelah mulai menjelaskan penelitian dan menjawab pertanyaan para juri dengan argumentasi ilmiah, rasa percaya diri kami semakin meningkat,” kata Emir dan Arvin.

Siswa SMA Cahaya Rancamaya Harumkan Indonesia di GENIUS Olympiad 2026

Prestasi dalam GENIUS Olympiad 2026 diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.

Ia menilai hal paling membanggakan bukan hanya medali yang berhasil diraih, tetapi juga kemampuan siswa dalam berpikir kritis, melaksanakan penelitian secara ilmiah, dan mempertahankan hasil riset di hadapan para ilmuwan serta juri internasional.

“Yang paling membanggakan bukan hanya medali yang diraih, tetapi bagaimana para siswa mampu berpikir kritis, melakukan penelitian secara ilmiah, serta mempertahankan hasil riset mereka di hadapan para ilmuwan dan juri internasional. Inilah kompetensi yang dibutuhkan generasi masa depan,” tuturnya.

Kepala SMA Cahaya Rancamaya, Sandra Susanto, berpesan agar keempat siswa tidak berhenti berkarya setelah memperoleh penghargaan di Houston. Menurutnya, medali dan penghargaan merupakan awal dari perjalanan panjang para siswa sebagai ilmuwan muda yang diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan dunia.

“Keberhasilan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen SMA Cahaya Rancamaya dalam membangun budaya penelitian sejak jenjang sekolah menengah,” kata Sandra Susanto.

Budaya tersebut dikembangkan melalui pembelajaran berbasis proyek, penguatan literasi sains, serta pembinaan olimpiade dan penelitian secara berkelanjutan.

Sebagai salah satu Sekolah Garuda Transformasi yang dipercaya pemerintah, CRIBS terus mendorong lahirnya generasi muda Indonesia yang mempunyai daya saing global, kemampuan berpikir kritis, serta karakter kuat untuk menghadapi tantangan abad ke-21.

Prestasi dalam Genius Olympiad 2026 diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.