Sipujuk Farm Bangkit, Unand Buka Jalan ke Pasar Nasional dan Internasional
Sipujuk Farm merupakan usaha perikanan air tawar yang berada di Koto Tangah, Kota Padang. Usaha ini tidak hanya bergerak pada budidaya ikan, tetapi juga memiliki perhatian pada ANTARA News sumbar 41 ...
Padang (ANTARA) - Sipujuk Farm merupakan usaha perikanan air tawar yang berada di Koto Tangah, Kota Padang. Usaha ini tidak hanya bergerak pada budidaya ikan, tetapi juga memiliki perhatian pada pemanfaatan hasil perikanan melalui konsep zero waste, yakni mengoptimalkan hasil budidaya agar dapat memberikan nilai tambah dan meminimalkan bagian yang terbuang dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Melalui konsep tersebut, Sipujuk Farm sebelumnya telah mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar ikan, termasuk lele asap. Namun, perjalanan usaha tersebut sempat mengalami kendala. Aktivitas pengolahan dan pemasaran produk sempat terhenti akibat kondisi pascabencana yang berdampak terhadap keberlangsungan aktivitas usaha.
Kondisi tersebut membuat potensi yang sebelumnya telah dibangun Sipujuk Farm belum dapat dikembangkan secara optimal. Karena itu, tim dosen Universitas Andalas kembali hadir untuk membantu menghidupkan dan mengembangkan kembali potensi usaha yang telah dimiliki Sipujuk Farm, terutama dari sisi pemasaran langsung kepada konsumen atau Business-to-Consumer (B2C).
Program pendampingan tersebut dipimpin oleh Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari, SE, MBus(Adv), PhD, dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas yang memiliki keahlian di bidang perilaku konsumen. Bersama tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin, seperti manajemen, pemasaran, informatika, akuntansi, serta teknologi hasil pertanian. Pendampingan juga diarahkan pada integrasi manajemen pelanggan, pemasaran digital terpadu, dan pengendalian rantai pasok sebagai strategi untuk memperkuat kembali usaha Sipujuk Farm sehingga dapat makin berkembang.
Pemulihan usaha tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami konsumennya, membangun hubungan dengan pelanggan, mengomunikasikan produk secara efektif, serta memastikan produk dapat tersedia ketika dibutuhkan pasar.
Dalam program pendampingan ini, Dessy dan tim bersama Sipujuk Farm sebagai mitra binaan yang diketuai oleh Bapak Yose Rizal Anwar, S.Pi, M.Si kembali mengembangkan produk olahan ikan yang sebelumnya pernah dimiliki sempat terhenti. Pengembangan tersebut kemudian diperluas melalui diversifikasi produk berupa abon ikan, nugget ikan, dan kerupuk tulang ikan, di samping memperkuat kembali produk ikan asap. Diversifikasi dilakukan melalui demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan. Produk dikembangkan tidak hanya untuk menambah pilihan bagi konsumen, tetapi juga untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan dan mendukung konsep zero waste yang menjadi bagian dari pengembangan usaha Sipujuk Farm.
Bentuk lain hasil nyata dari program pendampingan adalah hadirnya website resmi Sipujuk Farm di www.sipujukfarm.com yang kini telah dapat diakses masyarakat. Website tersebut dikembangkan bukan sekadar sebagai profil usaha, tetapi sebagai pusat informasi dan pemasaran digital Sipujuk Farm. Kehadiran website membuka peluang bagi usaha untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, tidak hanya di Kota Padang dan Sumatera Barat, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Di dalam website, masyarakat dapat mengenal lebih jauh cerita dan perjalanan Sipujuk Farm, melihat informasi mengenai produk olahan ikan, memperoleh berbagai resep olahan ikan, membaca artikel dan materi edukasi, hingga mendapatkan informasi mengenai pemesanan produk.
Digitalisasi tidak berhenti pada pengembangan website. Tim juga membantu Sipujuk Farm mengaktifkan kembali media sosial yang sebelumnya sempat tidak aktif. Kanal media sosial mulai kembali memuat berbagai pesan mengenai produk, aktivitas usaha, edukasi, serta informasi yang ditujukan kepada konsumen. Media sosial digunakan sebagai kanal komunikasi yang lebih dinamis untuk membangun interaksi dengan pelanggan sekaligus memperkenalkan produk olahan Sipujuk Farm. Website dan media sosial kemudian ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pemasaran digital yang saling mendukung. Website menjadi pusat informasi yang lebih lengkap, sedangkan media sosial berfungsi sebagai kanal komunikasi dan promosi yang lebih interaktif.
Bagi Sipujuk Farm, program ini menjadi bagian dari proses untuk bangkit dan mengembangkan kembali usaha setelah aktivitas pengolahan sempat terhenti pascabencana. Yang dikembangkan bukan hanya produk baru, tetapi juga kemampuan usaha untuk menghubungkan produk dengan konsumen. Produk olahan yang kembali dikembangkan didukung dengan website, media sosial, konten digital, pengelolaan pelanggan, dan penguatan rantai pasok.
Dessy sebagai ketua tim menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi bagian penting dari program tersebut. “Yang paling penting bukan hanya menghasilkan website atau produk baru, tetapi bagaimana Sipujuk Farm mampu mengelolanya secara mandiri setelah program selesai. Platform digital harus terus diperbarui, komunikasi dengan pelanggan harus dijaga, dan pengembangan produk perlu menyesuaikan respons pasar,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapatkan dukungan pembiayaan dari Universitas Andalas melalui Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) Batch II, LPPM Universitas Andalas, Tahun Anggaran 2026 dengan Nomor 27/UN16.19/PM.03.03/PKM-MUB/2026, Tahun Anggaran 2026. Melalui integrasi manajemen pelanggan, pemasaran digital terpadu, dan pengendalian rantai pasok, Sipujuk Farm diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan nilai tambah produk perikanan, membangun hubungan yang lebih kuat dengan konsumen, serta memperkuat keberlanjutan usaha.
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
Oleh Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari, SE, MBus(Adv), PhD
COPYRIGHT © ANTARA 2026