Sinyal AS Mulai Menyerah di Timur Tengah, Kekuatannya Sudah Terkuras
Salma Laiqa, CNBC Indonesia 27 September 2026 10:20 Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan ta...
Salma Laiqa, CNBC Indonesia
27 September 2026 10:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda mengurangi perannya sebagai kekuatan utama yang selama puluhan tahun menopang tatanan keamanan di Timur Tengah.
Perubahan tersebut tidak berarti Washington akan sepenuhnya meninggalkan kawasan. AS masih memiliki kepentingan militer dan keamanan, termasuk perlindungan terhadap sekutu serta operasi kontraterorisme. Namun, The Economist menilai Washington semakin enggan mempertahankan perannya sebagai "arsitek" utama kawasan.
Perubahan sikap AS terjadi setelah puluhan tahun keterlibatan intensif di Timur Tengah, mulai dari pengerahan pasukan, pembangunan pangkalan militer, operasi rahasia hingga diplomasi untuk membentuk keseimbangan kekuatan regional.
Kini, prioritas strategis Washington mulai bergeser. Pemerintahan Presiden Donald Trump semakin memberi perhatian pada kawasan Amerika serta persaingan dengan China. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai menyerap persenjataan dan sumber daya militer yang juga dibutuhkan AS untuk menghadapi tantangan di kawasan lain.
Kepentingan Energi AS Ikut Berubah
Pergeseran peran AS juga terjadi ketika ketergantungan energinya terhadap kawasan Teluk jauh lebih rendah dibandingkan dua dekade lalu.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan net impor minyak mentah dan produk petroleum AS dari negara-negara Teluk Persia mencapai sekitar 2,48 juta barel per hari pada 2000 dan sempat menyentuh 2,76 juta barel per hari pada 2001.
Angkanya kemudian turun signifikan. Pada 2025, net impor minyak AS dari kawasan tersebut hanya sekitar 667.000 barel per hari, atau kurang dari seperempat level puncaknya pada awal 2000-an.
Penurunan tersebut sejalan dengan perubahan besar pada industri energi AS. Khusus untuk minyak mentah, impor AS dari kawasan Teluk Timur Tengah hanya sekitar 490.000 barel per hari pada 2025, setara 8% dari total impor minyak mentah AS sebesar 6,2 juta barel per hari.
Kondisi ini membuat ketergantungan energi langsung AS terhadap kawasan Teluk jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya, sekaligus memberi Washington ruang lebih besar untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya strategis ke prioritas lain.
Sebaliknya, China kini memiliki kepentingan ekonomi yang besar terhadap kawasan Teluk sebagai salah satu pembeli utama energi dari kawasan tersebut. Namun, The Economist menilai Beijing belum tentu ingin menggantikan Washington sebagai hegemon baru, mengingat besarnya biaya ekonomi dan militer yang dibutuhkan untuk mempertahankan dominasi regional.
Iran, Turki, dan Israel Makin Dominan
Berkurangnya peran AS membuka ruang bagi kekuatan regional untuk memainkan peran yang lebih besar.
The Economist menyoroti tiga negara yang memiliki kapasitas untuk mengisi sebagian kekosongan tersebut, yakni Iran, Turki, dan Israel. Ketiganya merupakan kekuatan non-Arab dengan pengaruh politik, militer, dan ekonomi yang besar di kawasan.
Iran tetap memiliki jaringan pengaruh di Irak, Suriah, dan Lebanon serta berpotensi kembali memperkuat kelompok-kelompok sekutunya apabila rezim di Teheran mampu bertahan dari konflik saat ini.
Turki pada saat yang sama semakin aktif memperluas hubungan dengan negara-negara Arab. Ankara memainkan peran penting di Suriah dan mempererat kerja sama perdagangan, keamanan, infrastruktur, hingga industri pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan.
Sementara Israel tetap menjadi salah satu kekuatan militer dan intelijen terbesar di Timur Tengah. Hubungannya dengan beberapa negara Teluk juga berkembang sejak lahirnya Abraham Accords.
Namun, meningkatnya peran ketiga negara tersebut tidak otomatis menciptakan keseimbangan baru yang stabil. Israel dan Turki memiliki kepentingan yang berbeda di Suriah, Israel dan Iran masih berkonflik, sedangkan Iran dan Turki memiliki sejarah panjang persaingan regional.
Negara Arab Hadapi Babak Baru
Pergeseran tersebut menempatkan negara-negara Arab dalam posisi yang lebih kompleks.
Irak dan Suriah masih berupaya pulih dari perang dan konflik berkepanjangan. Mesir, yang pernah menjadi salah satu pusat kekuatan politik Arab, menghadapi tantangan ekonomi dan politik domestik.
Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar semakin mengandalkan pertumbuhan ekonomi, investasi, dan diversifikasi sebagai fondasi stabilitas.
Masalahnya, arsitektur keamanan kawasan selama beberapa dekade sangat bergantung pada dukungan AS. Jika Washington benar-benar mengurangi perannya, negara-negara Timur Tengah harus semakin mengandalkan kerja sama regional dan kemampuan militernya sendiri.
Dengan demikian, mundurnya AS dari Timur Tengah bukan berarti Washington benar-benar meninggalkan kawasan. Yang berubah adalah tingkat keterlibatan dan kesediaannya untuk menjadi penjamin utama tatanan regional.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AS masih berada di Timur Tengah, melainkan siapa yang akan lebih banyak menentukan keseimbangan kekuatan ketika Washington tidak lagi mengambil peran sebesar sebelumnya.
(slm/slm)