Siasat Salomon: Dari Jalur Berbatu ke Panggung Fashion Week
Liputan6.com, Jakarta - Mengubah perlengkapan teknis pegunungan menjadi ikon gaya hidup perkotaan bukanlah perkara mudah di tengah sengitnya persaingan industri outdoor dan alas kaki. Namun, Salomon berhasil me...
Liputan6.com, Jakarta - Mengubah perlengkapan teknis pegunungan menjadi ikon gaya hidup perkotaan bukanlah perkara mudah di tengah sengitnya persaingan industri outdoor dan alas kaki. Namun, Salomon berhasil mengeksekusi lompatan strategi tersebut. Merek asal Prancis yang berakar pada olahraga ekstrem ini sukses bertransformasi dari sekadar perlengkapan fungsi tinggi menjadi tren fesyen yang digandrungi masyarakat urban.
Berawal dari bengkel pembuat peralatan ski di Pegunungan Alpen, Salomon berkembang menjadi pelopor perlengkapan olahraga lari lintas alam (trail running) hingga akhirnya menjelma sebagai ikon streetwear dan fesyen mewah global. Melalui dedikasi terhadap inovasi teknis, kejelian membaca tren budaya perkotaan, kolaborasi strategis kelas atas, serta dukungan ekspansi modal yang kuat, Salomon membuktikan bahwa estetika fungsionalitas (utilitarian design) mampu merevolusi industri sepatu modern.
Perjalanan panjang Salomon berakar dari warisan keteknikan yang mendalam di Annecy, Pegunungan Alpen Prancis, sejak tahun 1947. Pada awalnya, Salomon berfokus memproduksi tepi baja ski dan sistem pengikat (bindings), sebelum akhirnya merambah ke dunia alas kaki hiking dan trail running pada akhir abad ke-20.
Dilansir dari situs resmi Salomon, Rabu (5/8/2026), titik balik besar dalam lini alas kaki mereka terjadi pada pertengahan tahun 2000-an melalui lahirnya seri ikonis Speedcross. Perancang sepatu Salomon, Ralph F. Brewer, mencetuskan gagasan untuk menciptakan sepatu lari pegunungan yang sangat ringan (flyweight), protektif, dan memiliki daya cengkeram (grip) luar biasa di medan berlumpur maupun batuan basah. Terinspirasi dari kembangan ban sepeda motor motocross, Brewer merancang Speedcross dengan profil agresif dan konstruksi serba ringan (featherlight) tanpa chassis tradisional demi memberikan kelincahan maksimal bagi para pelari lintas alam.
Evolusi Speedcross terus berlanjut dari generasi ke generasi. Memasuki peluncuran Speedcross 3 pada tahun 2011, Salomon berhasil menyempurnakan stabilitas tumit dan bantalan sepatu tanpa menghilangkan DNA desain utamanya, yaitu sangkar SensiFit dan PowerBand. Hasilnya luar biasa, di mana pada tahun 2015 Salomon mencatatkan penjualan lebih dari 20 juta pasang Speedcross di seluruh dunia, membuktikan bahwa sepatu berkinerja murni mampu menembus pasar arus utama.
Hingga generasi Speedcross 6, model ini tetap mempertahankan identitas intinya sembari mengintegrasikan material yang lebih ringan dan tapak berbentuk huruf "Y" untuk pelepasan lumpur yang lebih cepat.