Siaga Nataru, ASDP Antisipasi Potensi Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk
Warta Ekonomi, Jakarta - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk saat ini sudah kembali lancar sejak awal Oktober 2026, setelah sempat mengalami peningk...
Warta Ekonomi, Jakarta -
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk saat ini sudah kembali lancar sejak awal Oktober 2026, setelah sempat mengalami peningkatan antrean kendaraan. Kendati begitu, BUMN pengelola angkutan penyeberangan tersebut tetap mengantisipasi agar kepadatan serupa tidak terulang kembali jelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027.
Corporate Secretary ASDP Windy Andale mengatakan, pihaknya telah berkoodinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) serta Korlantas Polri agar penumpukan kendaraan di Banyuwangi menuju lintasan penyeberangan Jawa-Bali tersebut tidak lagi terulang.
Di sisi lain, ASDP juga mendorong percepatan penguatan kapasitas dermaga yang direncanakan berlangsung secara bertahap pada 2026-2029. Adapun pada tahap pertama, pengerjaan difokuskan pada Dermaga Ponton Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, dan Dermaga II Gilimanuk di Jembrana, Bali.
Proses percepatan dilakukan agar dermaga bisa beroperasi fungsional pada momen Nataru nanti.
"Kalau untuk kesiapannya, kita lagi lakukan percepatan supaya pas Nataru nanti salah satu dermaganya itu sudah siap beroperasi. Kita lagi lakukan percepatan peningkatan, supaya memang nanti itu sudah bisa operasi, at least salah satu permasalahan bisa solve lah," ujar Windy dalam sesi bincang bersama Warta Ekonomi di Kantor ASDP, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Selain percepatan peningkatan kapasitas, ASDP turut menyiapkan sejumlah kapal-kapal besar di lintasan Ketapang-Gilimanuk saat Nataru 2026/2027 nanti. Termasuk menyiapkan mekanisme skema operasi, mengikuti pengaturan operasional dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) maupun Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) setempat.
"Kalau yang jelas sih kemarin berkaca dari kasus Ketapang kan sampai saat ini kami masih tempatkan kapal perbantuan tuh di Ketapang-Gilimanuk, Jatra 1. Terus sama di Tanjung Wangi-Lembar kita juga taruh (KMP) Port Link. Paling nanti kami juga koordinasi juga apakah jikalau sewaktu-waktu dibutuhkan pola TBB (tiba-bongkar-berangkat) atau percepatan operasional dan lain-lain," jelas Windy.
Windy pun memastikan lalu lintas menuju maupun di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk saat ini telah berjalan lancar. Hanya saja, ia menemukan masih adanya beberapa kendala terkait cuaca dari sisi Gilimanuk, semisal air laut yang kerap surut setiap pagi hari.
"Kalau surut, berarti kapal yang di LCM itu enggak bisa sandar, jadi harus nunggu. Tapi itu kalau kami lihat polanya sih paling antrian ya, bukan macet sebetulnya. Antrian paling kayak 2 km, atau terakhir itu dalam waktu 2 jam sudah langsung bisa susut antriannya jadi 500 meter, enggak berhari-hari," ungkapnya.
Lebih lanjut, Windy berharap para pengguna kapal penyeberangan yang melintasi Ketapang-Gilimanuk bisa mengerti jika dermaga di lintasan tersebut tengah dilakukan peningkatan kapasitas. Sehingga operasional penyeberangan Jawa-Bali ke depannya bisa lebih optimal, terlebih memasuki periode Nataru 2026/2027 yang berdekatan dengan momen Lebaran 2027.
"Kan pertanyaannya, kalau enggak sekarang, terus kapan? Karena kita mau menghadapi Nataru, terus kemudian dua bulan lagi Kita akan menghadapi angkutan Lebaran. Jadi kenapa kita lakukan sekarang Itu juga bukan tanpa pertimbangan. Justru untuk memastikan pada saat peak season-nya nanti datang, kita udah lebih siap," ucapnya.
Baca Juga: Hubungkan RI-Malaysia, ASDP Jajaki Pembukaan Rute Dumai-Malaka
Baca Juga: ASDP Bakauheni Mengajar, Karyawan Turun Langsung Berbagi Ilmu Sasar 700 Siswa
Namun begitu, ia tidak memungkiri bahwa kapasitas dermaga bukan satu-satunya persoalan di lintasan Ketapang-Gilimanuk. ASDP juga melihat persoalan ekosistem pelabuhan yang perlu sama-sama diberesi dengan stakeholders terkait.
"Ketapang itu kan jalannya sempit, belum lagi kami juga dari pelabuhan saling berdekatan. Seringkali apa yang terjadi di pelabuhan sebelah, kalau jumlah kapalnya berkurang di sana, antreannya masuk ke kami. Terus belum lagi kalau disana ada pendalaman operasional dan lain-lain, antreannya tuh biasanya enggak di dalam mereka, antreannya di jalan," tuturnya.