Semangat belajar siswa SDN 10 Linge kembali bangkit
Kegiatan belajar-mengajar di SD Negeri 10 Linge, Desa Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, perlahan berlangsung lebih baik setelah sebagian siswa berpindah dari tenda darurat ke ruang kelas darurat (RKD). Ruang...
Kegiatan belajar-mengajar di SD Negeri 10 Linge, Desa Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, perlahan berlangsung lebih baik setelah sebagian siswa berpindah dari tenda darurat ke ruang kelas darurat (RKD). Ruangan tersebut menghadirkan tempat belajar yang lebih aman dan nyaman bagi anak-anak yang sekolahnya rusak akibat banjir.
Staf Tata Usaha SD Negeri 10 Linge, Aji Reje, mengatakan proses pembelajaran pada masa awal penanganan darurat berlangsung jauh dari kondisi ideal. Siswa kelas I hingga kelas VI sempat belajar bersama dalam satu tenda karena bangunan sekolah tidak dapat digunakan. “Semua kelas, dari kelas I sampai kelas VI, terpaksa digabung dalam satu tenda,” ujarnya.
Banjir tidak hanya merusak ruang belajar, tetapi juga merendam buku paket dan berbagai fasilitas pendidikan. Sejumlah bantuan buku telah datang dari Dinas Pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat, tetapi jumlahnya belum mencukupi kebutuhan seluruh siswa. Dalam keterbatasan tersebut, para guru mengandalkan pengalaman dan penguasaan materi agar pelajaran tetap dapat diberikan.
Belajar di bawah tenda juga menghadirkan tantangan lain. Suhu panas serta cuaca yang mudah berubah membuat konsentrasi siswa terganggu. Jam pelajaran terpaksa dipersingkat dan anak-anak kerap dipulangkan lebih awal karena kondisi tenda tidak memungkinkan kegiatan belajar berlangsung hingga siang.
Keadaan mulai berubah setelah RKD dibangun di kawasan Tenda 01. Pihak sekolah kini memanfaatkan tiga ruangan untuk menampung enam jenjang kelas. “Setelah ada RKD, pembelajaran jauh lebih efektif. Anak-anak lebih nyaman dan proses belajar mulai mendekati kondisi normal,” kata Aji.
Keterbatasan ruang disiasati dengan menggabungkan kelas secara berpasangan. Kelas I belajar bersama kelas II, kelas III dengan kelas IV, serta kelas V dengan kelas VI. Meskipun berada dalam ruangan yang sama, guru tetap memberikan materi berbeda sesuai jenjang masing-masing.
Perubahan paling terasa terlihat dari bertambahnya waktu belajar. Ketika masih berada di tenda, kegiatan sekolah harus dihentikan lebih awal akibat panas dan cuaca ekstrem. Setelah menempati RKD, siswa dapat mengikuti pelajaran hingga pukul 12.00, 12.30, bahkan 13.00, bergantung pada jenjang kelas.
Pihak sekolah mengapresiasi dukungan pemerintah dan berbagai lembaga yang membantu pembangunan RKD serta pemenuhan kebutuhan pendidikan. Bagi guru dan siswa, bantuan tersebut memberikan kesempatan untuk menjalankan pembelajaran secara lebih teratur di tengah proses pemulihan pascabencana.
Namun, pemulihan layanan pendidikan SD Negeri 10 Linge belum sepenuhnya selesai. Sebagian siswa di kawasan Tenda 02 masih harus belajar di bawah tenda.
Bagi keluarga besar SD Negeri 10 Linge, RKD bukan sekadar bangunan sementara. Ruangan tersebut menjadi jembatan agar pendidikan tidak terputus sekaligus menghadirkan kembali rasa aman dan semangat belajar anak-anak.
Penyediaan ruang bagi siswa di Tenda 02 kini menjadi langkah berikutnya agar seluruh peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang sama selama menunggu pemulihan sekolah secara permanen.