pickleballvnz.com

Sawit Digadang jadi Pilar Ketahanan Energi RI, Potensi Biomassa Tembus 272 Juta Ton

Bagikan: JAKARTA - Keberlanjutan energi merupakan salah satu isu paling krusial bagi Indonesia.Di tengah tan...

Bagikan:

JAKARTA - Keberlanjutan energi merupakan salah satu isu paling krusial bagi Indonesia.

Di tengah tantangan tersebut, kelapa sawit bisa menjadi solusi yang sangat potensial karena memiliki pasokan melimpah di Tanah Air.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), M Hadi Nainggolan, mengatakan bahwa seluruh bagian tanaman kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam pengembangan bioenergi.

Dia mencontohkan, pemanfaatan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel.

Kemudian biomassa kelapa sawit seperti tandan kosong, cangkang, hingga batang sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tercatat, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 16,8 juta hektare dengan potensi produksi biomassa mencapai sekitar 272 juta ton per tahun.

“Jadi, kelapa sawit kita ini bisa menjadi pilar untuk kekuatan energi nasional. Indonesia bisa menjadi negara nomor satu di dunia yang menghasilkan energi berbasis kekayaan hayati,” katanya di Jakarta, Sabtu, 25 Juli.

Hadi Nainggolan mengingatkan, pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

Selain didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah, pemanfaatan kelapa sawit didukung oleh aspek keberlanjutan karena tanaman tersebut dapat diperbaharui (renewable energy) dengan produksi sepanjang tahun yang relatif stabil.

Dia menjelaskan bahwa saat ini biomassa kelapa sawit telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada sejumlah pembangkit listrik di Indonesia.

Ketersediaan pasokan yang berlimpah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pemanfaatan biomassa kelapa sawit sebagai sumber energi di sejumlah pembangkit listrik tersebut.

“Kata kuncinya adalah kelapa sawit ini akan menjadi sumber kekuatan energi hayati dengan didukung oleh 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.

Salah satu upaya pengoptimalan potensi kelapa sawit dalam pengembangan bioenergi dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI).

Program tersebut mendorong lahirnya berbagai riset dan inovasi yang memberikan nilai tambah termasuk di bidang energi terbarukan.

Melalui PERISAI, BPDP telah menghasilkan inovasi di bidang bioenergi yang meningkatkan daya saing industri kelapa sawit nasional.

Inovasi bioenergi menunjukkan bahwa kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai bahan baku energi masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah bagi komoditas sawit nasional.

Hadi menambahkan, pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit tersebut akan memberi dampak positif terhadap negara Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi pemanasan global, hingga memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas nasional.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi program biodiesel selama periode 2015-2025 telah menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp722,9 triliun, menciptakan nilai tambah sebesar Rp114,7 triliun melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel, mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO₂.

Hal senada disampaikan oleh Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, yang mengatakan bahwa pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit akan memberikan berbagai dampak positif baik secara ekonomi, sosial, dan lingkungan,

Tungkot Sipayung menjelaskan, diversifikasi pemanfaatan kelapa sawit menjadi bioenergi akan memperluas pasar tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani.

Dengan demikian, petani sawit tidak lagi bergantung pada permintaan industri minyak goreng.

Bahkan, ia mengungkapkan, jika saat ini pasar bioenergi berbasis kelapa sawit di Indonesia telah melampaui pasar minyak goreng.

Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap stabilitas harga TBS di tingkat petani sehingga mampu meningkatkan pendapatan mereka.

“Harga TBS yang menguntungkan dan stabil ini bermuara pada peningkatan pendapatan petani yang semakin baik,” paparnya.

Tungkot menilai bahwa pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit juga merupakan bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change).

Menurutnya, tanaman kelapa sawit mampu menyerap karbon dari atmosfer melalui proses fotosintesis sehingga berkontribusi terhadap penurunan konsentrasi emisi karbon.

Kemudian bioenergi sawit mampu menggantikan energi fosil yang merupakan penyumbang emisi terbesar di dunia sehingga secara keseluruhan akan mampu mengurangi emisi global secara drastis.

“Dengan kedua cara tersebut sangat jelas bahwa bioenergi sawit ikut memperbaiki mutu lingkungan hidup global,” pungkasnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+