pickleballvnz.com

Sampai Mana Downgrade? Ada yang Tak Boleh Ikut Dipangkas

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena downgrade yang terjadi di kalangan kelas tengah Indonesia bukan sekadar perubahan tren gaya hidup. Kondisi ini bisa menjadi alarm atas tekanan daya beli, meningkatnya biaya hidu...

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena downgrade yang terjadi di kalangan kelas tengah Indonesia bukan sekadar perubahan tren gaya hidup. Kondisi ini bisa menjadi alarm atas tekanan daya beli, meningkatnya biaya hidup, hingga menyusutnya lapangan kerja formal.

Kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi nasional kini harus menghitung ulang pengeluaran, mulai dari memangkas biaya hiburan, beralih ke bahan bakar dengan RON lebih rendah, hingga memilih produk yang lebih murah agar kondisi finansial keluarga tetap terjaga.

Ketika pendapatan tidak lagi cukup untuk mempertahankan pola konsumsi sebelumnya, menyesuaikan gaya hidup atau melakukan downgrade menjadi pilihan yang sulit dihindari. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, masyarakat mulai menyesuaikan pilihan konsumsi ketika kemampuan pendapatan tidak lagi cukup untuk mempertahankan pola konsumsi sebelumnya.

Menurut Faisal, kondisi tersebut berkaitan erat dengan pendapatan masyarakat. Ketika pendapatan relatif stagnan, sementara kebutuhan dan biaya hidup terus meningkat akibat inflasi, kemampuan membeli barang yang lebih mahal ikut berkurang.

"Masyarakat kemudian menyesuaikan konsumsi dengan kemampuan pendapatannya," kata Faisal kepada tim Journal Liputan6.com.

Namun, untuk memastikan fenomena downgrade terjadi secara luas di kalangan kelas menengah, tidak bisa hanya menggunakan satu tolok ukur. Misalnya, dengan melihat semakin banyaknya orang yang menjual mobil.

"Kita juga perlu melihat pola konsumsi masyarakat secara keseluruhan, kemudian bagaimana kondisi pendapatan, tabungan, sampai penggunaan pembiayaan atau utang," ujarnya.

Jika ruang keuangan semakin sempit dan tabungan mulai tertekan, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa daya beli kelas menengah memang sedang menghadapi tekanan.

Ketika pendapatan relatif tidak banyak berubah, sementara biaya hidup dan beban cicilan meningkat, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Salah satu caranya adalah menunda pembelian barang besar seperti mobil baru atau memilih kendaraan yang lebih murah.

“Kalau tekanan terhadap pendapatan dan daya beli terus berlangsung, ini bisa menjadi lebih panjang. Jadi bukan sekadar masyarakat menunda konsumsi untuk sementara, tapi pola konsumsinya memang bisa berubah karena mereka harus menyesuaikan dengan kemampuan pendapatan,” kata Faisal.

Jangan Hanya Terus Mengurangi Pengeluaran

Faisal menilai, dalam jangka pendek, menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan keuangan memang merupakan langkah yang tepat. Namun, jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru menjadi peringatan agar masyarakat mulai mencari cara meningkatkan pendapatan.

“Jadi tidak hanya terus mengurangi konsumsi, tapi juga harus ada peningkatan kemampuan mendapatkan pendapatan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, menurut Faisal, yang lebih penting adalah meningkatkan kapasitas pendapatan dan kualitas pekerjaan. Sebab, jika pendapatan tidak meningkat, masyarakat akan terus melakukan penyesuaian konsumsi.

Penyesuaian yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas hidup. Masyarakat kelas menengah yang semakin rentan akibat tekanan tersebut juga berisiko terlempar menjadi kelompok miskin ketika menghadapi guncangan finansial.

“Kalau seseorang memang sengaja memilih barang yang lebih murah supaya keuangannya lebih teratur, itu masih merupakan keputusan finansial. Tapi kalau sudah sampai tabungan terus terpakai, kebutuhan mulai sulit dipenuhi, atau harus semakin bergantung pada utang, itu menunjukkan tekanan keuangan yang lebih serius,” kata Faisal.

Lantas, kapan kelas menengah sebaiknya melakukan downgrade dan kapan harus mempertahankan aset yang dimiliki?

Faisal menilai, prinsip utamanya adalah menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan keuangan. Jangan sampai keputusan membeli atau mempertahankan aset justru membuat beban keuangan semakin berat.

“Prioritasnya tetap menjaga kemampuan memenuhi kebutuhan dan menjaga kondisi keuangan supaya tidak semakin rentan,” ujarnya.

Ada Pengeluaran yang Tak Boleh Di-Downgrade

Di tengah kebutuhan melakukan efisiensi, tidak semua pengeluaran seharusnya ikut dipangkas. Founder Health Collaborative Center (HCC) sekaligus advocate for mental and community health, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan salah satu pengeluaran yang tidak boleh di-downgrade adalah pangan, terutama sumber protein hewani.

Ray mencontohkan studi pada 2021 yang mengamati pola belanja pangan lebih dari 3.000 keluarga di Indonesia. Studi tersebut menemukan bahwa keluarga yang menerapkan pola berhemat cenderung mengurangi belanja sumber protein hewani, seperti daging, telur, dan unggas.

Hal ini terjadi karena sumber pangan tersebut memang relatif lebih mahal dibandingkan sumber karbohidrat.

"Pangan sumber protein sangat esensial untuk menjaga kualitas kesehatan, terutama bagi keluarga yang memiliki anak, termasuk balita. Protein merupakan zat penting untuk membangun tubuh sekaligus menjaga imunitas anak maupun orang dewasa. Dalam hal ini, protein hewani menjadi salah satu sumber pangan yang sangat potensial," katanya.

Dari sisi kesehatan, mengurangi pembelian daging, telur, ikan, ayam, atau susu demi berhemat justru bisa menjadi keputusan yang keliru. Pangan tersebut tidak hanya menyediakan protein bermutu, tetapi juga zat besi, zinc, dan vitamin B12 yang relatif sulit dipenuhi dari sumber pangan lain.

Pada anak, kekurangan zat gizi tersebut dapat menyebabkan masalah malnutrisi kronis, termasuk anemia. Pada balita, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko stunting.

"Kekurangan gizi juga berpotensi mengganggu perkembangan otak dan pada akhirnya memengaruhi produktivitas saat anak tumbuh dewasa," ujar Ray.

Menurut Ray, pada prinsipnya downgrade gaya hidup memang perlu dilakukan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang. Namun, anggaran untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya sumber protein hewani, tidak seharusnya ikut dipangkas.

"Silakan keluarga melakukan downgrade dengan mengurangi frekuensi ngopi, membeli baju baru, atau nongkrong. Namun, jangan sampai downgrade dilakukan dengan mengurangi pembelian daging, ikan, telur, susu, atau sumber nutrisi penting lainnya," katanya.

Jangan Sampai Pemeriksaan Kesehatan Ikut Di-Downgrade

Selain pangan, Ray mengingatkan masyarakat agar efisiensi pengeluaran tidak membuat kebiasaan skrining dan pemeriksaan kesehatan ikut di-downgrade.

Studi Health Belief Model dari HCC pada 2023 menunjukkan tingkat skrining kesehatan dan pemantauan risiko status gizi pada keluarga yang memiliki balita masih rendah di Indonesia, bahkan dalam kondisi normal.

Ketika keluarga mulai mengetatkan pengeluaran, aspek skrining dan pemeriksaan kesehatan secara logis berpotensi ikut dikorbankan.

Karena itu, Ray menyarankan masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis dari pemerintah. Keluarga juga dapat meluangkan waktu untuk melakukan pemeriksaan di Puskesmas maupun medical check-up setahun sekali.

Dengan pemeriksaan rutin, masyarakat kelas menengah dapat mengetahui risiko kesehatan lebih awal dan segera melakukan perubahan pola hidup, sekaligus tetap mengendalikan pengeluaran.

Sebab, konsekuensi downgrade gaya hidup dan pengetatan pengeluaran dapat berlangsung cukup lama.

Secara ekonomi, berhemat memang bisa meningkatkan saving atau tabungan. Namun, penghematan terhadap kebutuhan kesehatan yang esensial justru dapat berdampak pada kualitas hidup dalam jangka panjang.

Penelitian global berskala besar dari Oxford University pada 2014 yang menjadi referensi di banyak negara menunjukkan tekanan ekonomi yang disertai penghematan pengeluaran rumah tangga berkorelasi kuat dengan berkurangnya pemanfaatan layanan medis rutin non-emergency.

Artinya, keluarga yang menerapkan downgrade juga berpotensi mengurangi belanja untuk layanan kesehatan rutin, termasuk pembelian suplemen atau obat-obatan yang sebenarnya sudah dibutuhkan.

Karena ingin berhemat, kebutuhan tersebut dianggap masih bisa ditunda dan uangnya lebih baik disimpan.

"Tentu, kondisi seperti ini tidak baik untuk kualitas hidup dalam jangka panjang," kata Ray.

Singkatnya, berhemat boleh. Downgrade di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang bahkan bisa menjadi pilihan yang diperlukan.

Namun, jangan sampai penghematan dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dasar, pangan bergizi, dan kesehatan.

"Yang penting, jangan sampai sakit," kata Ray.