Rupiah Menguat Lagi, Cek Kurs Dolar AS Hari Ini Senin 12 Oktober 2026
Bisnis Senin, 12 Oktober 2026 - 10:12 WIB Jakarta, VIVA – Nilai tukar rup...
Senin, 12 Oktober 2026 - 10:12 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026). Rupiah naik tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.894 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.899 per dolar AS.
Baca Juga
Penguatan pada awal pekan ini melanjutkan pergerakan positif rupiah pada akhir pekan lalu. Pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026), rupiah menguat 26 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.899 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp17.915 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski mencatat penguatan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah faktor dari dalam dan luar negeri. Kondisi konsumsi domestik, perkembangan cadangan devisa, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Baca Juga
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menilai, penguatan rupiah pada akhir pekan lalu turut dipengaruhi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 yang masih berada di zona optimistis.
Survei konsumen Bank Indonesia yang dirilis pada Kamis (8/10/2026), mencatat IKK September berada di level 118,1. Angka tersebut sedikit turun dibandingkan posisi Agustus 2026 sebesar 118,5, tetapi masih berada di atas ambang 100 yang menunjukkan optimisme konsumen.
Baca Juga
“Survei konsumen Bank Indonesia yang dirilis pada Kamis (8/10) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen September berada di level 118,1, turun dari 118,5 pada bulan sebelumnya. Meskipun sedikit melemah, indeks tersebut masih berada di zona optimistis karena di atas 100,” ucapnya.
Optimisme konsumen menjadi salah satu indikator yang diperhatikan karena berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospek konsumsi. Meski demikian, perkembangan konsumsi domestik serta indikator ekonomi berikutnya tetap perlu dicermati untuk melihat seberapa kuat permintaan dalam negeri.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Faktor lain yang turut menjadi perhatian pasar adalah posisi cadangan devisa Indonesia. Pada akhir September 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$146,3 miliar, turun US$200 juta dibandingkan posisi Agustus 2026 yang mencapai US$146,5 miliar.
Meski mengalami penurunan, cadangan devisa tersebut masih setara dengan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor, sehingga masih memberikan bantalan untuk memenuhi kewajiban eksternal dan menghadapi tekanan pasar keuangan global.
Halaman Selanjutnya
Dari sisi eksternal, pergerakan indeks dolar AS atau DXY juga menjadi perhatian. Indeks tersebut sempat terkoreksi ke level 102,11 pada Kamis, 8 Oktober 2026. Namun, pelemahan itu belum menunjukkan perubahan tren yang kuat karena dolar AS masih didukung kekhawatiran inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.