pickleballvnz.com

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.970

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Mata uang Garuda melanjutkan pelemahan tajam yang ...

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Mata uang Garuda melanjutkan pelemahan tajam yang terjadi sehari sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan tipis 0,03% ke posisi Rp17.970/US$ atau semakin mendekati level psikologisnya di Rp18.000/US$.

Pelemahan tersebut melanjutkan pergerakan pada Senin (28/9/2026), ketika rupiah terdepresiasi 0,48% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.965/US$. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,209.

Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan DXY sebesar 0,22% pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS masih bergerak kuat di pasar global. Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dari sisi moneter, BI melakukan stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

BI kini mengurangi porsi intervensi melalui pasar spot karena transaksi tersebut dilakukan dengan menjual dolar secara langsung sehingga dapat mengurangi cadangan devisa. Porsi intervensi spot saat ini hanya sekitar 30% dari keseluruhan intervensi BI.

"Jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan. Intervensi ada di DNDF, NDF, dan spot," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).

Sebelumnya, intervensi BI lebih banyak dilakukan melalui pasar spot. Namun, pengembangan pasar DNDF dan NDF membuat kedua instrumen tersebut kini dinilai lebih efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah tanpa terlalu membebani cadangan devisa.

Kendati demikian, Destry mengakui tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan pasar keuangan. Terdapat persoalan fundamental dan struktural yang memerlukan koordinasi dengan pemerintah, terutama melalui Kementerian Keuangan dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Karena itu, stabilisasi rupiah perlu dibarengi dengan penguatan ekspor barang dan jasa serta peningkatan investasi. Langkah tersebut diperlukan untuk memperbesar pasokan valuta asing di dalam negeri.

BI bersama pemerintah juga terus membahas berbagai program untuk meningkatkan ekspor dan menarik investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan dari dolar AS.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]