pickleballvnz.com

Rumah Berantakan Bikin Pikiran Ikut Penuh? Ini Penjelasannya

Pernah merasa ingin istirahat setelah aktivitas seharian, tapi rumah berantakan? Padahal kita mungkin tidak sedang melakukan kegiatan berat. Namun, melihat barang yang belum sempat dibereskan ternyata bisa memb...

Pernah merasa ingin istirahat setelah aktivitas seharian, tapi rumah berantakan? Padahal kita mungkin tidak sedang melakukan kegiatan berat. Namun, melihat barang yang belum sempat dibereskan ternyata bisa membuat kepala ikut penuh. 

Penelitian dalam Journal of Environmental Psychology, melalui “Home clutter and mental well-being…” (2025), menemukan bahwa clutter atau kekacauan di rumah berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Akan tetapi, bagaimana seseorang memandang rumahnya sendiri justru juga memengaruhi hal ini. Berikut penjelasan lebih lanjut dari jurnal karya Francis Quinn (2025). 

Rumah Berantakan Bukan Soal Estetika Semata

Rumah yang menurut satu orang biasa saja bisa terasa sangat mengganggu bagi orang lain. Karena itu, sebenarnya bukan semata-mata berapa banyak barang yang ada di rumah, tetapi bagaimana kondisi tersebut dirasakan oleh penghuninya. 

Artinya, ukuran “berantakan” tidak selalu sama bagi setiap orang. Sehingga berantakan belum tentu menjadi tolok ukur rumah yang terlihat kurang nyaman. Namun, mengapa kekacauan dan keramaian rumah bisa membuat pikiran terasa penuh?

1. Rumah seharusnya jadi tempat untuk memulihkan diri

Rumah biasanya diasosiasikan dengan tempat beristirahat dan merasa aman. Ketika ruang tersebut justru “ramai” atau tidak selesai dibereskan, pengalaman di rumah bisa menjadi kurang memulihkan.

Riset menemukan bahwa orang yang menggambarkan rumahnya lebih “stressful” berdasarkan clutter dan memiliki kesan tidak selesai menunjukkan pola peningkatan suasana hati yang tertekan sepanjang hari.

2. Banyak hal yang terlihat jadi pengingat pekerjaan yang “belum selesai”

Rumah yang berantakan dapat membuat kita terus melihat berbagai hal yang belum selesai. Misalnya, tumpukan pakaian jadi kepikiran nanti harus dilipat. Meja penuh, diingat “harus dibereskan”, piring kotor “belum dicuci”, sehingga pikiran menjadi penuh.

3. Rasa kehilangan juga bisa ikut berperan

Stres sendiri berkaitan dengan perasaan berada di bawah tekanan atau merasa kehilangan kendali atas sesuatu. Peneliti mencatat bahwa stres dapat membuat seseorang merasa overwhelmed, sulit mengambil keputusan, dan sulit berkonsentrasi. 

Ketika rumah terus terasa tidak terkendali, kondisi itu bisa menambah rasa kewalahan, terutama jika seseorang memang sedang menghadapi banyak tekanan lain.

Tapi rumah rapi bukan berarti pikiran pasti lebih sehat. Tidak ada standar rumah “sempurna” yang berlaku untuk semua orang. Rumah rapi tidak otomatis membuat seseorang bebas dari stres. Sebaliknya, rumah yang tidak terlalu rapi juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami masalah psikologis. 

Penelitian terbaru menunjukkan clutter dan well-being, tetapi peneliti juga menekankan perlunya penelitian eksperimental untuk memahami hubungan sebab-akibat yang lebih luas. 

Jadi, Apakah Rumah Berantakan Bisa Membuat Pikiran Ikut Penuh?

Bisa, tetapi tidak sesederhana “rumah berantakan menyebabkan stres”. Kondisi rumah dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengalami ruang tempat tinggalnya. Ketika rumah terasa penuh, tidak selesai, atau tidak nyaman, sebagian orang bisa merasa lebih sulit untuk benar-benar beristirahat. 

Sebaliknya, rumah tidak harus selalu rapi sempurna; yang terpenting adalah bagaimana rumah masih terasa sebagai tempat untuk pulang dan memulihkan diri.