Roket Falcon 9 Akan Menabrak Bulan pada 5 Agustus 2026
Roket seberat 4.000 kilogram milik SpaceX ini akan menabrak satu-satunya satelit alami Bumi kita. Kredit: The Brighter SideInfoAstronomy - Pada Januari 2025 silam, roket Falcon 9 meluncurkan dua wahana antariks...
![]() |
| Roket seberat 4.000 kilogram milik SpaceX ini akan menabrak satu-satunya satelit alami Bumi kita. Kredit: The Brighter Side |
InfoAstronomy - Pada Januari 2025 silam, roket Falcon 9 meluncurkan dua wahana antariksa nirawak menuju Bulan, yaitu Blue Ghost dan Hakuto-R. Setelah menyelesaikan tugasnya itu, bagian tingkat atas (upper stage) roket Falcon 9 tidak lagi digunakan dan berubah menjadi sampah antariksa.
Upper stage Falcon 9 dibiarkan begitu saja di luar angkasa. Hingga akhirnya saat ini, menurut astronom dan pelacak objek dekat Bumi Bill Gray, upper stage roket tersebut mulai terpengaruh gravitasi Bulan sehingga akan menabrak satu-satunya satelit alami milik planet Bumi kita itu.
Berdasarkan perhitungan terbaru, upper stage Falcon 9 diperkirakan akan menabrak Bulan pada 5 Agustus 2026 pukul 13:35 WIB. Untungnya, peristiwa ini tidak akan menimbulkan bahaya bagi Bumi, tetapi menjadi pengingat bahwa benda-benda sisa misi antariksa harus lebih diperhatikan oleh manusia agar tidak membahayakan siapa pun, atau apa pun.
Tabrakan yang Menarik Perhatian Ilmuwan
Pada 27 Juli 2026, tim peneliti dari The University of Texas at Austin mengunggah makalah di arXiv yang memodelkan apa yang akan terjadi saat roket menghantam permukaan Bulan.
Dipimpin oleh William Jo, penelitian tersebut memperkirakan bahwa tabrakan akan menghasilkan semburan material Bulan yang sangat besar. Kolom material yang terlontar ke atas diperkirakan dapat mencapai ketinggian 75 hingga 100 kilometer, sementara semburan berbentuk tirai akan mencapai sekitar 15 hingga 20 kilometer. Material itu juga diperkirakan menyebar hingga sekitar 183 kilometer di sekitar lokasi tumbukan.
Menurut hasil simulasi, semburan debu tersebut akan jauh lebih terang daripada latar belakang langit selama beberapa menit pertama setelah tabrakan terjadi sehingga berpeluang diamati menggunakan teleskop pada lokasi yang tepat di Bumi.
![]() |
| Ilustrasi dari simulasi saat upper stage Falcon 9 menabrak Bulan. Kredit: William Jo/ UT Austin |
Para peneliti menilai peristiwa ini sangat berharga karena jarang sekali ilmuwan dapat mengamati tabrakan benda buatan manusia di Bulan secara langsung. Sebagian besar model tabrakan selama ini didasarkan pada asteroid atau komet, padahal stage roket memiliki struktur yang sebagian besar berongga sehingga diperkirakan menghasilkan pola lontaran material yang berbeda.
Karena itu, pengamatan terhadap tabrakan ini dapat membantu meningkatkan akurasi model tabrakan yang akan digunakan dalam berbagai misi Bulan pada masa depan.
Apakah Tumbukan Bisa Diamati?
Saat tabrakan terjadi, Bulan akan menuju fase separuh akhir sehingga sebagian permukaannya masih diterangi Matahari. Lokasi tabrakan diperkirakan berada di dekat tepi piringan Bulan, tepatnya di sekitar Kawah Einstein, dekat wilayah kutub selatan Bulan.
Posisi ini cukup menguntungkan karena material yang terlontar dapat terlihat dengan latar belakang langit yang gelap. Peneliti memperkirakan ada dua fenomena yang mungkin dapat diamati. Pertama, kilatan cahaya yang muncul saat tabrakan dan hanya berlangsung kurang dari satu detik. Dan kedua, awan debu Bulan yang bertahan selama beberapa menit hingga puluhan menit. Semburan debu inilah yang diperkirakan memberikan informasi ilmiah paling berharga.
Sayangnya, posisi kita di Indonesia tidak memungkinkan untuk melihat momen ketika Bulan ditabrak upper stage Falcon 9 karena ketika tabrakan terjadi Bulan yang hampir mencapai fase separuh awal itu sudah terbenam duluan di langit Indonesia pada sekitar pukul 10:30 WIB pada tanggal tabrakan. Jadi, lokasi terbaik untuk melihatnya adalah wilayah yang lebih barat dari Indonesia.
Membentuk Kawah Baru di Bulan
Makalah lain yang diterbitkan pada 17 Juli 2026 juga membahas dampak tabrakan tersebut. Upper stage Falcon 9 memiliki panjang sekitar 12 meter, diameter sekitar 4 meter, dan massa sekitar 4.000 kilogram. Karena sebagian besar strukturnya berongga, kawah yang terbentuk diperkirakan tidak sebesar jika Bulan dihantam asteroid padat.
![]() |
| Posisi jatuhnya upper stage Falcon 9 pada 5 Agustus 2026. Kredit: Bill Gray |
Meski begitu, tabrakan tetap diperkirakan akan membentuk kawah baru dengan diameter sekitar 20 hingga 30 meter. Selain itu, debu dan batuan Bulan akan terlontar hingga beberapa kilometer di atas permukaan.
Peristiwa ini menjadi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk mempelajari dinamika material yang terlontar akibat tumbukan sekaligus menguji model yang selama ini hanya didasarkan pada simulasi komputer.
Bill Gray memperkirakan upper stage Falcon 9 akan menghantam Bulan dengan kecepatan sekitar 2,43 kilometer per detik, atau sekitar 8.700 kilometer per jam. Karena Bulan hampir tidak memiliki atmosfer, tidak ada gaya hambat udara yang dapat memperlambat laju roket sebelum menabrak permukaan.
Mengapa Bisa Menabrak Bulan?
Biasanya, upper stage Falcon 9 tetap berada di orbit Bumi setelah menyelesaikan misinya, lalu akhirnya memasuki atmosfer dan terbakar. Namun, beberapa misi yang menuju Bulan atau ruang antariksa lebih jauh bikin upper stage roket ini berada pada orbit yang sangat tinggi, bahkan mendekati orbit Bulan.
Selama lebih dari setahun terakhir, Bill Gray terus melacak lintasan roket ini. Sejak September 2025, ia sudah mengetahui bahwa kemungkinan tabrakan dengan Bulan cukup besar. Namun, ia memilih menunggu hingga posisi tabrakan dapat dipastikan sebelum mengumumkannya.
Lintasan benda seperti ini juga tidak sepenuhnya tetap. Tekanan sangat kecil dari cahaya Matahari dapat mengubah orbitnya sedikit demi sedikit. Ketika roket berputar, luas permukaan yang terkena sinar Matahari terus berubah sehingga dorongan kecil tersebut sulit diprediksi secara tepat.
Tumbukan Falcon 9 tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi dan seluruh kehidupannya. Bagi para astronom, peristiwa semacam ini merupakan eksperimen ilmiah yang sangat langka. Jika kilatan dan semburan debunya berhasil diamati dari Bumi maupun oleh wahana antariksa di orbit Bulan, para ilmuwan akan memperoleh data berharga untuk menguji model tabrakan, memahami perilaku debu Bulan, dan meningkatkan perencanaan misi-misi yang akan mendarat di Bulan pada masa mendatang.
Sumber & Referensi:
- Fernando, B., Heldmann, J., Gray, B., ... & Chanover, N. J. (2026). Observational planning for the 2026 August 5 Falcon 9 upper stage lunar impact. arXiv.
- Jo, W., Goldstein, D. B., Varghese, P. L., Trafton, L. M., Steckloff, J. K., & Mahieux, A. (2026). Predicted ejecta dynamics and observability of the 2026 Falcon 9 upper stage lunar impact. arXiv.
- National Aeronautics and Space Administration. (2023). Lunar Reconnaissance Orbiter. NASA.
- National Aeronautics and Space Administration. (2023). Moon. NASA Solar System Exploration.
- European Space Agency. (2025). Space debris by the numbers. ESA Space Safety Programme.
- National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2022). Origins, worlds, and life: A decadal strategy for planetary science and astrobiology 2023–2032. National Academies Press.
- Metzger, P. T., Lane, J. E., Immer, C. D., & Clements, S. (2020). Cratering and ejecta from spacecraft impacts on the Moon: Implications for future lunar missions. Dalam Planetary Science Journal dan literatur terkait mengenai dinamika regolit Bulan.
- SpaceX. (2025). Falcon 9. SpaceX.


