pickleballvnz.com

Ribut-ribut di Keraton Solo Berlanjut Saat Sekaten

Surakarta - Dualisme kepemimpinan yang mengakibatkan keributan yang berlarut-larut berlanjut. Kali ini, kedua kubu adu mulut saat Gamelan Kyai Sekati dikeluarkan dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo untuk...

Surakarta -

Dualisme kepemimpinan yang mengakibatkan keributan yang berlarut-larut berlanjut. Kali ini, kedua kubu adu mulut saat Gamelan Kyai Sekati dikeluarkan dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo untuk menyambut Maulid Nabi yang juga diiringi acara Sekaten.

Peristiwa adu mulut itu viral dan salah satunya diunggah akun @seputar_surakarta. Dalam video itu tampak sejumlah pria berbaju batik terlibat adu mulut. Di video lainnya, terlihat Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay hendak masuk ke Bangsal Pagongan namun terhalang.

Rumbay enggan banyak bicara soal peristiwa itu. Dia menyebut tidak ingin ada keramaian terkait kejadian tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nggak usah, saya nggak mau ramai," kata Rumbay kepada awak media di Masjid Agung, Rabu (19/8/2026), dikutip dari detikJateng.

Dia mengatakan gamelan itu diambil dari keraton tanpa seizin Paku Buwono XIV Purbaya sebagai raja.

"Yang jelas mengambil gamelan tanpa seizin Sinuhun (PB XIV Purbaya) itu aja," kata dia.

Rumbay kemudian menjelaskan saat kejadian tersebut dia sempat terjatuh.

"Iya (sempat jatuh) udah ya," kata Rumbay kemudian berlalu.

Terpisah, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, mengaku sempat melerai kedua kubu yang berseteru itu. Dia menyebut gamelan sekati sudah mendapat izin PB XIV Mangkubumi selaku raja menurut versi mereka.

"Lha kami seluruh rangkaian acara sekaten kita selenggarakan bersama-sama Sinuhun (PB XIV Mangkubumi) juga instansi terkait," kata dia.

Dia mengatakan awalnya, PB XIV Mangkubumi hendak datang, tetapi tidak jadi.

"Tadi Sinuhun mau hadir sebenarnya. Nanti cari waktu yang pas," ujar dia.

Ya, pada Rabu (19/8) Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dikeluarkan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil melewati alun-alun utara dan masuk ke Masjid Agung. Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin proses tersebut.

"Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti," katanya ditemui awak media di Sasana Handrawina, Rabu (19/8).

Gusti Moeng menjelaskan gamelan-gamelan tersebut dikeluarkan dalam rangka sekaten atau menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Gamelan itu ditabuh mulai kemarin hingga puncak Maulid Nabi.

"Dalam rangka Sekaten, nggih. Nanti mulai ditabuhkan jam setengah 2 siang (pukul 13.30 WIB). Terus kalau besok (hari ini, Red) itu hanya sampai jam 3 sore (pukul 15.00 WIB) karena kan malam Jumat. Kalau setelah Ashar itu, kalau Kamis malam, malam Jumat itu prei (libur), dan kalau nanti apa, Jumat itu habis Jumatan baru ditabuh," ujar dia.

"Dalam rangka Sekaten memperingati hari kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang itu sudah sejak apa nggih, sejak Demak sudah ada itu. Nah kalau gamelan yang Demak itu malah ada di Cirebon, di Kanoman Cirebon, nggih," kata dia lagi.

(fem/fem)