RI Impor LPG 8 Juta Ton, Bahlil: Banyak Sekali Devisa Kita Keluar
Karawang, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indones...
Karawang, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indonesia kini diperkirakan mencapai 7-8 juta ton per tahun.
Besarnya angka impor LPG ini dikarenakan produksi LPG dari kilang dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun, sementara kebutuhan LPG nasional mencapai 11-12 juta ton per tahun. Konsumsi LPG nasional ini terdiri dari LPG untuk rumah tangga baik tabung 3 kilo gram (kg), 5,5 kg maupun 12 kg sebesar 8,5 juta ton, hingga konsumsi industri besar seperti Lotte Chemical dan Chandra Asri di Cilegon, Banten.
"Dan total subsidi untuk LPG yang dipakai oleh konsumsi masyarakat di saat ICP-nya masih di US$ 70 per barel itu subsidi kita mencapai Rp 87 triliun. Tapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka US$ 90-100 (per barel), itu subsidi kita di atas hampir Rp 100 triliun. Ini devisa kita banyak sekali yang keluar dan kemudian kita subsidi kepada rakyat yang begitu besar," papar Bahlil dalam acara peresmian Kilang LPG di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
"Tidak ada cara lain Bapak Ibu semua adalah bagaimana kita mengoptimalkan seluruh potensi yang ada di negara kita," ujarnya.
Dia menyebut, 30% gas yang diproduksi di dalam negeri diekspor. Namun, Indonesia masih belum mengimpor gas bumi.
Tapi mengapa Indonesia masih mengimpor LPG? Dia menjelaskan, ini dikarenakan jenis gas yang dibutuhkan untuk LPG berbeda dengan jenis gas alam, termasuk LNG, yang cukup besar di Tanah Air.
"Tetapi LNG itu bahan bakunya itu C1-C2 di mana C1-C2 ini tidak cocok dipakai untuk LPG. Nah karena itu, saya mengapresiasi kerja sama Pertamina dan PT Energi Nusantara Perkasa yang bisa memberikan kontribusi terbaiknya kepada Ibu Pertiwi dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri," ungkap Bahlil saat meresmikan Kilang LPG yang dikelola PT Energi Nusantara Perkasa ini.
Dia menyebut, kebutuhan LPG warga Jakarta dan Jawa Barat mencapai 1.000-1.500 ton per hari. Dengan kapasitas produksi Kilang LPG Cilamaya ini sebesar 160 ton per hari, maka artinya Kilang LPG Cilamaya ini mampu memasok 10-12% kebutuhan LPG warga Jakarta-Jawa Barat.
"Ini kontribusi besar, kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar. Kecil nggak apa-apa, tapi kalau ada beberapa titik yang seperti ini dikumpulkan, besar juga, karena memang spot-spot bahan baku kita tidak semuanya merata. Dan ini terus yang akan kita galakkan Bapak Ibu semua," ucapnya.
Untuk menekan impor LPG, pemerintah juga mendorong pengembangan gas terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG).
"Dan ke depan Lemigas dan Dirjen Migas saya lagi meminta mereka untuk membuat energi alternatif selain LPG yaitu CNG," ujarnya.
"CNG ini sebenarnya sudah dipakai karena itu kan bagian sebenarnya hampir sama dengan jargas. Di beberapa restoran, hotel itu sudah memakai CNG dan harganya lebih murah 30-40%. Dan itu memakai gasnya C1-C2 dan itu melimpah di negara kita. Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor," jelasnya.
Dia menyebut, pihaknya pun lagi menguji CNG tabung 3 kg.
"Namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Tapi kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai. Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton per tahun itu kita bisa selesaikan dengan kebutuhan yang ada di dalam negeri kita," tandasnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]