Rektor Unsoed tekankan kolaborasi global hadapi tantangan hukum dan AI
Semoga forum ini memberikan kontribusi bermakna dalam menyelesaikan persoalan kompleks di bidang hukum, pemerintahan, dan keadilan sosial, baik pada tingkat nasional maupun globalPurwokerto (ANTARA) - Pelaksana...
Semoga forum ini memberikan kontribusi bermakna dalam menyelesaikan persoalan kompleks di bidang hukum, pemerintahan, dan keadilan sosial, baik pada tingkat nasional maupun global
Purwokerto (ANTARA) - Pelaksana Tugas Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Ali Rokhman menekankan pentingnya kolaborasi global untuk menghadapi berbagai tantangan di bidang hukum, pemerintahan, dan akal imitasi (artificial intelligence/AI).
"Unsoed terus mengembangkan kerja sama internasional melalui konferensi akademik yang mempertemukan akademisi dari berbagai negara," katanya dalam pembukaan The 4th International Conference on Law, Governance and Social Justice (ICOLGAS) 2026 di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan Unsoed telah menjalin kerja sama dengan sekitar 50 institusi internasional di lebih dari 20 negara melalui berbagai program, termasuk kelas internasional, program belajar di luar negeri, serta penelitian dan pengajaran bersama.
Baca juga: FH Unsoed: ICOLGAS 2026 soroti dampak hukum perkembangan akal imitasi
Menurut dia kerja sama tersebut dikembangkan untuk memperkuat ekosistem akademik internasional, termasuk melalui kegiatan pengajaran, penelitian, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi mitra.
Terkait dengan hal itu, ia mengharapkan ICOLGAS yang telah memasuki edisi keempat dapat menjadi wadah pertukaran gagasan yang kritis dan konstruktif dalam membahas persoalan hukum, pemerintahan, dan keadilan sosial.
"Semoga forum ini memberikan kontribusi bermakna dalam menyelesaikan persoalan kompleks di bidang hukum, pemerintahan, dan keadilan sosial, baik pada tingkat nasional maupun global," kata Prof Ali.
Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Unsoed Prof Riris Ardhanariswari mengatakan internasionalisasi membuka ruang bagi akademisi dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan, perspektif, dan pengalaman.
Ia mengatakan ICOLGAS keempat mengangkat tema Governing the Future to Global Wisdom, Law, AI, and Community in the Developmental Baseline for the Sustainable Development Goals.
Menurut dia, perkembangan AI menawarkan peluang untuk meningkatkan pelayanan publik, memperluas akses, mendukung pengelolaan lingkungan, dan membantu proses pemerintahan.
Akan tetapi, kata dia, teknologi tersebut juga memunculkan persoalan terkait hak, akuntabilitas, transparansi, kesenjangan, dan hak asasi manusia.
Baca juga: Kemdiktisaintek tetapkan Ali Rokhman sebagai Plt Rektor Unsoed
"Karena itu, kita bukan memilih antara teknologi atau tradisi, tetapi memahami bagaimana keduanya dapat digunakan secara bertanggung jawab, adil, dan berkelanjutan," ujarnya.
Dia mengatakan kearifan lokal tetap penting karena masyarakat memiliki pengetahuan turun-temurun dalam mengelola sumber daya alam, beradaptasi dengan lingkungan, dan memperkuat ketahanan sosial.
Prof Riris mengharapkan konferensi tersebut menghasilkan diskusi produktif, pertukaran gagasan, dan kolaborasi yang dapat berkembang untuk menjawab tantangan hukum dan tata kelola di masa depan.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Panitia ICOLGAS 2026 yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik FH Unsoed Prof Aryuni Yuliantiningsih mengatakan konferensi tersebut mengangkat empat subtema, yakni kebijakan hukum dan tata kelola untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan; ketahanan ekosistem dan adaptasi perubahan iklim; AI dan tata kelola dalam sistem lingkungan serta pengelolaan data digital; serta isu-isu hukum relevan lainnya.
Konferensi internasional yang digelar secara hibrida itu diikuti lebih dari 200 peserta dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, India, Australia, dan Jepang, dengan 120 makalah yang dipresentasikan.
Sejumlah pembicara dalam konferensi di antaranya Dr Petra Mahy dari The University of Melbourne, Assoc Prof Hazmi Rusli dari Universiti Sains Islam Malaysia, Prof Miyuki Tsuyuki dari Teikyo University Jepang, Prof Dr Tedi Sudrajat dari Unsoed, Dr Parulian Paidi Aritonang dari Universitas Indonesia, dan Prof Dr Maskun dari Universitas Hasanuddin.
Baca juga: Unsoed pastikan tata kelola kampus tetap berjalan di tengah kasus KPK
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.