Ratusan warga Muhammadiyah Barito Selatan shalat Istisqa memohon turun hujan
Ratusan warga Muhammadiyah di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, melaksanakan shalat Istisqa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar menurunkan hujan ANTARA News kalteng 1 ...
Ratusan warga Muhammadiyah Barito Selatan shalat Istisqa memohon turun hujan
Minggu, 30 Agustus 2026 14:39 WIB
Kegiatan shalat Istisqa yang dilaksanakan di halaman Perguruan Muhammadiyah Buntok, Minggu (30/8/20026). ANTARA/Bayu Ilmiawan
Buntok (ANTARA) - Ratusan warga Muhammadiyah di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, melaksanakan shalat Istisqa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar menurunkan hujan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan di wilayah setempat.
"Sudah berapa hektare lahan yang terbakar dan sejumlah wilayah yang tertutup kabut asap, hingga matahari pucat kemerahan pada siang hari," kata imam sekaligus khatib shalat Istisqa, Ustadz Azis di Buntok, Minggu.
Shalat Istisqa yang diinisiasi unsur Pemuda Muhammadiyah Barito Selatan yang diketuai Fajar Putra Wijaya tersebut dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB di lapangan perguruan Muhammadiyah Buntok. Setelah melaksanakan shalat Istisqa dua rakaat dilanjutkan khutbah dan doa bersama.
Dalam khutbahnya, ustadz Azis mengatakan, sudah dalam beberapa hari langit di wilayah Barito Selatan tidak menurunkan cukup hujan. Karhutla sudah membawa dampak buruk terhadap sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lainnya.
Anak-anak batuk menahan sesak di dada, dan orangtua yang memiliki riwayat sesak napas haris sering berobat ke pelayanan kesehatan, sedangkan petani menatap sawah dan ladang yang terancam gagal panen.
"Udara yang seharusnya menjadi nikmat paling sederhana dari Allah, kini berubah menjadi sesuatu yang kita waspadai setiap menariknya ke dalam paru-paru," ucapnya.
Baca juga: Polres Barito Selatan ungkap kasus pembakaran lahan di Desa Pamangka
Ia mengatakan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Ar-Rum ayat 41 berfirman, telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, maka Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.
"Lahan yang dibakar untuk dibuka dan dijadikan sebagai kebun secara instan dan juga hutan yang ditebang tanpa memikirkan generasi setelah kita merupakan kelalaian kita menjaga amanah alam yang dititipkan Allah kepada kita. Sebagai khalifah, kita mempunyai andil pada apa yang kita rasakan hari ini," jelasnya.
Menurut dia, kabut asap yang menyelimuti Barito Selatan saat ini bukan musibah alam yang kebetulan semat. Dia menyebut ini merupakan teguran dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
"Sebaik-baik sikap mukmin, ketika ditegur Rabb nya, bukanlah menyalahkan langit, akan tetapi menundukkan kepala dan bertanya kepada diri sendiri, dosa apa yang telah diperbuat, sehingga ditimpa kabut asap dan kekeringan seperti saat ini," kata dia.
Oleh karena itu, pada pagi ini semua berkumpul, bukan hanya menengadah tangan meminta hujan, tetapi juga menundukkan hati untuk beristighfar meminta ampunan dosa. Istighfar merupakan kunci yang telah Allah janjikan untuk membuka langit.
"Dengan shalat Istisqa dan memperbanyak istighfar, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan hujan yang deras, sehingga kabut asap hilang dan kemarau cepat berlalu," demikian Ustadz Azis.
Baca juga: DPRD Barito Selatan minta usut rumor jual beli jabatan
Baca juga: DPRD ingatkan APBD-P 2026 harus fokus tangani karhutla dan skala prioritas
Baca juga: Meriahkan HUT RI dan partai, Demokrat Barsel gelar lomba rakyat dan bagikan masker
Pewarta : Bayu Ilmiawan
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.