Ramai Laporan CIA Ungkap Israel Berpotensi Runtuh akibat Konflik Saudara
Berita International Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:...
Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:20 WIB
Israel, VIVA – Geger sebuah laporan dari CIA Agustus lalu menyebut Israel berisiko akan mengalami keruntuhan internal atau perang saudara akibat meningkatnya ketegangan di antara masyarakat. Dalam laporan yang disusun oleh para pakar CIA berjudul 'Fracture From Within' atau 'Perpecahan dari Dalam' risiko tersbut mungkin terjadi di tengah semakin meningkatnya perpecahan politik, ekonomi dan sosial hingga keterlibatan Israel dalam perang di berbagai front mulai dari Jalur Gaza hingga Iran.
Baca Juga
Terkait dengan perpecahan politik, disebutkan dalam laporan itu, Israel akan menghadapi sejumlah situasi yang penuh gejolak jelang pemilu 27 Oktober mendatang. Dalam laporan yang dirilis Senin lalu oleh Drop Site News, menyebutkan bahwa dalam pemilu tersebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mempertaruhkan masa depan politiknya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Para penulis laporan menilai salah satu isu politik yang paling memecah belah masyarakat Israel adalah kebijakan pengecualian wajib militer yang selama ini diberikan kepada warga Yahudi ultra-Ortodoks.
Baca Juga
Melansir laman Middle East Eye, Kamis (8/10/2026), perselisihan mengenai kebijakan tersebut telah memperlihatkan perpecahan mendalam di dalam koalisi sayap kanan Netanyahu. Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan apakah Netanyahu masih akan mendapat dukungan dari dua partai ultra-Ortodoks, yakni United Torah Judaism (UTJ) dan Shas. Keduanya merupakan sekutu Netanyahu yang paling dapat diandalkan sejak ia pertama kali menjabat sebagai perdana menteri pada 1996.
Ketika ratusan ribu tentara cadangan Israel telah dimobilisasi untuk perang di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran, pria ultra-Ortodoks secara historis dibebaskan dari wajib militer agar dapat menjalani studi agama penuh waktu di yeshiva.
Baca Juga
Kebijakan tersebut sudah lama menjadi sumber perdebatan. Namun, perang yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkatkan tekanan agar pengecualian wajib militer itu dihapuskan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Koalisi pemerintahan Netanyahu berulang kali gagal mengesahkan undang-undang yang mengatur wajib militer bagi warga ultra-Ortodoks. Kegagalan tersebut menyebabkan puluhan pemuda ditahan karena dituduh menghindari wajib militer. Kondisi itu juga memicu aksi protes besar yang mendapat dukungan dari UTJ dan Shas.
Laporan tersebut juga menyoroti keberadaan puluhan ribu veteran yang memiliki senjata dan kini berusaha kembali menjalani kehidupan sipil. Tentara cadangan Israel diperbolehkan menyimpan senjata di rumah, sementara membawa senapan serbu di tempat umum merupakan pemandangan yang umum di Israel.
Halaman Selanjutnya
Faktor lain yang berpotensi memicu ketidakstabilan di Israel adalah meningkatnya kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Selain itu, inflasi harga pangan serta meningkatnya biaya belanja militer juga disebut dapat memperburuk kondisi tersebut.