Putri Victoria puji kearifan Desa Adat Karang Bajo Bayan jaga alam
Putri Mahkota Swedia Victoria memuji kearifan masyarakat Desa Adat Karang Bajo Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam menjaga hutan, sumber mata air, dan warisan ANTARA News jogja 4 ...
Putri Victoria puji kearifan Desa Adat Karang Bajo Bayan jaga alam
Minggu, 6 September 2026 16:52 WIB
Putri Mahkota Swedia Victoria melihat kearifan lokal masyarakat dalam menjaga hutan, sumber mata air, dan warisan budaya saat meninjau Desa Adat Karang Bajo Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (6/9/2026). ANTARA/Pemprov NTB.
Lombok Utara, NTB (ANTARA) - Putri Mahkota Swedia Victoria memuji kearifan masyarakat Desa Adat Karang Bajo Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam menjaga hutan, sumber mata air, dan warisan budaya.
Dalam kunjungan sebagai duta UNDP (United Nations Development Programme) untuk Pembangunan Berkelanjutan, pada Minggu, Putri Mahkota Swedia Victoria melihat langsung kehidupan masyarakat adat serta cara mereka menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Putri Victoria meninjau kawasan Mata Air Mandala yang berada di kawasan hutan adat dan mengikuti penanaman pohon. Ia juga berdialog dengan masyarakat mengenai pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan antar-generasi.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Putri Victoria. Ia mengapresiasi masyarakat yang menjaga alam, sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal sebagai warisan bagi generasi mendatang.
"Apa yang bapak dan ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada. Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting," ujarnya saat sesi dialog bersama masyarakat setempat.
Dalam kunjungan ini Putri Victoria didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Bupati (Wabup) Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, dan rombongan UNDP.
"Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini. Terima kasih kepada bapak dan ibu yang telah menyambut saya dengan begitu hangat dan menerima saya sebagai bagian dari budaya masyarakat di sini," ujar Putri Victoria.
Bagi masyarakat Karang Bajo, pelestarian alam bukan sekadar agenda lingkungan. Hutan, mata air, dan tradisi merupakan bagian dari tata kehidupan yang saling berkaitan. Nilai tersebut dijaga melalui pranata adat dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemekel Karang Bajo Nikrana mengatakan masyarakat adat memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga. Prinsip itu tercermin dalam berbagai aturan, prosesi, dan tradisi yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
"Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Adat Bayan," katanya.
Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air. Sumber air tersebut menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat, termasuk untuk kebutuhan air bersih dan pertanian. Karena itu, menjaga hutan sekaligus berarti menjaga keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat.
Karang Bajo juga merupakan desa adat sekaligus desa wisata yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisi masyarakat Bayan. Potensi tersebut menjadikan Karang Bajo bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga ruang hidup tempat budaya, alam, dan masyarakat tumbuh secara berdampingan.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026