Prabowo apresiasi
Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi penurunan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan. Dalam rapat penanganan karhutla di ANTARA News jogja 19 ...
Prabowo apresiasi "hotspot" karhutla di Sumsel berkurang
Senin, 24 Agustus 2026 19:48 WIB
Presiden Prabowo Subianto (tengah) memimpin rapat terkait karhutla di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatanm Palembang, Senin (24/8/2026). Kunjungan kerja Presiden tersebut merupakan bagian dari peninjauan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera yang juga mencakup wilayah Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr
Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi penurunan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan.
Dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin, Presiden Prabowo mengatakan penurunan titik panas itu tidak terlepas dari kerja keras seluruh jajaran dalam menangani karhutla sejak awal tahun.
"Jadi, kita antisipatif titik-titik hotspot itu, alhamdulillah kalau berkurang ya. Saya kira juga akibat saudara-saudara bekerja keras sudah sejak awal tahun. Terima kasih," kata Prabowo dipantau secara daring di Jakarta, Senin.
Presiden Prabowo mengatakan pemerintah akan terus mengerahkan bantuan yang dibutuhkan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan optimal.
Menurut Prabowo, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi kemarau masih berlangsung.
Pada kesempatan itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melaporkan luas lahan yang masih terbakar di Sumatera Selatan saat ini sekitar 199 hektare.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan total luas lahan yang terdampak karhutla sejak Mei yang mencapai sekitar 1.900 hektare.
Mendengar laporan tersebut, Presiden Prabowo mengatakan lima helikopter water bombing yang saat ini tersedia cukup untuk membantu menuntaskan area yang masih terbakar.
"Jadi, hanya 200 hektare yang terbakar. Jadi, apa masih perlu tambahan helikopter kalau gitu?" kata Presiden.
Presiden Prabowo kemudian menghitung kemampuan lima helikopter yang masing-masing dapat melakukan sekitar 60 kali water bombing dalam sehari dengan kapasitas rata-rata empat ton air.
Dengan kemampuan tersebut, lima helikopter dapat menjatuhkan sekitar 1.200 ton air per hari.
"Seribu dua ratus ton. Hanya 200 hektare itu bisa tiga hari, bisa selesai itu. Jadi, tiga hari berturut-turut," ujar Presiden.
Atas dasar perhitungan tersebut, Prabowo meminta tambahan helikopter water bombing untuk sementara ditahan.
Namun, Prabowo mengingatkan jajaran agar tetap waspada karena titik api baru masih dapat muncul setiap hari.
Kepala Negara selanjutnya meminta jajaran TNI dan Polri memperkuat langkah pencegahan melalui patroli.
Presiden juga menanyakan kesiapan penggunaan drone untuk memantau titik panas dan titik api di wilayah Sumatera Selatan.
"Nanti tim-tim semua itu pencegahan ya. Pangdam, Kapolda, ya, patroli. Kita punya drone enggak di sini? Untuk patroli udara hotspot dan titik api?” ujar Presiden Prabowo.
Presiden juga mendorong upaya antisipasi jangka panjang dengan menambah embung dan kanal di kawasan gambut produktif.
Prabowo meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mengkaji pemanfaatan embung tersebut agar tidak hanya berfungsi sebagai cadangan air, tetapi juga dapat memberikan manfaat lain, seperti untuk budi daya ikan.
Pewarta : Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026