pickleballvnz.com

Petaka Baru Hantam Amerika, Negara Terancam Lumpuh Total

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjalar kian agresif ke ranah siber. Badan Pertahanan Siber Sipil AS (Cybersecurity and Infrastructure Security Agency/CISA) meng...

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjalar kian agresif ke ranah siber. Badan Pertahanan Siber Sipil AS (Cybersecurity and Infrastructure Security Agency/CISA) mengeluarkannya peringatan darurat bagi seluruh operator fasilitas air minum dan pengolahan limbah di AS untuk segera memutuskan sistem operasional mereka dari jaringan internet.

Langkah drastis ini diambil setelah gelombang serangan siber terkoordinasi bertubi-tubi mengincar infrastruktur vital negara tersebut.

Laporan terbaru dari Biro Investigasi Federal (FBI) mengonfirmasi bahwa perusahaan utilitas air di sedikitnya tujuh negara bagian AS telah menjadi korban penyerangan. Imbasnya, di beberapa titik, fasilitas operasional air mengalami penurunan kinerja hingga kelumpuhan fungsi.

"Pengoperasian air terganggu (degraded water operations) di beberapa lokasi akibat serangan ini," tegas FBI dalam pernyataan resminya, dikutip dari Reuters, Jumat (31/7/2026)

Pejabat dan tim penyidik AS menyebut dalang di balik peretasan masif ini mengarah kuat pada kelompok hacker yang terafiliasi dengan pemerintah Iran. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah badan TI Negara Bagian Minnesota melaporkan bahwa lebih dari 30 sistem air komunitas di wilayahnya dihantam serangan siber terencana pada 26-27 Juli lalu.

Sistem Komputer Dikunci, Pasokan Air Alami Kebocoran dan Banjir

Meski pejabat lokal memastikan kualitas dan keamanan air minum warga belum tercemar, dampak fisik dari peretasan ini sangat mengkhawatirkan.

CISA mengungkap peretas dalam beberapa kasus berhasil mengubah kata sandi sistem, mengunci akses operator, hingga memutuskan perangkat pengendali dari jaringan utama. Akibatnya, sistem otomatis mati total dan petugas terpaksa beralih ke mode operasional manual secara berkepanjangan.

Bahkan, dokumen laporan korban ke FBI menunjukkan dampak operasional yang lebih parah di sejumlah area, mulai dari penurunan tekanan air secara drastis hingga insiden banjir.

Penyelidikan mendapati sasaran utama peretas adalah perangkat Programmable Logic Controllers (PLC)-sistem komputer yang digunakan operator untuk mengendalikan dan memantau peralatan air secara jarak jauh.

Eskalasi Perang AS-Iran Berpindah ke Ranah Siber

Mantan Pejabat Senior Keamanan Siber FBI, Cynthia Kaiser, menilai penyerangan infrastruktur di Minnesota merupakan kelanjutan dan bentuk eskalasi dari kampanye siber Iran yang sebelumnya sudah dipetakan oleh Intelijen AS (FBI, CISA, dan NSA).

"Fakta bahwa pemerintah merilis peringatan baru mengindikasikan adanya perluasan area serangan, detail teknis baru, atau pembaruan aktivitas peretasan-dan kemungkinan besar kombinasi dari semuanya," ungkap Kaiser yang kini menjadi eksekutif di firma keamanan siber Halcyon.

Konflik siber ini berhembus kian kencang di tengah perang fisik antara AS dan Iran yang terus memanas, di mana kedua negara saling menghujani serangan rudal dan melempar ancaman penghancuran.

Aktivitas peretasan yang menyasar infrastruktur vital AS sejatinya bukan hal baru. Sebelum fasilitas air diserang, kelompok peretas yang dikaitkan dengan Teheran juga telah sukses membobol raksasa layanan medis AS, Stryker, hingga Otoritas Transportasi Metropolitan Los Angeles pada Maret lalu.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]