pickleballvnz.com

Personel Daft Punk Thomas Bangalter Tegas Menolak AI dalam Proses Kreatif Musik

Thomas Bangalter yang dikenal sebagai sosok di balik duo Daft Punk, secara tegas menolak penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses pembuatan karya musik.

Bagikan:

JAKARTA - Thomas Bangalter yang dikenal sebagai sosok di balik duo Daft Punk, secara tegas menolak penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses pembuatan karya musik.

Pria yang selama puluhan tahun tampil di panggung dengan helm dan kostum robot tersebut menilai bahwa AI hanyalah sebuah jalur pintas yang merusak esensi serta eksplorasi intuitif dari proses kreatif seorang musisi.

Musisi 51 tahun itu berpandangan, fokus utama teknologi AI saat ini terdistorsi hanya pada hasil akhir, bukan pada pengalaman emosional yang dialami pencipta saat berkarya.

"AI benar-benar berfokus pada hasil saat ini. Semuanya hanya tentang output. Sementara itu, proses kreatif saya sama sekali bukan tentang hasil akhir," kata Bangalter, dikutip NME, Minggu, 9 Agustus.

Lebih lanjut, Bangalter menjelaskan, penggunaan bantuan AI memotong proses panjang yang seharusnya dilalui seorang seniman dalam menemukan karakter suara yang baru dan unik.

Bagi seorang musisi, petualangan rasa dan eksperimen saat menciptakan lagu merupakan fase yang paling berharga.

"Hasil akhir itu sebenarnya adalah keseluruhan perjalanan untuk mempertahankan proses tersebut secara spontan, intuitif, dan naluriah. Justru proses kreatif itulah yang menurut saya paling menarik. Mengapa saya harus melewati momen yang sangat saya cintai?" tuturnya.

Pandangan kritis Bangalter menambah panjang deretan musisi dunia yang menentang ekspansi AI di industri musik. Sebelumnya, Jack Antonoff mengecam keras pencipta musik berbasis AI, sedangkan SZA melayangkan kritik setelah mendapati lebih dari 200 karyanya digunakan tanpa izin untuk melatih perangkat lunak AI.

Pentolan Smashing Pumpkins, Billy Corgan, bahkan menggambarkan penggunaan AI dalam penulisan lagu sebagai bentuk "kesepakatan dengan iblis.

"Selain itu, musisi kenamaan seperti Damon Albarn, Kate Bush, dan Annie Lennox bersama lebih dari 1.000 seniman merilis album tanpa suara bertajuk “Is This What We Want?” sebagai bentuk protes kolektif.

Ancaman dominasi mesin di industri musik memang kian nyata.

Platform streaming Deezer mengungkap bahwa materi musik buatan AI kini telah melampaui 50 persen dari total unggahan harian mereka—momen pertama dalam sejarah di mana jumlah musik buatan mesin mengalahkan karya manusia.

Untuk membendung tren tersebut, layanan seperti Spotify dan TIDAL mulai mengambil tindakan tegas dengan menghapus jutaan lagu serta menghentikan pembayaran royalti pada trek yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI.

BACA JUGA:


Di ranah hukum, keabsahan penggunaan materi berhak cipta oleh AI pun mulai ditindak.

Perusahaan pembuat generator musik AI, Suno, baru-baru ini dinyatakan kalah dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang diajukan oleh lembaga lisensi musik Jerman, GEMA.

Putusan pengadilan mewajibkan Suno membayar ganti rugi dan mengharuskan perusahaan AI membayar lisensi resmi jika ingin menggunakan katalog musik yang diwakili GEMA.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+